Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga
KREDONEWS.COM. SURABAYA– DR. dr. Tan Shot Yen, M.Hum menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah bergeser dari tujuan awal dan berpotensi menimbulkan dampak sosial serius di masyarakat. Pandangan itu ia sampaikan dalam konferensi pers bertajuk MBG Watch: Proyek Red Flag: Moratorium MBG Memang Mungkin? di Jakarta, 6 Februari 2026.
Dalam pemaparannya, Tan menyoroti bahwa MBG justru menciptakan ketegangan di akar rumput. “Ini adalah politik devide et impera,” ujarnya. Ia mempertanyakan pola pelibatan kader Posyandu yang dinilai menimbulkan perpecahan internal.
Menurutnya, kader Posyandu kini lebih banyak ditempatkan sebagai petugas distribusi MBG, bukan lagi sepenuhnya berperan sebagai pendamping kesehatan ibu dan anak. “Dan sehingga di kader posyandu mereka split. Yang betul-betul masih setia dengan pedoman-pedoman Pemberian Makan Bayi dan Anak-anak PMBA, mereka mundur teratur,” katanya, yang diunggah di Watchdog_insta.
Tan menambahkan, sebagian kader memilih mundur karena merasa bertentangan dengan prinsip PMBA, sementara ada pula yang tetap bertahan karena alasan ekonomi. “Ada kader-kader yang memang butuh duit,” ujarnya. Kondisi ini, menurutnya, memperlihatkan dilema yang dihadapi para kader di lapangan, diperparah dengan narasi normatif dari elite program yang diikuti mentah-mentah oleh pelaksana di bawah.
Tak hanya di tingkat kader, Tan juga menilai MBG memecah kalangan ibu-ibu. Ia menyoroti perbedaan sikap antara kelompok yang kritis terhadap kualitas makanan dan kelompok yang merasa diuntungkan secara ekonomi. “Ini adalah cairan Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK), minuman batu manis dalam kemasan,” ucapnya saat mengkritik kandungan makanan dan minuman yang dibagikan.
Menurutnya, ibu-ibu yang terbiasa membelikan anak jajanan minimarket merasa terbantu karena tidak perlu lagi mengeluarkan uang jajan. Namun bagi mereka yang memahami aspek gizi dan kesehatan, makanan tersebut dianggap tidak layak dikonsumsi anak.
Menutup pernyataannya, Tan Shot Yen mengungkapkan keprihatinan atas kondisi sosial yang semakin terpolarisasi. “Jadi saya udah gak ngerti dengan tanah air kita lagi, dimana kita selalu dipecah belah seperti itu,” tutupnya.











