Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Hadi S. Purwanto
KREDONEWS.COM— Marco Polo berlayar melewati Persia utara atau Iran dekat Laut Kaspia dalam perjalanannya menuju Cina, Ketika pulang ke Eropa, ia membawa serta legenda tentang pelatihan calon-calon utama pembunuh politik.
Dituliskannya bahwa ada lembah berbenteng antara dua gunung, tempat Sheik atau Orang Tua dari Pegunungan membuat kebun yang sangat indah, ditanami semua tanaman buah-buahan di dunia.
Kebun itu disirami aliran anggur, susu dan madu. Seperti surga konsep Nabi Muhammad, yang dijadikan modelnya, kebun itu mempunyai istana-istana kemilau, para penari, pemusik dan penyanyi. Dan semua itu hanya terlihat oleh orang-orang yang menganut paham Kaum Assassins.
Pemuda yang dilatih dengan berbagai kecakapan perang di istana Orang Tua itu kemudian diantar keluar, dibawa ke kebun tersembunyi, diinisiasi.
Mereka hidup dalam kemewahan di sana selama beberapa hari, diyakinkan bahwa pemimpin mereka telah memulangkan mereka ke surga.
Ketika mereka tiba-tiba tertidur lagi dan dibawa pulang ke istananya, mereka pun dengan penuh semangat juang mempertaruhkan hidup demi dia agar bisa kembali ke surga.
“Jauh mereka pergi,” simpul Marco Polo, ‘dan melakukan semua yang diperintahkan kepada mereka.
Demikianlah hal itu terjadi sehingga tidak seorang pun pernah melarikan diri ketika Sheik pegunungan itu menginginkan dia mati.
Pemimpin kaum Assassin adalah Hassan Ibn al-Sabbah, seorang penyair dan ilmuwan, yang pada abad ketigabelas membentuk sekte Shiah dan kaum Ismailiah, Hashshishin.
Guna memberikan kesan baik kepada para pemimpin perang lain, dia memerintahkan para pembantunya untuk menikam diri sendiri atau melompat hingga mati dari tembok-tembok kuil sesuai perintahnya.
Mereka selalu mematuhinya. Pengorbanan mereka yang langsung bagaimanapun menakutkan semua musuh mereka.
Seperti kita ketahui dari para pengikut terorisme Islam modern, ganjaran ilahi yang sama juga dijanjikan kepada semua pembunuh fanatik itu. Jatuhnya World Trade Center menjadi tiket menuju surga. Penghancuran diri merupakan tindak penyelamatan.
Demikian juga, jauh pada masa lampau, dalam kuil dan kebunnya di Alamut, Hassan mengindoktrinasi para pemuda untuk pergi membunuh para musuhnya, biasanya dengan taruhan nyawa mereka sendiri.
Dari pasukan bunuh diri inilah berasal kata ‘fedayeen’ yang masih digunakan berkaitan dengan para gerilyawan Palestina.
Bidaah Kaum Assassin melihat kesatuan militer Kristen, Knights Templar sebagai musuh yang bersedia menghancurkan para pemimpin Sunni Suriah dan negara-negara Arab lainnya, termasuk juga menjadi anggota sejumlah organisasi rahasia mereka.
Sebagai pasukan Kerajaan Yerusalem yang tetap menjaga kerajaan, beberapa ratus Templar Knights menjaga Kota Suci dan rangkaian istana rusak yang terpencar-pencar di semua penjuru Palestina.
Persatuan para pemimpin Muslim yang melawan mereka mengalami masa akhirnya. Dengan demikian, mereka sangat dipengaruh oleh sekte subversif, Kaum Assassins, tidak tersentuh dalam pusat-pusat pertahanan pegunungan mereka.
Diplomasi diikuti tindakan zalim menyebabkan kurangnya sumberdaya manusia. Apapun perbedaan doktrinnya, musuh dari para musuh sebetulnya adalah sahabat.
Sekte Ismailiah meyakini bahwa hukum dan Alkitab Muslim memiliki pengertian pokok (inner meaning) yang hanya diketahui para imam. Mereka pun mengajarkan bahwa ada tujuh nabi; Adam, Nuh, Abraham, Musa, Yesus, Muhammad dan Imam Ismail.
Dalam tatapenciptaan, para nabi berada pada tingkat Panalaran Universal (Universal Reason), tingkat kedua sesudah Allah sendiri.
Yang terakhir dalam tujuh lapisan rantai penciptaan ini adalah manusia. Meski Allah sendiri tidak dapat dipahami, manusia dapat melewati tingkat-tingkat itu hingga mencapai Penalaran Universal, sehingga aspek baru pengajaran akan diwahyukan kepadanya pada semua tingkat.
Karena pandangan-pandangan ini dipandang sebagai bidaah, setiap calon anggota kaum Ismailiah dituntut untuk menyembunyikan keyakinannya sesuai tuntutan kaum Shiah agar merahasiakannya sehingga secara lahiriah patuh pada agama negara.
Yang paling mendasar dalam tulisan-tulisan kaum Ismailiah adalah pencarian pelancong yang terobsesi seperti Perceval ketika mencari Piala Suci.
Para calon anggota ini mencari kebenaran lewat berbagai ujicoba dan penderitaan hingga akhirnya diterima dalam iman oleh seorang imam, yang memperlihatkan kepadanya pengertian sejati dari hukum dan Alkitab Muslim.
Pencarian dilukiskan Hassan Ibn al- Sabbah. Dalam memoirnya, dia mengisahkan bagaimana dia mengejar kekuatan spiritual lewat sarana-sarana kekuatan politik dan mengubah peran para penganut Ismail dengan mengubahnya menjadi pembunuh demi iman.
Pada waktu bersamaan, dia memodifikasi tingkat-tingkat inisiasi. Satu-satunya penjelasan atas misteri-misteri ini dituliskan oleh para ilmuwan Eropa yang belakangan, yang melihat hirarki Ismailiah itu sendiri sebagai sekedar cuci otak.
Menurut kisah para ilmuwan itu, ajaran yang diberikan pada setiap tingkat menegasi apa saja yang sudah diajarkan sebelumnya.
Rahasia terdalam kaum Assassin adalah pandangan bahwa Surga dan Neraka itu sama saja, semua tindakan itu diragukan, dan tidak ada yang baik dan yang jahat selain kebajikan untuk mematuhi pimpinan sekte. (Bersambung)







