Penulis: Yusran Hakim | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWs.COM, JAKARTA- Direktur Eksekutif Pusat Studi Ekonomi dan Hukum (Celios), Bhima Yudhistira (atau Bhima Yudhistira Adhinegara), menyampaikan pengumuman hasil penghitungan kerugian banjir bandang Sumatera.
Bhima menyampaikan prediksi kerugian Rp 68,67 triliun dalam program Kompas Bisnis di Kompas TV pada 4 Desember 2025, merujuk data per 30 November 2025.
Ia juga dikutip di berbagai media seperti Riau12 pada 5 Desember 2025, menjelaskan rincian kerugian per provinsi dan dampak nasional.
Bhima menekankan metodologi hitungan berdasarkan kerusakan rumah, jembatan, pendapatan hilang, sawah, dan jalan, serta menyerukan sanksi tegas atas penyebab ekologis.
Celios menghitung kerugian materiil Rp 68,67 triliun berdasarkan lima komponen utama dari data BNPB dan BPS per 30 November 2025, dengan asumsi standar biaya per unit kerusakan.
Komponen tersebut meliputi: kerusakan rumah (Rp 30 juta per unit), jembatan (Rp 1 miliar per unit), pendapatan keluarga hilang (rata-rata harian provinsi × 20 hari), lahan sawah (Rp 6.500/kg gabah dengan 7 ton/ha), serta perbaikan jalan (Rp 100 juta per 1.000 meter).
Metodologi ini dirilis dalam studi “Dampak Kerugian Ekonomi Bencana Banjir Sumatera” pada 1 Desember 2025, menggunakan data korban, rumah rusak, infrastruktur, dan produksi pertanian dari laporan resmi.
BNPB belum menyampaikan estimasi kerugian materiil dalam nilai rupiah untuk bencana banjir bandang di Sumatera Utara (Sumut), Sumatera Selatan (Sumsel), dan Aceh hingga 7 Desember 2025.
Laporan BNPB fokus pada data kuantitatif dampak seperti korban jiwa (916 meninggal, 274 hilang), rumah rusak (105.900 unit), fasilitas umum (1.300 unit), jembatan (405 unit), fasilitas pendidikan (697 unit), dan rumah ibadah (420 unit) per 7 Desember 2025.
Data BNPB ini menjadi dasar perhitungan Celios (Rp 68,67 triliun nasional), bukan estimasi moneter langsung dari BNPB, dengan rincian infrastruktur per provinsi seperti Aceh (204 jembatan rusak, 5.200 rumah).
Detail Laporan BNPB
-
Sumut: Korban jiwa tertinggi (329 meninggal per 6 Desember), kerusakan masif di Sibolga, Tapanuli.
-
Aceh: 359 meninggal, infrastruktur parah (75 fasilitas pendidikan, 99 kantor rusak).
-
Sumsel: Tidak disebut eksplisit dalam update BNPB terbaru, fokus utama Aceh, Sumut, Sumbar.
BNPB prioritaskan penanganan darurat via Dana Siap Pakai (DSP) tanpa plafon, bukan valuasi ekonomi. **






