Penulis: Satwiko Rumekso | Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS.COM. SURABAYA-Saat Perang Kemerdekaan mulai berkecamuk, hampir dimana-mana tempat, khususnya di Jawa terjadi pertempuran antara Pasukan Tentara kita dengan Pasukan Tentara Belanda dipinggiran kota di mana Tentara Belanda bermarkas, dan pertempuran antara Pasukan Gerilya yang timbul secara spontanitas dikalangan rakyat maupun masyarakat pemuda pelajar, yang tidak mau ketinggalan dalam mempertahankan kemerdekaan dan mengusir Belanda dari bumi Indonesia ini.
Demikian halnya, kisah pertempuran melawan Pasukan Tentara di desa Ngadirejo, yaitu satu desa yang letaknya sekitar 5 km sebelah utara kota Blitar, adalah bersifat pertempuran penghadangan yang dilakukan oleh Pasukan Pemuda Pelajar tergabung dalam TRIP (Tentara Republik Indonesia Pelajar), dengan maksud mengadakan penyerangan terhadap Pasukan Patroli Tentara Belanda yang biasa menggunakan route jalan aspal antara kota Blitar dengan Penataran, kecamatan Nglegok dalam rangka operasi pembersihan atau yang pada waktu itu lebih dikenal dengan istilah “penggerosokan”, di dukuh atau di desa-desa yang dianggap oleh Belanda sebagai Pos-pos gerilya.
Kisah pertempuran ini memang hanya satu hari, tetapi berdasarkan pengalaman maka kita bisa memahami, bahwa apa yang terjadi ini bukanlah secara kebetulan, atau tidak juga kejadian satu hari yang berdiri sendiri, tapi rupanya dari kedua belah sudah cukup alasan uptuk mengambil momen yang tepat bahwa bagaimanapun pertempuran harus terjadi.
Bagi Pasukan Tentara Belanda yang sering mondar-mandir dengan jalur Blitar — Penataran tentu semakin mengenal situasi di perdesaan yang dilalui dengan seringnya mendengar atau mengalami bunyi tembakan dari Pasukan TRIP yang pada waktu itu memang mendapat tugas pertahanan di sektor pertempuran Blitar utara yang meliputi kawasan desa Bangsri, Dayu, Ngoran, Salam dan sekitarnya.
Sebaliknya dari fihak Pasukan TRIP, dengan mempelajari situasi dan ulah Pasukan Tentara Belanda pada setiap kali mengadakan patroli, selalu menakut-nakuti penduduk desa yang tinggal dikanan kiri jalan besar dengan membuang tembakan sekedar ingin menunjukkan keberaniannya dan kelengkapan senjatanya, sebagai taktik untuk memenangkan strateginya.
Disamping belajar dari hasil pengamatan, maka oleh sementara penduduk kota Blitar sering kali datang ke desa-desa tempat Pos Pertahanan Pasukan TRIP itu, untuk menyampaikan informasi tentang keadaan di kota dan rencana tentara Belanda yang perlu diketahui oleh Pasukan TRIP demi keamanan dan keuntungan taktiknya.
Dengan demikian, maka setiap langkah dan tindakan dapat diperhitungkan setepat mungkin dan seefisien mungkin. Baik itu berupa tembakan pengacauan, apakah berupa pemindahan sementara Pos Pertahanan atau serangan penghadangan terhadap Pasukan yang berpatroli.
Dari daerah Sektor Pertempuran Blitar Utara, Pos yang terdekat dengan kota Blitar adalah dukuh Dayu yang jarak jauhnya tidak lebih dari 10 km sedangkan Bangsri dan Ngadirejo merupakan Pos sementara untuk melakukan serangan penghadangan Pasukan Patroli Belanda.
Dengan demikian, dapatlah dikatakan, bahwa Pos Dayu merupakan Pos Pertahanan terdepan atau Lini Pertama, dimana Kompi I dengan Pasukannya diserahi tanggung jawab keamanan didukuh Dayu dan sekitarnya.
