Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Internasional

Media Rusia Sebut George Soros Ikut Biayai Demo di Indonesia

badge-check


					Soros dituding bikin kisruh di 1998 Perbesar

Soros dituding bikin kisruh di 1998

Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, JAKARTA-Media afiliasi pemerintah Rusia, Sputnik, menduga protes yang berujung kerusuhan dan pembakaran gedung pemerintah di Indonesia sebagai aksi yang didanai oleh asing.

Sputnik, mengutip Analis Geopolitik Angelo Giuliano, menyoroti penggunaan simbol bendera bajak laut “One Piece” yang cukup masif sebelum demonstrasi memuncak.

Menurut Giuliano, simbol tersebut mengindikasikan adanya pengaruh eksternal, serupa dengan pola yang terlihat di negara lain.

Kerusuhan itu berdampak signifikan, hingga membatalkan rencana kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke China dalam rangka Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Shanghai Cooperation Organisation (SCO).

Giuliano menilai, meski aksi massa berangkat dari keresahan ekonomi yang nyata, penggunaan simbol dari anime Jepang tersebut bukanlah hal kebetulan.

Dalam “One Piece”, para bajak laut mengibarkan bendera hitam bertengkorak dengan topi jerami sebagai simbol perlawanan terhadap “tirani.”

Giuliano mengklaim ada dua aktor eksternal yang mungkin berperan, yakni National Endowment for Democracy (NED)—lembaga donor yang ikut mendanai media di Indonesia sejak 1990-an, serta Open Society Foundations milik George Soros.

“Hal ini berkaitan dengan fokus Indo-Pasifik belakangan ini terjadi,” kata Giuliano.

Penulis The China Trilogy sekaligus pendiri Seek Truth From Facts Foundation, Jeff J. Brown, juga menyampaikan klaim serupa.

Ia menilai pola yang terjadi di Indonesia mirip dengan situasi di Serbia. “G7 menginginkan diktator baru yang didukung AS, seperti Suharto di masa lalu,” ujar Brown.

Brown juga menilai Presiden Prabowo tidak sejalan dengan agenda Amerika Serikat (AS) dan Eropa, karena memperkuat kerja sama dengan China, Rusia, SCO, dan BRICS.

“Indonesia adalah negara Asia Tenggara pertama yang bergabung dengan BRICS dan secara terbuka bekerja sama dengan China dalam Inisiatif Belt and Road,” tambahnya.

Lebih jauh, Brown menekankan posisi strategis Indonesia di kancah global. Indonesia dianggap sebagai sasaran empuk karena memiliki perekonomian terbesar kedelapan di dunia berdasarkan, terbesar di ASEAN, dan berpenduduk hampir 300 juta jiwa.

“Dari sudut pandang negara imperialis, semua ini menjadikan Indonesia sebagai target besar yang sangat layak untuk diserang melalui revolusi berwarna yang direkayasa,” kata Brown.

Saat krisis moneter melanda, nama Soros ikut disebut sebagai spekulan yang memperparah anjloknya rupiah. Bahkan, PM Malaysia kala itu, Mahathir Mohamad, menuding Soros sebagai pemicu krisis Asia. Namun, Soros sendiri membantah dan menyatakan tidak melakukan operasi pasar di Indonesia saat itu. Kerusuhan Mei 1998 lebih banyak dipicu faktor politik domestik dan ketegangan sosial, bukan intervensi individu.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Kian Liar, AI Gemini Bobol 3 Perusahaan Nyata Saat Uji Coba Keamanan

21 September 2026 - 18:49 WIB

Setiap Ketukan “Prompt” AI Diam-Diam Menguras Listrik Jepang dan Air Afrika

20 September 2026 - 17:38 WIB

“Cium” Asisten Cantik di Lapangan Golf, Trump Gemparkan Netizen

17 September 2026 - 16:00 WIB

Raja Thailand Terbangkan Sendiri Pesawat Boeing 737 -800

15 September 2026 - 17:27 WIB

Resmi Mengaku, Amerika Serikat Kerahkan Senjata Ofensif Aktif di Orbit Bumi

15 September 2026 - 16:48 WIB

Mantan PM Inggris dan Delegasi Barat Nyaris Kena Serangan Drone Rusia

14 September 2026 - 18:51 WIB

Luana Lopes Lara, Mantan Balerina ke Miliarder Paling Tajir, Kalahkan Taylor Swift

6 September 2026 - 18:16 WIB

Google Lakukan Ribuan Perubahan Sistem Setiap Tahun, Siapa Diuntungkan?

3 September 2026 - 19:28 WIB

Bill Gates Peringatkan, AI Dapat Membuat Bencana Ekonomi

28 Agustus 2026 - 19:07 WIB

Trending di Internasional