Penulis: Yusran Hakim | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, JAKARTA- Peristiwa pembunuhan kepala cabang pembantu (KCP) BRI Cempaka Putih, Jakarta, Mohamad Ilham Pradipta, berawal dari pertemuan C alias Ken dengan Dwi Hartono di Hotel Fairmont Jakarta berlangsung sekitar satu hingga dua bulan sebelum penangkapan mereka.
Ken mengakui bahwa saat pertemuan itu, dia memakai wig karena, kepalanya botak. Keduanya sempat makan dan berdiskusi di restoran House of Yuen yang ada di hotel tersebut.
Ken sendiri mengaku wig yang ditemukan polisi saat penggeledahan di rumahnya memang sering dipakai saat bertemu dengan orang lain untuk menyamarkan kebotakannya.
Menurut pengakuan C alias Ken, detail pertemuan di Hotel Fairmont adalah bahwa ia dan Dwi Hartono bertemu sekitar satu hingga dua bulan sebelum mereka ditangkap. Pertemuan itu berlangsung di restoran House of Yuen yang ada di hotel tersebut.
Menurut informasi yang ditemukan, pihak kepolisian menyebutkan bahwa Dwi Hartono diduga membayar sekitar Rp 45 juta terkait kasus penculikan Kepala Cabang Pembantu (KCP) BRI Cempaka Putih Mohamad Ilham Pradipta.
Ken mengaku mengenakan wig saat pertemuan karena alasan kebotakan, dan wig tersebut memang sering dipakai olehnya untuk menyamarkan identitas saat bertemu orang-orang lain.
Dalam pertemuan itu, keduanya berdiskusi dan makan bersama, meskipun detail isi pembicaraan tidak dijelaskan secara rinci dalam pengakuannya.
Ken juga menyatakan bahwa dia kooperatif dengan polisi saat penangkapan, dan dokumen terkait kasus disimpan dalam ponselnya, bukan dalam bentuk fisik.
C alias Ken bekerja bersama total 15 orang yang telah diamankan polisi terkait kasus penculikan dan pembunuhan Mohamad Ilham Pradipta. Dari jumlah tersebut, 4 orang termasuk Ken merupakan otak pelaku atau aktor intelektual di balik kejahatan ini.
Selain itu, terdapat 4 tersangka yang berperan sebagai pelaku penculikan, sementara yang lainnya berperan sebagai eksekutor dan pengintai dalam kelompok tersebut. Jadi, Ken bekerja dalam sebuah kelompok yang tersusun dari beberapa kluster, melibatkan sedikitnya 15 orang yang terlibat dalam pelaksanaan tindak kejahatan itu.
Pada Rabu, 20 Agustus 2025, Ilham Pradipta menjalani aktivitas rutin sebagai Kepala Kantor Cabang Pembantu (KCP) Bank di Jakarta Pusat.
Setelah selesai mengikuti meeting di kantor dan bersama rekan-rekan kantornya, Ilham menuju tempat parkir supermarket di Pasar Rebo, Jakarta Timur.
Saat hendak masuk ke mobil hitamnya, Ia disergap oleh dua orang tak dikenal yang keluar dari mobil putih yang terparkir di sebelah mobilnya. Meskipun sempat melawan, Ilham dipaksa masuk ke dalam mobil tersebut dan diculik.
Keesokan paginya, Kamis, 21 Agustus 2025 pukul 05.30 WIB, jasad Ilham ditemukan dalam kondisi mengenaskan di semak-semak Kampung Karang Sambung, Desa Nagasari, Serang Baru, Kabupaten Bekasi.
Tangan dan kakinya terikat lakban, serta matanya juga ditutup lakban. Ditemukan beberapa luka di bagian dada dan leher yang diduga akibat hantaman benda tumpul yang menjadi penyebab kematiannya.
Polisi bergerak cepat dan menangkap empat pelaku penculikan di Jakarta dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Kemudian, kembali menangkap empat orang yang diduga sebagai otak pelaku, termasuk C alias Ken dan Dwi Hartono.
Motif kasus ini masih dalam penyelidikan polisi, tetapi ada indikasi adanya kejahatan terorganisir dengan rencana matang. Penyelidikan terus berlanjut untuk membongkar dan menangkap semua pelaku serta mengungkap motif sebenarnya di balik penculikan dan pembunuhan ini. **