Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga
KREDONEWS.COM, SURABAYA– Banyak perokok kerap merasa tenang ketika hasil foto rontgen dada menunjukkan paru-paru terlihat bersih. Namun, anggapan tersebut ditegaskan keliru oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin melalui video yang diunggah pada 7 Februari 2026. Ia mengingatkan bahwa gambaran rontgen yang normal tidak otomatis menandakan paru-paru dalam kondisi sehat.
Menurut Menkes, pemeriksaan rontgen memiliki keterbatasan karena hanya menampilkan citra, bukan fungsi paru. Kerusakan pada saluran pernapasan akibat paparan rokok bisa luput terdeteksi jika hanya mengandalkan X-ray. Karena itu, ia menekankan perlunya pemeriksaan lanjutan menggunakan spirometri untuk menilai fungsi paru secara lebih akurat.
“Hei para perokok, jangan merasa sehat kalau foto dadanya bersih, X-raynya bersih. Udah pernah coba alat ini belum? Namanya spirometri,” ujar Budi Gunadi Sadikin.
Ia menjelaskan, salah satu masalah serius yang kerap tidak disadari perokok adalah terjadinya sumbatan pada saluran pernapasan. Paparan nikotin dan zat berbahaya lain secara terus-menerus dapat mengganggu fungsi paru, meski tidak terlihat pada pemeriksaan pencitraan.
“Karena kalau kita ngerokok, kalau kita menghirup parnikotin, itu akan menyebabkan sumbatan-sumbatan di saluran paru kita. Dan itu baru bisa ketahuan kalau kita menggunakan alat spirometri,” jelas Menkes.
Dalam video tersebut, Menkes juga menunjukkan hasil pemeriksaan spirometri miliknya sebagai contoh. Ia menyebutkan, fungsi paru dikategorikan baik apabila hasil spirometri berada di atas 80 persen. Jika angkanya rendah, hal itu menjadi peringatan dini terhadap risiko Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).
“Orang-orang yang di spirometri hasilnya rendah, itu jangan senang. Karena Anda bisa terkena penyakit PPOK, namanya penyakit paru obstruksi kronis. Begitu kena penyakit paru, dia harus seumur hidup memakai alat yang namanya inhaler ini,” tambahnya.
Selain ancaman kesehatan jangka panjang, Budi juga menyoroti dampak ekonomi akibat kebiasaan merokok. Ia membandingkan biaya rokok dan pengobatan PPOK dengan kebutuhan pangan bergizi yang dinilai jauh lebih bermanfaat bagi keluarga.
“Lebih baik kan kita beli telur dengan Rp30.000, daripada ngerokok Rp30.000 sehari. Apalagi kalau sudah kena sakit PPOK ini, mesti bayar Rp600.000 per bulan untuk alat yang namanya inhaler ini. Lebih baik dibelikan telur,” pungkasnya.











