Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, NEW YORK- Presiden Donald Trump menyampaikan pidato di Mar-a-Lago, Sabtu pada 3 Januari 2026, mengumumkan pengambilalihan sementara Venezuela oleh AS usai penangkapan Nicolas Maduro. Beberapa kutipan langsung dari pidato tersebut telah dilaporkan oleh berbagai media.
Trump menyatakan: “Kami akan mengelola ini hingga kami melakukan transisi yang aman, tepat, dan bijaksana. Kami tidak bisa mengambil risiko jika ada pihak yang mengambil alih tanpa memikirkan kebaikan rakyatnya.”
“We’re going to have our very large… United States of America… will make the people of Venezuela rich, independent, and safe.” (Kami akan menjadi negara besar…Amerika Serikat.., akan akan membuat warga Zeneuela kaya, merdeka dan aman).
Trump mengakui ada sejumlah korban dalam aksi penangkapan Maduro. “Beberapa orang tertembak, tetapi mereka kembali dan terlihat dalam kondisi yang sangat baik. Ada satu yang tertembak cukup parah, sebuah helikopter, tetapi kami berhasil memulangkannya.”
Trump menekankan bahwa AS akan menjalankan negara (memerintah) tersebut hingga transisi yang aman dan bijaksana dilakukan. Dan akan mengerahkan perusahaan untuk mengelola minyak disana.
Trump mengklaim operasi tersebut melibatkan kekuatan militer AS untuk mencegah kekosongan kekuasaan yang bisa dimanfaatkan pihak lain. Ia menunjuk pejabat seperti Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth untuk mengelola transisi. Trump juga menyatakan keterbukaan untuk mengerahkan pasukan AS di lapangan jika diperlukan.
Isu Minyak
Trump secara eksplisit menyebut bahwa AS akan mengganti biaya pendudukan melalui cadangan minyak Venezuela, yang menjadi fokus berulang dalam pidatonya.
Ia menegaskan bahwa pendudukan ini tidak akan merugikan AS secara finansial karena pendapatan dari minyak akan menutupinya. Pernyataan ini memicu sorotan internasional terkait motif ekonomi.
Pidato Trump menggemakan pendekatan masa lalu AS di Irak dan Afghanistan, dengan risiko pendudukan jangka panjang. Beberapa laporan menyebutkan kontak dengan Wakil Presiden Venezuela Delcy Rodriguez untuk koordinasi transisi. Situasi ini masih berkembang dan memicu kecaman dari berbagai pihak.**






