Penulis: Satwiko Rumekso | Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS.COM, SURABAYA-Dalam buku berjudul State and Statecraft in Old Java: A Study of the Later Mataram Period, 16th to 19th Century (1968) yang ditulis Soemarsaid Moertono disebutkan Amangkurat I adalah raja yang “istimewa lalimnya” tetapi juga sangat paranoid. Dia selalu di bawah penjagaan ketat pasukan khusus itupun dia masih merasa belum aman.
Sejarawan Merle C. Ricklefs menggambarkan hal yang mirip tentang Amangkurat I. Dalam bukunya berjudul War, Culture, and Economy in Java 1677-1726 (1993) disebutkan Amangkurat I sangat berbeda sifat dengan Sultan Agung,. “Jika Sultan Agung menaklukkan, menggertak, membujuk, dan bermanuver, Amangkurat I menuntut dan membantai,” tulisnya.
Hingga terjadilah ontran-ontran mengerikan ketika Amangkurat I membunuh Pangeran Alit adiknya sendiri yang mencoba melakukan kudeta karena tidak lagi sabar melihat kelaliman kakaknya. Kudeta berhasil digagalkan dan Pangeran Alit dibunuh.
Babad Tanah Jawi menggambarkan masa pemerintahannya penuh dengan rasa was-was, cemas dan takut yang tidak hanya dirasakan pembesar istana tapi juga rakyat jelata.
“Pada saat itu perilaku Sri Baginda berbeda dari yang biasa; sering menghukum dengan keras, dan terus-menerus melakukan kekejaman.”
Kemudian Serat Jaya Baya menggambarkan Amangkurat I sebagai Kalpa sru semune kenaka putung atau “masa kelaliman yang dimetaforakan dengan kuku yang putus”.
Masa lalim berarti kekejaman pemerintahan raja, dan “kuku yang putus” artinya banyaknya panglima yang dibunuh.
Tetapi kisah tidak berhenti di situ. Amangkurat I melihat Pangeran Alit didukung oleh para ulama. Maka kelompok inipun harus dibasmi. Dipanggilah empat orang yang menjadi kepercayaannya. Mereka adalah Pangeran Aria, Tumenggung Suranata, Tumenggung Nataairnawa dan Ngabehi Wirapatra.
Dia memerintahkan empat orang ini untuk memimpin operasi intelijen cepat guna membunuh para ulama dan keluarganya.
“Jangan ada seorang pun dari pemuka-pemuka agama yang ada di wilayah Mataram luput dari pembunuhan,” kata raja dikutip oleh buku De Regering van Sunan Mangku-Rat I Tegal-Wangi, vorst van Mataram, 1646-1677 (1961) yang ditulis H.J. de Graaf dan dikutip Tirto.id.
Tugas segera dilaksanakan. Agar bisa berjalan cepat, langkah pertama yang dilakukan adalah mendata semua ulama yang ada. Setelah data terkumpul, maka waktu operasi inipun ditentukan. Pasukan akan bergerak serentak dengan cepat setelah tanda dibunyikan yakni letusan meriam Ki Sapujagat milik Kraton.
Ketika meriam itu menggelegar pasukan yang sudah bersiap segera bergerak. Ribuan ulama dan keluarganya dibantai dalam waktu yang sangat singkat. H.J. de Graaf mengutip catatan Rijcklofs van Goen, pejabat VOC yang saat itu berdinas di Mataram menyebut operasi berjalan hanya sekitar 30 menit saja.
Amangkurat I kemudian mengatakan bahwa para ulama tersebut dibunuh karena mendukung Pangeran Alit. Tetapi dia mengelak tanggungjawab bahwa semua itu berdasarkan perintahnya. Sejumlah pejabat dituduh sebagai dalang pembantaian dan akhirnya dibunuh.
Setelah pembantaian selesai, hari berikutnya raja tampil di muka umum dengan wajah marah dan terkejut.
“Selama satu jam di depan para pejabat, tidak satu patah kata pun terucap dari mulutnya. Semua orang yang hadir pun diam dan suasana kian mencekam. Tidak seorang pun berani mengangkat kepalanya, apalagi memandang wajah Sunan,” catat van Goens.
Ulama dituduh Amangkurat I bersekongkol membunuh adiknya, Pangeran Alit.
Tuduhan itu seolah-olah membenarkan jika pembantaian terhadap ulama sebagai balasan setimpal atas kematian adiknya.
Sejarah kelam ini hampir tidak tercatat dalam sejarah yang ditulis secara lokal. Satu-satunya sumber adalah catatan Rijcklofs van Goen, pejabat VOC yang saat itu berdinas di Mataram, yang kemudian diterbitkan dalam De vijf gezantschapsreizen naar het hof van Mataram, 1648-1654 (1956).***
Kekejaman inilah yang kemudian mendorong banyak penguasa daerah, termasuk Panembahan Giri untuk ikut bergabung dengan Trunojoyo memberontak Mataram. Bukan masalah kekuasaan, dia melakukan karena ingin membalas sakit hati atas kekejaman tersebut.
Sekitar 25 tahun setelah pembantaian tersebut, Amangkurat I menerima pembalasan. Pemberontakan Trunojoyo memaksa Amangkurat I pada tahun 1677 mengungsi dan akhirnya meninggal dan dikubur di Tegal Jawa Tengah. Kekuasaanya dilanjutkan oleh Amangkurat II yang dengan bantuan VOC berhasil mengalahkan Trunojoyo dan memindah pusat kerajaan Mataram Islam dari Yogyarkarta ke Kartasura.**