Senjata Seadanya
Sebagai Pasukan yang berada di Pos Lini Pertama, melengkapkan diri dengan persenjataan senapan semi otomatis juki, tekidanto yaitu sejenis mortir kecil dan oleh anggota pasukan lainnya masing-masing memegang jenis-jenis senapan karabijn, lee enfield, pistol mitralieur (sten) dan beberapa pistol FN dan buldog yang sangat terbatas pelurunya.
Kenyataan tersebut menuntut para anggota Pasukan, khususnya dari Kompi I agar pandai-pandai menggunakan kesempatan yang tepat menguntungkan, dengan kata lain harus dapat mengusahakan kesempatan menembak jarak dekat, membidik dengan tepat sehingga penggunaan peluru lebih efektif dan mengena pada sasarannya. Kalau tidak demikian, dikhawatirkan akan salah kesempatan dan bisa-bisa kehabisan peluru pada saat-saat momen serangan balas diperlukan.
Memang kedengarannya aneh tapi demikianlah nasib senjata yang diperoleh dari rampasan dari tangan Jepang maupun serdadu Belanda oleh sementara pasukan TRIP yang berhasil mengalami pertempuran di Surabaya pada Class I.
Dukuh Dayu, yang sementara itu boleh dikatakan sebagai tempat yang relatif aman dan terpilih sebagai Pos Pertahanan terdepan dari Sektor Pertempuran Blitar Utara, telah ditempatkan Pasukan dari Peleton II/Kompi I oleh Nono Sanyoto selaku Komandan Sektor.
Tidak terlalu salah bila dikatakan aman, karena selain jauh dari rute jalan besar yang sering dipakai hilir-mudik oleh Pasukan Patroli Belanda, juga kedudukan dukuh Dayu dibatasi oleh tanah persawahan, sungai-sungai, dan gerumbul-gerumbul yang sedikit menguntungkan sebagai medan untuk gerilya.
Dukuh Dayu yang berjarak sejauh kira-kira 10 km dari kota Blitar, dan sekitar 3 km dari jalan besar, adalah batas jarak yang minimal untuk kedua belah fihak yang bermusuhan, dengan menggunakan senjata mesin otomatis ringan.
Keistimewaan dukuh Dayu bukan satu daerah yang subur dan makmur, tapi penduduknya cukup ramah dan bisa menghargai tugas-tugas dan tanggung jawab pasukan gerilya, yang lebih dikenalnya dengan sebutan Mas TRIP oleh sebagian besar penduduk di pedesaan. Antara Pasukan TRIP dan penduduk didukuh Dayu dan sekitarnya seakan-akan merasa saling membutuhkan satu sama lain, sehingga hubungan kedua belah fihak tidak bedanya seperti keluarga sendiri.
Serangan Belanda
Menurut catatan yang tidak pernah terlupakan, pada saat itu tanggal 15 April 1949. Jadi kurun waktu periode Class II. Seperti biasanya teman-teman TRIP sebelum fajar sudah bangun dan siap berkemas, untuk mengambil langkah kegiatan sesuai dengan komando atau gerakan yang terpaksa dilakukan karena keadaan dianggap darurat.
Fajar pagi saat itu didukuh Dayu terasa agak lain. Sementara teman-teman TRIP yang sudah sempat menyaksikan pemandangan di langit sebelah timur, ternyata sudah melebihi dari pada keindahan, karena langit disebelah timur tampak kemerah-merahan, hampir mendekati warna merahnya darah para pejuang yang rindu perdamaian tetapi lebih rindu kemerdekaan.
Memang dari lubuk hati mereka selalu berbisik bahwa perjuangan menegakkan kemerdekaan tidak ada pilihan lain kecuali MERDEKA ATAU MATI.
