Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga
KREDONEWS.COM, GAINESVILLE– Marvin Harris adalah seorang antropolog asal Amerika Serikat yang lahir pada 18 Agustus 1927 di Brooklyn, New York, dan meninggal pada 25 Oktober 2001 di Gainesville, Florida.
Ia mengajar di Universitas Florida dan menerima gelar Ph.D. dari Columbia University.
Ia dikenal sebagai perumus utama teori materialisme budaya, yang merupakan pendekatan dalam antropologi yang menekankan bahwa budaya manusia adalah hasil adaptasi terhadap kondisi material dan ekonomi lingkungan mereka.
Ia terkenal melalui karya-karyanya seperti Cows, Pigs, Wars, and Witches dan Cannibals and Kings, yang menjelaskan berbagai praktik budaya dari perspektif materialisme budaya, misalnya mengapa sapi dianggap suci oleh orang Hindu atau mengapa babi diharamkan dalam agama Abrahamik..
Buku Cows, Pigs, Wars, and Witches karya Marvin Harris mengupas alasan di balik praktik budaya yang tampak aneh atau tabu dengan pendekatan materialisme budaya, yang menekankan faktor ekonomi, ekologis, dan sosial sebagai dasar praktik tersebut, ia menjelaskan mengapa Sapi dan Babi dilarang dimakan bukan alasan religi semata.
Sapi Adalah Suci
Sapi di India: Sapi dianggap suci dan tidak dimakan karena secara ekonomi dan ekologis sangat berharga bagi petani miskin,
Harris menjelaskan bahwa sapi dianggap suci oleh masyarakat Hindu bukan karena alasan mistis semata, melainkan karena fungsi ekonomi dan ekologisnya yang sangat penting.
Sapi menyediakan susu, tenaga kerja (seperti membajak sawah), pupuk dari kotoran, dan bahan bakar. Membunuh sapi untuk dimakan akan merugikan secara ekonomi dan ekologis, terutama di lingkungan pertanian India yang padat dan miskin sumber daya. Jadi, larangan memakan sapi adalah adaptasi rasional terhadap kondisi material masyarakat tersebut.
Haram Makan Babi dalam Agama Abrahamik
Larangan makan babi di wilayah Timur Tengah dan agama Abrahamik (Yahudi, Kristen, Islam) menurut Harris juga memiliki alasan material. Babi membutuhkan banyak air dan makanan yang bisa dipakai manusia, serta sulit dipelihara di lingkungan gurun dan panas.
Oleh karena itu, larangan ini adalah cara adaptasi ekologis yang menghindarkan masyarakat dari pemborosan sumber daya dan menjaga keseimbangan lingkungan. Ini menunjukkan bahwa aturan agama sering berakar pada kebutuhan praktis.
Sungai yang Suci dan “Dosa” Membuang Sampah
Berdasarkan pendekatan materialisme budaya Marvin Harris, maka pada kondisi saat ini bisa diperluas bahwa sungai itu suci dan terlarang (dosa) membuang sampah di sungai dapat dijelaskan sebagai bagian dari suprastruktur yang terbentuk akibat kebutuhan infrastruktur masyarakat untuk menjaga kelestarian sumber daya air yang vital bagi kehidupan dan produksi subsisten.
Harris menekankan bahwa bukan hal mistis semata, melainkan merupakan adaptasi terhadap kondisi materi dan ekologis yang nyata. Sungai sebagai sumber air sangat penting untuk pertanian, minum, dan kebutuhan sehari-hari, sehingga menjaga kebersihan sungai menjadi kebutuhan praktis yang mendasari norma larangan membuang sampah sembarangan ke sungai.
Larangan membuang sampah ke sungai yang dianggap “Dosa” atau tabu ini berfungsi untuk:
– Melindungi kualitas air agar tetap bersih dan dapat menunjang produksi pangan serta kesehatan masyarakat (bagian dari infrastruktur).
– Mencegah kerusakan ekosistem sungai yang dapat mengancam kelangsungan hidup manusia dan hewan.
– Membentuk norma sosial dan kepercayaan (suprastruktur) yang menginternalisasi pentingnya menjaga sungai agar masyarakat patuh tanpa perlu pengawasan ketat.
Jadi, sungai dianggap suci dan “dosa” bila membuang sampah di sana karena norma tersebut berakar pada kebutuhan nyata menjaga sumber daya air yang sangat penting bagi kelangsungan hidup masyarakat, sesuai prinsip materialisme budaya Marvin Harris.***