Penulis: Arief Hendro Soesatyo | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, JOMBANG- Di tengah hiruk-pikuk Jombang yang kental dengan aroma sawah dan semangat gotong royong, Jumat 3 April 2026, menjadi hari istimewa bagi ratusan anak desa.
Kunjungan kerja Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Choiri Fauzi (atau Arifah Fauzi), bukan sekadar agenda resmi—ia seperti hembusan angin segar yang membangkitkan cita-cita anak-anak untuk masa depan cerah.
Didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Agus Purnomo, Menteri langsung menyambangi Sekolah Rakyat Terintegrasi 8 di Kecamatan Mojoagung, tempat pendidikan berbasis masyarakat sedang menorehkan sejarah.
Bayangkan ruang kelas sederhana dari bambu dan kayu, di mana anak-anak berusia 7-12 tahun tak lagi terbatas oleh dinding kemiskinan.
Mereka bernyanyi, belajar membaca, dan menggambar mimpi—semua didukung program inovatif Pemkab Jombang. “Pendidikan seperti ini adalah kunci membuka pintu harapan,” ujar Menteri sambil tersenyum melihat seorang gadis kecil memamerkan lukisan pelangi.
“Sekolah harus menjadi ruang yang aman dan mendukung bagi anak untuk belajar, berkembang, serta membangun karakter secara positif.”
“Saya berharap para siswa mampu memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Kami memberikan penghargaan setinggi-tingginya atas langkah strategis dalam mendorong pemberdayaan perempuan melalui sektor pendidikan.” Kata Arifah.
“Di sektor pendidikan, masih banyak kita menemukan anak perempuan yang harus putus sekolah karena perkawinan anak, karena keterbatasan ekonomi, dan juga norma sosial.”
Tak berhenti di situ, Menteri melanjutkan langkahnya ke Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Jombang—benteng terdepan melawan kekerasan.
Di sini, layanan berjalan mulus seperti mesin yang terlatih: pendampingan korban yang hangat, fasilitas antar-jemput gratis, hingga konseling psikologis yang humanis.
“Saya lihat langsung, tim di sini responsif dan penuh empati. Ini bukti Jombang serius lindungi perempuan dan anak,” puji Menteri setelah meninjau operasionalnya.
Pagi itu, Menteri menekankan senjata utama: kolaborasi lintas sektor dan sosialisasi masif. “Jangan ragu hubungi layanan SAPA 129 jika lihat kekerasan—setiap laporan adalah langkah selamatkan nyawa,” tegasnya kepada petugas dan warga yang hadir.
Harapannya jelas: sinergi pusat-daerah diperkuat agar Jombang jadi percontohan nasional, tempat anak-anak tak hanya belajar, tapi juga aman dari ancaman.
Kunjungan ini bukan akhir, melainkan babak baru. Di Jombang, pendidikan dan perlindungan anak kini bersatu, menjanjikan masa depan di mana setiap anak bisa bermimpi tanpa takut.**







