Penulis: Jacobus E. Pato | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, AMERIKA- AI modern memang bergantung pada silikon sebagai fondasi utama chip-nya, dan saat ini Nvidia mendominasi pasar chip pelatihan AI secara global, dengan nilai fiskal 2025 sebesar Rp 2.202 triliun (bandingkan dengan APBN RI 2026 Rp 3.153 tiliun).
Nvidia menguasai sekitar 80-92% pasar chip AI training, didukung ekosistem CUDA dan investasi besar seperti $100 miliar di OpenAI.
Pada 2026, proyeksi pendapatan Nvidia tumbuh 60%, dengan peluncuran platform Rubin untuk generasi AI berikutnya. Analis menobatkan Nvidia sebagai pick utama AI tahun 2026.
Nilai $130,5 miliar USD setara dengan sekitar Rp 2.202 triliun, menggunakan kurs terkini 1 USD = Rp 16.875 per 16 Januari 2026. Nilai ini bisa berfluktuasi sedikit karena kurs Januari 2026 berkisar Rp 16.675 hingga Rp 16.909.
AMD muncul sebagai penantang kuat meski pangsa pasarnya masih jauh tertinggal, sementara ARM menguasai arsitektur di miliaran perangkat mobile dan edge. Huawei melalui chip Ascend terus mengejar kemandirian teknologi China di tengah sanksi AS.
AMD menguasai 8-14% pasar AI chip, dengan CEO Lisa Su mengklaim chip MI350 setara performa Nvidia tapi lebih efisien. Meski demikian, pendapatan AI AMD masih jauh di belakang Nvidia yang tumbuh 400% YoY. AMD terus agresif dengan pengiriman chip baru untuk merebut pangsa pasar.
ARM mendominasi arsitektur di smartphone, wearables, dan diproyeksi capai 50% pasar data center hyperscaler pada 2026 berkat efisiensi daya. Chip seperti Cortex C1-Ultra tingkatkan performa AI hingga 5x untuk mobile AI. ARM juga ekspansi ke PC, potensial 30% pangsa pasar.
Huawei tingkatkan yield produksi chip Ascend 910C hingga 40%, target 600.000 unit pada 2026 menggunakan proses 7nm SMIC. Performa Ascend 910C capai 60% Nvidia H100 di inference, didukung pemerintah China untuk kurangi ketergantungan Nvidia. Ini bagian dari dorongan kemandirian semikonduktor China. **