Dari keadaan yang demikian, maka banyak diantara pejuang TRIP menangkap satu firasat yang penuh tanda tanya. Apakah gerangan yang harus terjadi pada hari ini, kok seperti ada yang aneh, ada sesuatu yang lain dari pada yang lain.
Namun yang jelas, keadaan yang demikian itu tidak sempat diikuti dengan kehanyutan renungan, tetapi sebaliknya mereka lalu siap bergegas untuk sewaktu-waktu bergerak sesuai dengan komando. Bahkan dengan situasi serta gelagat yang meliputi pikiran saat itu, cenderung mendorong kepada masing-masing Regu untuk lebih menajamkan kepekaan dan meningkatkan kewaspa daannya untuk kesiapan dirinya masing-masing.
Memang sementara pejuang TRIP menghubung kan situasi dipagi hari itu dengan adanya info yang datang dari penduduk Kota Blitar, bahwa tentara Belanda telah diperkuat pasukannya, dengan datangnya 1 kompi Pasukan di bawah nama kesatuan Prinses Irene Brigade yang diperlengkapi.persenjataan lebih baik dari pada sebelumnya.
Belum habis berpikir, sekitar pukul 06.30 kesunyian pagi hari itu dengan tidak terduga-duga telah dipecahkan oleh bunyi serentetan tembakan yang datang dari arah tenggara dukuh Dayu bergerak menuju ke utara. Ditaksir jarak tempat tembakan tidak lebih dari 3 km.

Pemuda pelajar yang tergabung dalam TRIP
Berhentinya bunyi tembakan, menyusul terdengar suara komando dari Nono Sanyoto, agar semua pasukan bersiap-siap meninggalkan Pos Dayu, dan semuanya bergerak menuju kearah datangnya suara tembakan.
Tugas baru yang tidak asing lagi, yaitu tugas menghadang iring-iringan Patroli Pasukan tentara Belanda yang menurut perhitungan pada hari itu pasti ditambah lebih besar dan lebih lengkap persenjataannya. Tugas semacam ini lebih dikenal oleh teman-teman dengan istilah “nyanggong”.
Tanpa banyak komentar, Pasukan seluruhnya langsung bergerak menuju kearah tenggara, dan setibanya di desa Bangsri, ternyata TRIP dari Pasukan yang lain termasuk Hartawan sudah mengadakan stelling (gelar) di situ. Maka kelompok Pasukan dari Pos Dayu lalu diperintahkan bergerak menuju Ngadirejo yang terletak di sebelah tenggara Bangsri dan lebih mendekati lintas jalan besar yang menghubungkan kota Blitar dan Penataran.
Menurut Hartawan, Nono Sunyoto menugaskan klompok pasukannya supaya bertahan di Bangsri, sedangkan Regu-Regu lainnya, termasuk Regu Soebandi dan Regu Moesanto yang dilengkapi dengan senapan Juki dan Tekidanto, supaya mengadakan stelling di Ngadipejo bersama Pasukan dari Regu yang lain, yang bersenjatakan karabijn, lee enfield dan sten atau pistol mitralieur.
Sebelum mengadakan stelling di Ngadirejo, Pasukan memasuki desa Jatimalang terlebih dahulu untuk memperoleh informasi dari penduduk setempat yang tentu mengetahui keadaan iring-iringan Patroli Pasukan Tentara Belanda yang menuju kearah Penataran itu.
Ternyata memang benar, oleh sementara penduduk Jatimalang dikatakan, bahwa Patroli Pasukan Tentara Belanda kali ini lebih banyak dari pada sebelumnya. Dari iring-iringan Patroli terhitung ada 11 truk dan 2 brencarier, dimana para pasukannya berjalan diantara truck-truck dan brencarier itu.
Setelah mendapat informasi secukupnya, maka, Pasukan Soebandi dan kelompok lainnya segera mengatur stelling di Ngadirejo dengan memanfaatkan kedudukan sungai kecil yang membujur arah utara-selatan yang merupakan batas pinggir sebelah timur desa Ngadirejo dan Jatimalang.
