Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Feminis: Pernikahan, Cinta, dan Etika dalam Setiap Hubungan

badge-check


					Feminis: Pernikahan, Cinta, dan Etika dalam Setiap Hubungan Perbesar

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

KREDONEWS.COM, SURABAYA– Nawal El Saadawi, feminis dan pemikir terkemuka asal Mesir, menyoroti perbedaan penting antara cinta dan pernikahan. Menurutnya, pernikahan kerap jauh lebih kompleks daripada sekadar urusan perasaan.

“Institusi pernikahan adalah institusi politik, sosial, ekonomi, dan seksual.”
Baginya, cinta justru merupakan sesuatu yang murni manusiawi dan lahir dari kebebasan memilih.

“Tapi cinta, itu adalah perasaan manusia. Itu adalah pilihan, Anda memilih.”
Ia menilai cinta yang selektif dan penuh intensitas mampu menjadi sumber energi besar dalam hidup seseorang.

“Jadi, cinta itu sangat selektif, sangat selektif, dan memberikan banyak energi, banyak harapan, banyak kebahagiaan, kebahagiaan.”
Meski begitu, Nawal menekankan bahwa kebebasan tetap harus berjalan bersama tanggung jawab moral.

“Jika saya bebas, saya harus bertanggung jawab.”
Prinsip ini berlaku dalam semua bentuk hubungan, dari pacaran hingga rumah tangga, yang menurutnya wajib berdiri di atas etika bersama.

“Setiap hubungan manusia, harus ada tanggung jawab, harus ada yang kita sebut etika, etika, prinsip, sesuai kesepakatan.”

Karena itu, komitmen dan kejujuran menjadi hal yang tidak boleh dilanggar. Mengingkari kesepakatan berarti melanggar etika.

“Jika saya memiliki kesepakatan dengan kekasih saya, atau tunangan saya, atau suami saya… saya harus menghormati kesepakatan saya, karena ini adalah etika.”

Ia mengecam budaya saling berbohong dalam hubungan yang tidak sehat, ketika pasangan diam-diam menyimpan relasi lain.

Nawal sendiri menginginkan kehidupan yang jujur dan bersih dari manipulasi, sebuah kehidupan yang menyatukan kebebasan dan tanggung jawab dalam setiap peran—sebagai ibu, istri, dokter, maupun penulis.

“Atau istri yang bebas, saya harus menjadi istri yang bertanggung jawab.”
Bagi Nawal, menjadi perempuan merdeka bukan berarti bertindak sesuka hati, melainkan tetap menjalankan peran dengan penuh kesadaran.

Nawal El Saadawi meninggal pada 21 Maret 2021 di Kairo pada usia 89 tahun. Ia dikenang melalui karya-karyanya yang lantang menentang patriarki, kekerasan terhadap perempuan, serta praktik mutilasi genital perempuan.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Kemenhaj Bekukan Izin PT Annisa Ahmada Travelindo, Telantarkan 200 Jamaah Jombang

18 September 2026 - 06:38 WIB

Tabrakan Lawan KA Ijen Ekspres di Jember, Fortuner Terseret 750 Meter Sopir 22 Tahun Tewas

17 September 2026 - 20:38 WIB

Menelisik Akar Terorisme (57): Topeng Alis Mata Merah Sang Penyingkir Raja

17 September 2026 - 20:00 WIB

9 Siswa SDN 3 Kampungdalem Kediri Dibawa ke Puskesnas dan RS Gambiran

17 September 2026 - 17:07 WIB

200 Siswa dan Guru SMKN 1 Boyolangu Tulungagung Keracunan MBG

17 September 2026 - 17:03 WIB

77 Siswa dan Guru di Trenggalek Keracunan MBG, Dapur SPPG Disuspend 30 Hari

17 September 2026 - 16:40 WIB

KPK Geledah Kantor Pusat Dirjen ATR/BPN, Ini Daftar 8 Tersangka OTT Bogor

17 September 2026 - 15:36 WIB

Wali Murid Tolak Sumbangan SMAN 1 Jombang, Wibisono: Hapuskan Seluruh Pungutan di Sekolah!

16 September 2026 - 15:05 WIB

Polres Jombang Perkuat Literasi dan Etika Penggunaan AI bagi Pelajar SMA Negeri Jogoroto

16 September 2026 - 13:48 WIB

Trending di News