Penulis: Satwiko Rumekso | Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS.COM, SURABAYA-Peradaban awal Madura terkait erat dengan Sumenep. Sejarah membuktikan bahwa Kota kecil di ujung Timur nusa garam ini sudah menjadi buah bibir sejak dulu kala. Terlebih di masa dua kerajaan besar Singhasari dan Majapahit, Kota ini bahkan menjadi cikal bakal dinasti Wijaya.
Sumenep juga dipastikan lebih awal dibanding Sampang, Pamekasan (dulu Pamelingan), dan Bangkalan. Sampang baru jadi buah bibir pasca runtuhnya Majapahit. Ia juga jadi pusat pemerintahan di masa Cakraningrat I.
Dulu sejarawan menyebut Madura Barat untuk wilayah di barat Pamekasan. Itu pun juga merujuk ke Sampang`
Sementara di ujung barat dikenal Keraton Arosbaya yang menjadi cikal-bakal dinasti Cakraningrat. Sedangkan Bangkalan sendiri baru populer di kurun 1700-an, atau di masa Cakraadiningrat V atau Sidl Mukti pasca peristiwa Ke Lessap.
Sumenep dalam banyak literatur itu merupakan pusat pemerintahan di Madura. Sultan Abdurrahman misalnya pernah menemukan prasasti yang menyebut nama Pangeran Rato sebagai penguasanya.
Prasasti Pintu Agung Keraton Sumenep dalam tulisan Arab dan Madura kuno menyebut Brahmono Hasmoro Hung Putri Hayu. Jika diterjemahkan struktur pemerintahan di Sumenep sudah ada sejak 1 Januari 986 Masehi. Kala itu jaman Brahmana (Hindu).
Tahun 1292 Masehi sejatinya masa turunnya Wiraraja sebelum kemudian berkuasa di Lumajang.
Tahun 1269 itu Sumenep di bawah Singhasari. Sedang di tahun 1292 Masehi itu awal berdirinya Majapahit.
Sumenep selalu dikaitkan dengan Adipati Arya Wiraraja yang hidup di periode akhir Kerajaan Singasari. Artinya, pemerintahan di Sumenep sudah berdiri sebelum berdirinya Kerajaan Majapahit.
Asal Kata Sumenep
Asal-usul nama Sumenep berasal dari bahasa Kawi atau Jawa Kuno yaitu Songeneb, yang terdiri dari dua kata yaitu “Sung” dan “Eneb”.
Kata Sung berarti relung, cekungan atau lembah. Sedangkan Eneb berarti endapan yang tenang.
Sehingga, kata Songeneb memiliki arti lembah atau cekungan yang tenang. Penulisan kata ini lambat laun berubah menjadi Sumenep.
Adapun kata Sumenep atau Songeneb dapat ditemukan di Kitab Pararaton, saat menceritakan “penyingkiran” Arya Wiraraja dari Singasarai.
Disebutkan, Arya Wiraraja merupakan seorang penasihat sekaligus kepercayaan Raja Kertanegara dari Singasari.
Saat itu, Kertanegara bertekad untuk melakukan penyerangan ke Sumatera, yaitu Kerajaan Sriwijaya.
Namun, Arya Wiraraja memberikan pandangan yang berbeda dengan kemauan Kertanegara.
Wiraraja menyarankan raja untuk menunda serangan, atau mengirim telik sandi terlebih dahulu untuk mengetahui keadaan musuh.
Selain itu, Wiraraja juga menyarankan agar Kertanegara mengantisipasi kemungkinan serangan dari Tartar, karena Kertanegara telah menghina utusan Kubilai Khan.
Ternyata usulan Arya Wiraraja itu membuat Kertanegara marah. Sang raja lantas “menyingkirkan” Wiraraja dengan menjadikannya Adipati di Madura Timur atau Sumenep sekarang.
Dalam kitab Pararaton disebutkan:
“Hanata Wongira, babatangira buyuting Nangka, Aran Banyak Wide, Sinungan Pasenggahan Arya Wiraraja, Arupa tan kandel denira, dinohaksen, kinun adipati ring Sungeneb, anger ing Madura wetan”.
Artinya:
“Ada seorang hambanya, keturunan orang tua di Nangka, bernama Banyak Wide, diberi sebutan Arya Wiraraja, rupa-rupanya tidak dipercaya, dijauhkan disuruh menjadi adipati di Sumenep. Bertempat tinggal di Madura timur.”
Penunjukan Arya Wiraraja menjadi Adipati Sumenep terjadi pada 31 Oktober 1269, yang saat ini ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Sumenep.
Setelah menjadi adipati Madura, Arya Wiraraja mendirikan pusat pemerintahannya di Batuputih, Sumenep.
Keraton Batuputih yang didirikan Arya Wiraraja ini konon merupakan keraton pertama di Pulau Madura. Pengukuhan Arya Wiraraja sebagai Adipati Madura pada waktu itu sangat mungkin dilangsungkan dalam upacara kebesaran Kerajaan Singasari.
Julukan Sumenep
Julukan Kabupaten Sumenep ada banyak, salah satunya Bumi Sumekar, yang merupakan akronim dari Sumenep Keraton.
Julukan ini diberikan lantaran di wilayah Sumenep terdapat banyak istana atau keraton.
Keraton-keraton atau istana yang ada di Sumenep umumnya merupakan pusat pemerintahan atau tempat tinggal Adipati Sumenep di masa lalu.
Selain julukan itu, Kabupaten Sumenep juga melakukan kampanye city branding dengan tagline “Sumenep The Soul of Madura”.
Kata Soul berarti jiwa, yang merupakan inti dari kehidupan. Sehingga melalui city branding ini Sumenep dianggap sebagai Jiwanya Madura.***