Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS.COM, JAKARTA-Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebutkankan kebutuhan minyak Indonesia masih tergantung pada impor.
Bahlil menyebutkan konsumsi minyak di Indonesia saat ini sekitar 1,6 juta barel per hari (bph), sementara lifitingnya hanya mencapai 605 ribu barel per hari.
Kemudian saat ini Indonesia masih mmengimpor sekitar 1 juta barel per hari. Ia bilang kondisi ini berbanding terbalik pada tahun 1996-1997.
“Konsumsi kita sekarang 1,6 juta bareng per day. Dan kita impor 1 juta bareng per day. Jadi kembalikan di tahun 1996-1997 kita ekspor 1 juta barel, di tahun 2024-2025 kita impor 1 juta barel. Nah kalau seperti ini modelnya, gimana kita bicara tentang swasembada?” kata Bahlil dalam acara Kuliah Umum yang diselenggarakan di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (12/2/2205).
Menurutnya, kondisi ini lifting minyak RI harus segera ditingkatkan di tengah situasi geopolitik global yang tidak menentu.
Bahkan Bahlil bilang, jika kapal-kapal pengangkut impor minyak tertahan selama sekitar 17 hari sampai 20 hari saja, bisa melumpuhkan pasokan energi nasional.
Sebab, kata Bahlil, ketahanan energi Indonesia hanya cukup sampai 21 hari saja.
“Cadangan ketahanan Energi kita cuma 21 hari, cukup perang, tidak ada kapal yang masuk, 17 hari sampai sudah wa yamna unal maun lampu semua mati, tinggal batu bara. Mobil-mobil (mati) kecuali mobil pakai batu bara, pakai nikel,” ujarnya.
Adapun untuk meningkatkan lifting minyak, Bahlil bilang, pihaknya melakukan pemetaan terlebih dahulu terhadap sejumlah sumur yang ada di Indonesia. Ia bilang saat ini ada sekitar kurang lebih 40.000 sumur. Namun yang sumur berproduksi hanya sekitar 17.000 sumur. Itu pun merupakan sumur-sumur tua.
Dari kondisi tersebut, maka perlu adanya optimalisasi teknologi melalui EOR, kemudian melakukan pengelolaan terhadap sumur-sumur yang nganggur atau idle well dengan melakukan kerja sama dengan pihak lain.
Kemudian mempercepat proses perizinan puluhan ribu sumur minyak masyarakat di sejumlah daerah agar dapat segera berkontribusi terhadap lifting nasional.
Langkah selanjutnya yakni melakukan ilmu tekan menekan. Artinya, ia mendorong KKKS yang sudah melakukan POD untuk segera melakukan konstruksi untuk bisa produksi. Jika hal tersebut tak dilakukan maka akan dicabut izin produksinya.***