Sedangkan jalan yang menghubungkan kota Blitar dan Penataran jatuh disebelah timur sungai yang bertebing tinggi itu, sehingga sangat menguntungkan untuk pertahanan Pasukan TRIP yang dengan jelas dapat melihat kearah jalan besar, sebaliknya dari jalan besar agak menemui kesulitan pandang karena keadaan tebing itu sangat tinggi.
Tepat pukul 12.00, Pasukan TRIP dengan kelompok Juki dan kelompok Tekidanto telah siap dengan stellingnya sebagaimana tempat dan posisi yang ditentukan. Masing-masing menempati posisi yang pegas pandang kearah jalan besar. Keadaan memaksa untuk dimulai pertempuran.
Tidak antara lama, setelah stelling siap diatur, tanpa diketahui datangnya iring-iringan Patroli Pasukan tentara Belanda, ternyata posisi kelompok Juki tepat berhadapan dengan sebuah brencarier yang kebetulan berhenti di pinggir jalan persimpangan pada jalan yang arah ke Blitar.
Adapun Pasukan tentara Belanda tampak menebar di sepanjang jalan utara selatan yang membujur disepanjang tebing sebelah timur. Di atas brencarier tampak jelas 3 orang serdadu sedang meneropong kedepan, arah sasaran kedudukan stelling Pasukan TRIP.
Dengan tanpa berpikir panjang .dari pada didahului serangan musuh, maka kelompok Juki Nyoto Tutol cepat mengambil prakarsa, menghantam serdadu Belanda yang sedang berdiri diatas brencarier itu, dan seketika itu ketiga-tiganya roboh tersungkur dari atas brencarier. Sesaat kemudian datang beberapa serdadu yang lain dengan maksud mau menolongnya, akan tetapi dengan cepat dihantam oleh Tekidanto Cak Dul yang kebetulan tepat masuk pada brencarier, dan……….. blaarr………….. hancur berserakan mereka yang mau mencoba menolongnya itu.
Rupanya Pasukan Belanda menjadi penasaran. Mereka yang mengambil posisi stelling disepanjang sungai lalu bergerak maju dan menuruni sungai melalui tebing yang tinggi itu mendekat kearah kedudukan Pasukan TRIP. Melihat keadaan yang demikian, Nono Sanyoto lalu memberikan perintah supaya kelompok Juki mundur mencari tempat yang aman, sedangkan pasukan lain Jito Pitik dan kawan-kawan yang bersenjatakan senapan ringan supaya melindungi gerakan mundur kelompok Juki itu.
Sementara itu kelompok tekidanto masih sempat menghantam serdadu-serdadu Belanda yang turun dari tebing dengan menyeberangi sungai itu, demikian pula pasukan lain yang bersenjatakan karabyn dan sten tidak melewatkan kesempatan baik itu. Tidak sedikit serdadu Belanda yang roboh kena sasaran tembak Pasukan TRIP yang makin lama makin berjarak dekat dengan posisinya.
Setahap demi setahap kelompok Juki mundur dengan mengambil jalan dipinggir anak sungai menuju kearah utara. Sementara itu tembakan gencar dari Pasukan tentara Belanda terus dilepaskan dan sekali dua kali terdengar suara riuh tembakan perlawanan dari pasukan TRIP.
Sesaat setelah bunyi tembak-menembak berhenti, maka kelompok Juki cepat-cepat meneruskan jalannya mencari tempat kedudukan yang aman dari serangan maupun peluru nyasar. Tapi ternyata jalan terputus, sehingga naik dari dasar sungai dan terpaksa berhenti lagi di rumpun bambu (barongan) berduri.
