Penulis: Agung Sedayu | Editor: Gandung Kardiyono
KREDONEWS.COM, SEMARANG – Puluhan spiritualis dan pegiat budaya spiritual dari berbagai daerah, Minggu (28/12/2025) pagi bertemu di pelataran Candi Gedhong Songo Semarang.
Mereka berasal dari berbagai kota di Provinsi Bali, Yogyakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Kegiatan ini diprakarsai Komunitas Mataram Agung Nusantara dan Paguyuban Damar Kedhaton Nusantara Semarang.
“Ini acara perdana sejak berdirinya Komunitas Mataram Agung Nusantara. Kami berharap, acara ini bisa berkelanjutan untuk tujuan tetap lestarinya budaya Nusantara,” tutur RM Miko Alfianto, SE, ketua panitia sekaligus pendiri dan Ketua Komunitas Mataram Agung Nusantara (MAN).
Acara dimulai pukul 10.00 dengan doa dan ritual berjalan mengelilingi Candi Gedhong Songo sebanyak sembilan kali.
Candi Gedhong Songo berdiri pada Abad ke-8 pada periode Kerajaan Mataram Kuno.
Sesuai namanya, di kawasan ini dulunya terdapat 9 lokasi bangunan candi, namun yang tersisa kini hanya tinggal 5 lokasi candi.
“Ritual jadi semacam simbol laku spiritual yang intinya adalah refleksi diri untuk semua orang yang hadir,” tambah Ketua Damar Kedhaton Nusantara Kota Semarang, KRT Kokok Wahyudi Prawiro Dipuro, SH, MH.
Acara dilanjutkan dengan sarasehan dan ramah tamah hingga pukul 15.00. Hujan deras yang mengguyur kawasan Candi Gedhong Songo tak mengurangi antusiasme pegiat budaya ritual yang mayoritas hadir dengan busana adat.
Sarasehan bertema “Memayu Hayuning Diri, Memayu Hayuning Saksomo, Memayu Hayuning Bawono ini berlangsung di salah satu pendopo yang berdiri di pelataran Cagar budaya Candi Gedhong Songo, Ungaran, Kabupaten Semarang.
Menuju tempat sarasehan, para peserta melakukan kirab menuju pendopo yang bernuansa gasebo.
Kokok Wahyudi menambahkan, bahwa berbagai bencana alam yang melanda negeri ini harus jadi peringatan bahwa manusia harus kembali menyelaraskan diri dengan bumi tempatnya tinggal.
“Itulah alasan kami memilih tema kegiatan ini, bahwa manusia harus selalu mengaca diri, menjaga alam semesta tempatnya tinggal agar tetap lestari dan selalu berupaya menjaga hubungan baik dengan sesama,” jelasnya.
Miko Alfianto menambahkan, bahwa doa yang dipanjatkan di acara ini adalah bagian dari ikhtiar manusia agar sang penguasa jagat raya tetap melindungi bangsa Nusantara.
“Bangsa kita punya cara berdoa sendiri yang sesuai budaya asli Nusantara. (Tradisi dan budaya) Ini yang harus kita pertahankan,” ujar Miko.
“Saya sangat terkesan dengan berlangsungnya kegiatan ini. Tidak rugi saya datang jauh-jauh dari Bogor,” tutup Hernowo Adiwarna Kristanto, pegiat budaya ritual Nusantara yang juga aktif dalam kegiatan Perkumpulan Warga Theosofi Indonesia.**











