Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Life Style

Paru-Paru Tampak Normal di Rontgen, Menkes Ingatkan Bahaya yang Tak Terlihat

badge-check


					Paru-Paru Tampak Normal di Rontgen, Menkes Ingatkan Bahaya yang Tak Terlihat Perbesar

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

KREDONEWS.COM, SURABAYA– Banyak perokok kerap merasa tenang ketika hasil foto rontgen dada menunjukkan paru-paru terlihat bersih. Namun, anggapan tersebut ditegaskan keliru oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin melalui video yang diunggah pada 7 Februari 2026. Ia mengingatkan bahwa gambaran rontgen yang normal tidak otomatis menandakan paru-paru dalam kondisi sehat.

Menurut Menkes, pemeriksaan rontgen memiliki keterbatasan karena hanya menampilkan citra, bukan fungsi paru. Kerusakan pada saluran pernapasan akibat paparan rokok bisa luput terdeteksi jika hanya mengandalkan X-ray. Karena itu, ia menekankan perlunya pemeriksaan lanjutan menggunakan spirometri untuk menilai fungsi paru secara lebih akurat.

“Hei para perokok, jangan merasa sehat kalau foto dadanya bersih, X-raynya bersih. Udah pernah coba alat ini belum? Namanya spirometri,” ujar Budi Gunadi Sadikin.

Ia menjelaskan, salah satu masalah serius yang kerap tidak disadari perokok adalah terjadinya sumbatan pada saluran pernapasan. Paparan nikotin dan zat berbahaya lain secara terus-menerus dapat mengganggu fungsi paru, meski tidak terlihat pada pemeriksaan pencitraan.

“Karena kalau kita ngerokok, kalau kita menghirup parnikotin, itu akan menyebabkan sumbatan-sumbatan di saluran paru kita. Dan itu baru bisa ketahuan kalau kita menggunakan alat spirometri,” jelas Menkes.

Dalam video tersebut, Menkes juga menunjukkan hasil pemeriksaan spirometri miliknya sebagai contoh. Ia menyebutkan, fungsi paru dikategorikan baik apabila hasil spirometri berada di atas 80 persen. Jika angkanya rendah, hal itu menjadi peringatan dini terhadap risiko Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK).

“Orang-orang yang di spirometri hasilnya rendah, itu jangan senang. Karena Anda bisa terkena penyakit PPOK, namanya penyakit paru obstruksi kronis. Begitu kena penyakit paru, dia harus seumur hidup memakai alat yang namanya inhaler ini,” tambahnya.

Selain ancaman kesehatan jangka panjang, Budi juga menyoroti dampak ekonomi akibat kebiasaan merokok. Ia membandingkan biaya rokok dan pengobatan PPOK dengan kebutuhan pangan bergizi yang dinilai jauh lebih bermanfaat bagi keluarga.

“Lebih baik kan kita beli telur dengan Rp30.000, daripada ngerokok Rp30.000 sehari. Apalagi kalau sudah kena sakit PPOK ini, mesti bayar Rp600.000 per bulan untuk alat yang namanya inhaler ini. Lebih baik dibelikan telur,” pungkasnya.

 

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Siti Si Vampir Tayang Oktober 2026, Satine Zaneta Jadi Pemeran Utama

6 Agustus 2026 - 19:19 WIB

Lagu Terbaru No Na ‘honk!’ Buktikan Musik Indonesia Bisa Mendunia

3 Agustus 2026 - 18:27 WIB

Nabila Gardena Mendadak Viral, Benarkah Terseret Isu Korupsi BUMN?

28 Juli 2026 - 20:09 WIB

Putri Kamboja Menciptakan Sensasi di Piala ASEAN 2026

26 Juli 2026 - 19:34 WIB

Drama di Balik Gol Juara Ferran Torres, Putus Cinta Jelang Final Piala Dunia

22 Juli 2026 - 18:31 WIB

Penggemar Sepakbola Takjub Lihat Kaki Jenjang Presenter

21 Juli 2026 - 19:07 WIB

Bukan Sekadar Cameo, Jung Ho-yeon Ukir Sejarah di Final Piala Dunia 2026

20 Juli 2026 - 18:37 WIB

Cinta Laura Beradegan Intim di Series WeTV ‘Sleeping With The Enemy’

17 Juli 2026 - 21:01 WIB

Rasa Nano-nano Pacar Bek Argentina Berkebangsaan Inggris

16 Juli 2026 - 20:24 WIB

Trending di Life Style