Ada Keberuntungan
Tapi…………….. , ternyata masih ada hikmahnya juga. Terjebaknya kelompok Juki di rumpun bambu memaksa harus tetap tinggal disitu. Kalau tidak pasti akan berpapasan dengan sekelompok serdadu Belanda yang sedang menyusuri dasar sungai itu dengan arah yang berlawanan.
Tidak lama kemudian, mulai terdengar lagi tembakan gencar Pasukan Belanda dari arah selatan, yang disusul tembakan dari arah barat, yaitu belakang posisi Pasukan TRIP mengarah ke utara dimana pasukan TRIP dengan Dan Ton Soebandi mengambil stelling.
Sementara tembak-menembak menjadi riuh, karena rupanya Pasukan TRIP terpaksa mengadakan perlawanan dalam posisi yang sudah terkepung itu.
Meskipun demikian, setiap ada kesempatan yang sedikit aman selalu digunakan untuk mengambil posisi mundur, dengan pertimbangan kekuatan musuh jauh lebih besar dan persenjataannya jauh lebih lengkap. Sebaliknya Pasukan TRIP mencari jalan siasat mundur berai oleh kepungan Pasukan Belanda dari depan dan dari belakang stelling.
Setelah situasi pertempuran berpindah kearah Regu Soebandi, maka kelompok juki segera bergegas keluar dari rumpun bambu dengan jalan melingkar, kembali menyusuri tepi anak sungai menjauhi tempat pertempuran, kemudian menempati posisi stelling di persawahan yang padinya selesai dipanen.
Dalam posisi Pasukan TRIP yang sudah terkepung itu, Nono mengambil keputusan supaya Kelompok Soebandi bergerak kearah utara, dan kelompok Juki tugas melindungi perpindahan Kelompok Soebandi, sebab diperhitungkan Pa sukan Belanda terus semakin mendekat.
Bersamaan dengan kepindahan posisi stelling kolom pok Soebandi, dari arah jalan besar terdengar suara beberapa kendaraan Belanda berhenti menurunkan pasukannya yang segera menuju kearah barat.
Keadaan berubah sangat cepat pasukan kelompok Soebandi sebagian sudah berhasil berada disebelah utara, ditengah persawahan yang selesai dipanen, sedangkan ke lompok Juki tetap pada posisi yang telah ditetapkan.
Selang beberapa menit kemudian, terjadilah pertempuran dalam jarak dekat (perang campuh) yang cukup seru, antara sebagian Pasukan TRIP yang terkepung dengan Pasukan Belanda yang baru diturunkan dari kendaraan tadi.
Perang campuh semacam ini cenderung dikatakan adu kecepatan tembak, dan adu kecepatan melihat posisi lawan satu persatu dari segala jurusan. Namun rupanya faktor keberuntungan juga ikut menentukan kemenangan dan kekalahan bagi salah satu pasukan.
Riyadi, dalam perang campuh begitu getolnya ia melakukan tembakan, sampai-sampai ia lupa kalau peluru sudah habis. Tidak kepalang tanggung, sewaktu ia mau dipukul oleh serdadu Belanda maka dilemparnya senapan yang sudah kehabisan peluru itu, dan kebetulan serdadu Belanda itu mendadak kena tembak. Entah dari mana datangnya yang menembak itu sehingga Riyadi sementara lolos dari ancaman maut.
Dengan cepat situasi menjadi kalut, kedua belah fihak tidak sempat memikirkan taktik dan strategi lagi, bahkan tidak sempat melihat posisi Pasukan Belanda, kecuali terpaksa mengadakan perlawanan terakhir tanpa senjata ditangan, yang akibatnya, keganasan musuh belaka.
Sesaat terdengar ditengah-tengah serunya pertempuran, teriakan Moeljadi Cimot : “…………… adduhh buuuu……….. ”
dan ternyata seketika itu ia menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ia terpaksa menghentikan perlawanannya yang terakhir, ……. dan …. .ia gugur sebagai kusuma bangsa.
