Penulis: Yusran Hakim | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, JAKARTA– Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Iman Rachman, mengumumkan pengunduran dirinya pada Jumat, 30 Januari 2026. Pengunduran diri ini disampaikan dalam konferensi pers singkat di Gedung BEI, Jakarta, tanpa sesi tanya jawab.
Iman Rachman menyatakan langkah tersebut sebagai bentuk tanggung jawab pribadi atas gejolak pasar modal dua hari sebelumnya, tepatnya pada 28 dan 29 Januari 2026, yang menyebabkan IHSG trading halt dua kali berturut-turut.
Ia berharap keputusan ini membawa perbaikan bagi pasar modal Indonesia, meski pagi itu IHSG sudah membaik dengan kenaikan 1,77% ke level 8.377,92.
Iman Rachman menjabat sebagai Dirut BEI sejak 2022, dengan masa jabatan yang direncanakan berakhir pada 2026. Gejolak pasar disebut terkait pengumuman MSCI dan kondisi pasar secara keseluruhan. Ia menekankan harapan agar IHSG terus membaik ke depan setelah pengundurannya.
Pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) menyoroti masalah transparansi kepemilikan saham dan validitas free float di MSCI Global Standard Indexes, meski ada perbaikan minor dari BEI. Faktor lain termasuk maraknya saham gorengan yang memperburuk persepsi investor global, serta ketidakpastian politik domestik.
Trading halt adalah mekanisme penghentian sementara perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk mencegah kepanikan pasar saat terjadi penurunan harga ekstrem pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
BEI menerapkan trading halt otomatis selama 30 menit jika IHSG turun lebih dari 8% dalam satu hari bursa, dan halt tambahan 30 menit jika penurunan lanjut melebihi 15%; jika mencapai 20%, maka trading suspend hingga akhir sesi atau lebih lama dengan persetujuan OJK.
Selama periode ini, semua order beli/jual dibekukan melalui sistem JATS, sehingga investor tidak bisa bertransaksi untuk menenangkan pasar dan menganalisis informasi baru.
Penurunan ini hapus nilai pasar hingga US$80 miliar (Rp1.200 triliun), dengan investor asing jual bersih US$645 juta dan rupiah sempat ke 16.985 per dolar AS. OJK dan pemerintah yakin ini sementara, bukan krisis fundamental, dan janji reformasi regulasi pasar modal.
Panic Selling
Pada 28 dan 29 Januari 2026, pasar modal Indonesia mengalami gejolak ekstrem akibat panic selling pasca pengumuman MSCI, dengan IHSG anjlok signifikan dan trading halt dua kali berturut-turut.
IHSG dibuka anjlok 6,8% (610 poin) ke 8.369,48, lalu ditutup turun 7,35% (659,67 poin) ke 8.320,56, nyaris trading halt. Seluruh sektor merah, infrastruktur jatuh 10%; transaksi Rp27,7 triliun, net sell asing Rp6,12 triliun pada saham BBCA, BMRI, BBRI, TLKM, ANTM. BEI terapkan trading halt pertama pukul 13.43 WIB saat penurunan capai 8%.
IHSG pagi jatuh lagi 8%, picu trading halt kedua pukul 09.26 WIB; ditutup turun 1,06% ke 8.232,20. 10 dari 11 sektor terkoreksi (konsumen non-primer -4,88%, properti -3,83%); 521 saham merah, transaksi Rp68,18 triliun. Top losers: GOLF (-15%), BUMI (-14,97%), VKTR (-14,93%).
Peran MSCI
MSCI (Morgan Stanley Capital International) adalah penyedia indeks pasar saham global yang berpengaruh besar terhadap aliran dana investasi internasional. Perannya mencakup menyusun dan memelihara indeks seperti MSCI Emerging Markets Index, yang menjadi acuan dana kelolaan senilai triliunan dolar AS untuk alokasi portofolio.
Indeks MSCI menentukan status pasar seperti emerging atau frontier, memengaruhi inflow/outflow dana asing pasif; perubahan bobot bisa picu volatilitas signifikan seperti gejolak IHSG 28-29 Januari 2026.
MSCI menilai transparansi free float, struktur kepemilikan saham, dan kualitas perdagangan, dengan kekhawatiran terkini pada praktik tidak transparan di Indonesia hingga Mei 2026.
BEI dan OJK menyambut masukan MSCI sebagai dorongan perbaikan kredibilitas, komitmen tingkatkan transparansi dan regulasi untuk pertahankan status emerging market. **






