Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, CHINA– Pesawat tempur J-36 buatan China, generasi ke-6 mewakili lompatan revolusioner dalam teknologi penerbangan militer, mendapat predikat “komandan siluman yang didukung AI otonom”.
J-36 bukan sekadar pesawat tempur biasa, melainkan sistem cerdas yang mampu beroperasi secara mandiri.
Dengan kecerdasan buatan (AI) mutakhir, pesawat ini dapat mengambil keputusan taktis secara real-time, mengkoordinasikan serangan, dan bahkan memimpin formasi drone tanpa campur tangan pilot manusia.
Otonomi penuh ini memungkinkan J-36 bertindak sebagai pusat komando udara, mengurangi risiko korban jiwa dan meningkatkan efisiensi misi di medan perang yang kompleks.
Keunggulan utama J-36 terletak pada kemampuan siluman yang tak tertandingi, menjadikannya pesawat paling sulit dideteksi sepanjang sejarah.
Berbeda dari generasi sebelumnya yang hanya fokus pada radar cross-section (RCS) rendah, J-36 mengelola semua “tanda” atau signature secara simultan.
Pertama, signature radar diminimalkan melalui desain bentuk sudut, material penyerap gelombang radar (RAM) generasi baru, dan lapisan plasma aktif yang membelokkan sinyal radar.
Kedua, signature panas (inframerah) ditekan dengan nozzle mesin variabel yang mendinginkan gas buang menggunakan udara bypass, ditambah sistem pendingin adaptif yang menyesuaikan suhu permukaan kulit pesawat.
Selain itu, emisi elektronik direduksi hingga mendekati nol berkat komunikasi laser dan quantum-secure links yang hanya aktif saat diperlukan.
Bahkan sinyal jaringan, yang sering menjadi celah keamanan, dikelola melalui mesh network terenkripsi dengan AI yang memprediksi dan menghindari deteksi musuh.
Hasilnya, J-36 bisa menyusup ke wilayah udara musuh tanpa terlihat oleh sistem pertahanan terintegrasi seperti S-500 atau Aegis.
Dari segi performa, J-36 didorong oleh mesin turbofan variabel cycle dengan thrust vectoring, mencapai Mach 2.5+ dan jangkauan 2.500 km tanpa tanker.
Senjata utamanya mencakup rudal hipersonik internal bay, drone loyal wingman, dan laser directed-energy weapons untuk pertahanan diri.
Dalam skenario perang modern, J-36 mengubah paradigma superioritas udara, memungkinkan operasi swarm di mana satu pesawat mengendalikan ratusan aset otonom.
Implikasi geopolitiknya besar, terutama bagi negara-negara seperti China atau AS yang bersaing dalam perlombaan hipersonik. Namun, tantangan etis muncul: otonomi AI berisiko salah perhitungan, memicu eskalasi konflik.
Meski demikian, J-36 menetapkan standar baru, memaksa musuh berinvestasi triliunan dalam kontra-teknologi.
Pesawat tempur J-36 generasi ke-6 merupakan prototipe canggih dari Chengdu Aerospace Corporation, China, yang dirancang sebagai jet siluman otonom dengan kemampuan AI mutakhir.
Spesifikasinya menonjol dalam desain tanpa ekor (tailless) berbasis sayap delta ganda, konfigurasi trijet (tiga mesin), dan pengelolaan signature multi-domain untuk deteksi minimal.
Pesawat ini memiliki panjang sekitar 22,5 meter, lebar sayap 24 meter, serta luas sayap 248 meter persegi. Berat lepas landas maksimum (MTOW) mencapai 55 ton, memungkinkan muatan senjata dan bahan bakar internal yang besar untuk misi jarak jauh.
Performa Mesin dan Kecepatan
Ditenagai tiga mesin WS-19 atau varian WS-15/WS-10 yang ditingkatkan dengan thrust vectoring, J-36 capai kecepatan maksimum Mach 2.5 (sekitar 3.087 km/jam). Radius tempur diperkirakan 3.000-4.000 km, didukung intake udara dorsal dan samping untuk efisiensi tinggi.
Dilengkapi radar AESA, EOTS untuk targeting presisi, serta fly-by-wire canggih untuk stabilitas tanpa stabilisator vertikal. Ruang senjata internal muat hingga 4-8 rudal seperti PL-15/PL-17 (udara-ke-udara jarak jauh), YJ-12 (antikapal), plus drone wingman dan laser DEW.
Desain sudut, material RAM, plasma stealth, dan emisi rendah (radar, IR, RF, network) jadikan J-36 paling sulit dideteksi, ideal untuk operasi di Indo-Pasifik melawan sistem seperti S-500. **