Hampir bersamaan waktunya, Warno Manuk tangannya kena tembakan Belanda sewaktu ia sedang memasukkan magazijn sten yang berisi peluru untuk menggantikan magazijn yang sudah kosong.
Sesaat sewaktu Warno mau mengambil senjatanya yang jatuh, datang Nono dengan cepat menarik Warno kepinggir sungai dengan maksud akan menolong mengamankan dan membalut lukanya.
Belum sempat teman-teman memperhatikan apa yang telah dilakukan oleh Nono dan Manuk ditepian sungai, menyusul Soebandi yang terlibat perlawanan senjata, sampai achirnya tewas dalam pertempuran olah Serdadu Belanda yang memberondong Soebandi meskipun berjarak dekat.
Sementara suasana pertempuran mereda, Manuk dan Nono mencoba meninggalkan sungai tempat membalut lukanya, dan beberapa langkah dari tepi kali itu ditemui jasad Karjadi yang tergeletak sudah tidak bernyawa lagi. Iapun mengalami berondongan tembakan Belanda, sehingga badannya berlumuran darah. Memang mengerikan.
Lain lagi cerita tentang Djakfar Arief. Sepanjang keterangan yang disampaikan oleh sementara penduduk seusainya pertempuran, dikatakan bahwa Djakfar Arief terlibat pertempuran dengan Pasukan Belanda yang sempat mengambil jalan melingkar kebelakang posisi stelling Pasukan TRIP, jme lakukan pengepungan kebetulan berpapasan dengan kelompok Djakfar.
Kesempatan ini digunakan oleh Djakfar untuk mengadakan perlawanan tembakan sambil melindungi pasukan TRIP yang mengundurkan diri agar lolos dari sasaran. Dalam keadaan kepepet itu, Djakfar masih sempat melakukan perlawanan, Tapi iapun kena hantaman serdadu Belanda dengan menggunakan popor senapan hingga jatuh terjungkel, terjerembab ketanah dalam keadaan pingsan.
Rupanya sebelum Djakfar Arief menghembuskan nafasnya yang terakhir sempat mengalami siksaan berat, yaitu diinjak-injak beramai-ramai oleh serdadu Belanda sampai tiba saat ajalnya.
Demikianlah Djakfar Arief, ketika gugur sebagai korban pertempuran yang diketemukan terakhir di palagan Ngadirejo itu, kemudian oleh penduduk setempat dibawa ke Pos Dayu. Jenazahnya diketemukan dalam keadaan terpuntir, demikian juga kaki dan tangannya akibat mengalami penyiksaan yang begitu hebat dan sangat mengerikan oleh serdadu Belanda.
Cerita tentang Soebandi terpaksa mengalami ujian berat sebelum saat tewasnya. Demikian cerita yang dikumpulkan dari sementara teman yang menyaksikan dan sementara penduduk setelah pertempuran usai.
Soebandi dengan senjata Stennya (PM) telah banyak melakukan perlindungan terhadap pasukan yang melaksanakan komando mengundurkan diri, disamping juga sudah cukup banyak dipakai untuk menembaki musuh yang merayap ditebing sungai hendak maju menyerbu kedudukan stelling Pasukan TRIP.
Sekalipun hanya dengan tembakan engkel demi menghemat peluru, namun dalam kesempatan dia harus melindungi pasukannya agar bisa lolos dari sergapan Pasukan Belanda, maka dia harus menggunakan tembakan rokol (ganda) untuk menghadapi musuh jarak dekat dan agak menggerombol.
Mungkin karena itulah, maka Soebandi cepat kehabisan peluru, termasuk peluru cadangan yang disediakan dalam houder yang terpisah. Akibatnya, meskipun ia sudah banyak merobohkan musuh, akhirnya diapun tidak berdaya iapun tewas menjadi korban. Source : DISPERPUSIP JAWA TIMUR