Penulis: Sri Muryanto | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.CON, KEDIRI— Malam Sabtu itu, suasana Bukit Daun Hotel & Resort, Kota Kediri, berubah sakral namun mendebarkan. Tamunya hampir semua mengenakan pakaian serba hitam.
Ternyata memang bukan pertemuan biasa—ini momen bersejarah: Gus Thuba bin Abdul Mu’thi, cucu kandung ulama kharismatik Gus Mi (KH Hamim Djazuli), secara resmi mendeklarasikan Organisasi Masyarakat Yakusa Meneges
Acara berlangsung tepat seusai salat Isya, di hadapan ratusan tokoh agama, pejabat daerah, aparat kepolisian, dan pemuda lintas wilayah.
Sekali dengar nama “Yakusa”, banyak langsung terbayang geng kriminal Jepang. Tapi Gus Thuba, dengan sorot mata tegas dan nada tenang khas keturunan pesantren, segera meluruskan makna aslinya .
“Yaqutul Ukhuwah, Sholahun wa ‘Ibadah—itulah kepanjangan sejatinya. Artinya: Permata Persaudaraan, Kunci Kesalehan dan Pengabdian itulahb singkat ‘Yakusa’. Sedangkan ‘Meneges’ adalah identitas tanah leluhur kami, bukan lambang kekerasan apalagi kejahatan,” tegasnya memecah keheningan malam .
Lahir dari warisan ajaran Gus Mi yang dikenal tegas, namun sangat merangkul siapa pun yang ingin berubah, organisasi ini hadir sebagai wadah transformasi.
Gus Thuba menjelaskan: ini tempat bagi mereka yang dulu tersesat, pernah terjerumus kenakalan atau kemaksiatan, untuk kembali ke jalan lurus, jadi “prajurit kebaikan” yang membela lemah dan menegakkan keadilan .
Dalam pidatonya, ia bacakan semangat inti: “Dulu Yakusa identik ujungnya nista, kini kami ubah maknanya jadi zuhud abadi. Kami bukan lawan negara—kami mitra aparat, tangan kanan masyarakat untuk berantas ketidakadilan, termasuk jika ada oknum pejabat atau tokoh agama yang melenceng” . Kata pria itu mengenakan semi jas warna hitam, sewarna dengan dress code malam itu.
Pj Wali Kota Kediri Vinanda Prameswati menyambut hangat: “Ini kelanjutan perjuangan Gus Mi yang tak pernah menutup pintu pertobatan bagi siapa pun. Semoga jadi cahaya, bukan bara”.
Dihadiri Kapolres Kediri, deklarasi ditutup dengan janji setia seluruh anggota: setia pada Tuhan, jaga damai, lindungi warga, dan taat hukum.
Malam itu, Yakusa Meneges berdiri kokoh di Kediri—sebuah bukti: tak ada jalan yang tertutup bagi perubahan, dan kekuatan sejati selalu lahir dari ketulusan hati melindungi sesama. **







