Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Headline

Polisi dan Tentara Gerebek Markas Narkoba Comando Vermelho 132 Orang Tewas

badge-check


					Sebanyak 2500 personel polisi dan tentara Brasil melakukan pengrebekan markas komando sarang narkoba di Rio de Janeiro, mengakibatkan sebanyak 132 orang tewas. Foto: otempo.com.br Perbesar

Sebanyak 2500 personel polisi dan tentara Brasil melakukan pengrebekan markas komando sarang narkoba di Rio de Janeiro, mengakibatkan sebanyak 132 orang tewas. Foto: otempo.com.br

Penulis: Jacobus E. Lato    |     Editor: Priyo Suwarno

Penulis: Yusran Hakim   |    Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, RIO DE JANEIRO- Polisi Brasil di Rio de Janeiro mengerahkan militer sebanyak 2500 personel melakukan penggerebekan operasi besar-besaran melawan geng narkoba, menewaskan sebanyak 132 orang tewas dalam insiden tersebut.​

Operasi ini berlangsung di kawasan permukiman dan favela di Rio de Janeiro, yang menargetkan geng narkoba, khususnya kelompok “Comando Vermelho”. Operasi ini menggunakan kekuatan besar yang melibatkan 2.500 personel bersenjata lengkap, helikopter, kendaraan lapis baja, dan alat berat.​​

Angka ini jauh melebihi jumlah korban yang diperkirakan sebelumnya dan menjadi salah satu operasi paling brutal dalam sejarah kota Rio de Janeiro.​​

Operasi ini mendapatkan kritik keras dari organisasi hak asasi manusia, yang menyerukan penyelidikan atas insiden ini karena dianggap sebagai operasi militer yang memicu banyak korban dan menjadikan lingkungan favela sebagai zona perang.

Ada juga kecaman dari berbagai pihak mengenai penggunaan kekuatan yang berlebihan dan dampaknya terhadap warga sipil.​​

Secara ringkas, kejadian ini adalah operasi brutal yang dilakukan polisi di Rio de Janeiro yang menewaskan sebanyak 132 orang, termasuk anggota geng dan petugas, dan menjadi salah satu operasi terbesar serta paling kontroversial dalam sejarah kota tersebut.​

Baku tembak antara polisi dan geng narkoba di Rio de Janeiro, Brasil, menewaskan 132 orang. Peristiwa horor itu berlangsung setelah kepolisian Brasil menggerebek suatu lokasi Kota Rio de Janeiro, Selasa 28 Oktober 2025.

“Kabar terbaru adalah 132 orang tewas,” bunyi pernyataan lembaga bantuan hukum wilayah, seperti dikutip dari Al Jazeera, Kamis, 30 Oktober 2025.

Pemandangan mengerikan tersaji di lokasi penggerebekan. Petugas membaringkan mayat anggota geng yang bersimbah darah di jalanan.

Gubernur Negara Bagian Rio de Janeiro, Claudio Castro, mengatakan jumlah korban tewas sekitar 60 orang. Namun dia mengingatkan angka sebenarnya jauh lebih tinggi karena banyak jenazah yang langsung dibawa ke kamar mayat, sehingga luput dari penghitungan.

Selain anggota geng, empat polisi tewas dalam operasi tersebut.

Kepolisian mengerahkan 2.500 personel dalam penggerebekan terhadap markas geng kriminal paling ditakuti di Rio de Janeiro, Comando Vermelho yang berarti Komando Merah. Penggerebekan terkonsentrasi di permukiman Penha Complex dan Alemao di Rio de Janeiro.

Selain aspek keamanan, operasi ini merupakan reaksi terhadap meningkatnya brutalitas geng dan agresi yang mengancam keselamatan warga sipil, sehingga polisi melakukan tindakan tegas, meskipun tindakan tersebut menuai kontroversi terkait jumlah korban tewas yang tinggi dan kekerasan yang terjadi selama operasi berlangsung.

Operasi ini juga mencerminkan kegagalan dalam pengelolaan keamanan jangka panjang di kawasan yang sangat rawan kejahatan tersebut, yang mengakibatkan penggunaan operasi militer berskala besar oleh pihak kepolisian.​

Latar belakang utama operasi adalah untuk menumpas geng narkoba yang sangat berpengaruh dan mengendalikan wilayah Complexo de Alemao dan Penha yang rawan konflik dan kriminalitas di Rio de Janeiro.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Pria Bersenjata Laras Panjang Merampok Toko Emas, Gondol Perhiasan Senilai Rp350 Juta

18 Juli 2026 - 22:36 WIB

Semangat Ikan Sepat Ikan Lele, Faturrohman: Makin Cepat Tidak Betele-tele untuk Musker Apindo Jombang

18 Juli 2026 - 15:34 WIB

Tuntut Keadilan, 50 Perwakilan Karyawan PT SGS Unjuk Rasa di Disnaker Jombang

17 Juli 2026 - 21:12 WIB

Wibisono: Patut Diduga Langgar Tiga UU Sekaligus, Uang Anggota Rp124 M Dibelikan Tanah oleh Pengurus KPRI Jombang

17 Juli 2026 - 15:05 WIB

Kosmak Ungkap Dugaan Gurita Bisnis Besar yang Libatkan Nama Febrie Adriansyah

17 Juli 2026 - 11:46 WIB

Kajian Kadin-TVRI: Piala Dunia Punya Efek Ekonomi Langsung Rp5 Triliun bagi RI

17 Juli 2026 - 10:17 WIB

300 Anggota Resah: Kas KPRI Sejahtera Jombang Kosong, Punya Beban Rp124 Miliar

17 Juli 2026 - 05:20 WIB

Menhub Targetkan Proyek KRL Surabaya-Sidoarjo Rampung 2029

16 Juli 2026 - 20:03 WIB

Jaksa Tuntut Hukuman 12 Tahun Penjara, Kasus Pelecehan Siswa di SMP Jombang

16 Juli 2026 - 14:01 WIB

Trending di News