Menu

Mode Gelap

News

Dari Nilai Minus 5 hingga Permintaan Maaf & Beasiswa ke Tiongkok dari MPR untuk Yosepha Alexandra

badge-check


					Yosephan Alexandra, pelajar SMA1 Pontianak, yang telah meluluhkan keangkuhan dewan juri, hingga tawaran beasiswa studi ke Tiongkok pasca nilai minus 5. Foto: ist Perbesar

Yosephan Alexandra, pelajar SMA1 Pontianak, yang telah meluluhkan keangkuhan dewan juri, hingga tawaran beasiswa studi ke Tiongkok pasca nilai minus 5. Foto: ist

Penulis: Sri Muryanto   |  Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, PONTIANAK – Di tengah riuh kompetisi yang seharusnya menjunjung luhur 4 Pilar Kebangsaan, momen langka terjadi: seorang siswi berani melawan keputusan juri, jawaban benar disalahkan, lalu berbalik jadi pelajaran paling berharga yang menghebohkan se-Indonesia.

Nama Yosepha Alexandra, siswi Kelas XI SMA Negeri 1 Pontianak, kini terukir bukan hanya sebagai peserta lomba, tapi simbol integritas generasi muda .

Dihukum Minus 5

Peristiwa berakar di babak final Lomba Cerdas Cermat 4 Pilar MPR RI Tingkat Kalimantan Barat, Sabtu (9/5/2026) di Aula Kantor Gubernur Kalbar.

Pertanyaan krusial terlontar: “DPR dalam memilih anggota BPK wajib memperhatikan pertimbangan lembaga apa?”

Yosepha menekan bel paling cepat, menjawab tegas:

“Anggota BPK dipilih DPR dengan pertimbangan DPD, lalu diresmikan Presiden.”

Jawaban itu 100% sesuai UUD 1945, tapi juri pimpinan Dyastasita WB (Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR) langsung memotong: “Minus 5 poin!”

Beberapa menit kemudian, regu lawan menjawab kalimat persis sama dan dinyatakan BENAR, dapat nilai tambah . Di depan ratusan hadirin, Yosepha tak diam: berdiri tegak, suaranya lantang memprotes, mempertahankan fakta hukum, dan menuntut penjelasan adil. Aksi itu direkam, menyebar cepat, memicu gelombang kemarahan publik nasional.

Balik Arah Pimpinan MPR

Hari ini, Selasa (12/5/2026), perubahan drastis terjadi. Pukul 09.15 WIB, telepon genggamnya berdering—nomor resmi Sekretariat Jenderal MPR.

Di seberang sana suara Wakil Ketua MPR RI, Abcandra Muhammad Akbar Supratman, diikuti Anggota MPR sekaligus Ketua Komisi II DPR, Muhammad Rifqinizamy Karsayuda, menyampaikan hal yang tak disangka: permohonan maaf resmi.

“Josepha, atas nama seluruh pimpinan dan jajaran MPR, kami minta maaf sebesar-besarnya. Ada kelalaian fatal juri, penilaian tak adil, dan kami akui kamu benar sepenuhnya. Sikapmu yang mempertahankan kebenaran adalah contoh terbaik makna 4 Pilar yang kami sosialisasikan,” ujarnya lirih namun tegas lewat sambungan telepon dan video call.

Bukan cuma kata maaf: MPR mencopot dan menonaktifkan juri yang bersalah, mengumumkan hasil lomba dibatalkan, akan diulang, dan memberi kepastian hukum ke tim SMA 1 Pontianak.

Hadiah Kehormatan

Lebih dari itu, sebagai bentuk apresiasi luar biasa atas integritas, tawaran istimewa disampaikan langsung:

  • Beasiswa penuh S1 ke Universitas terkemuka di Tiongkok atau kampus pilihannya, ditanggung MPR & mitra strategis
  •  Biaya hidup, asrama, tiket pesawat pulang-pergi ditanggung total
  • Jaminan kerja di perusahaan multinasional nasional/asing segera setelah lulus
  •  Diundang hadir langsung ke Gedung MPR Jakarta hari ini juga, diterima layaknya tamu kehormatan, didampingi Kepsek Dra. Indang Maryati & guru pembimbing

“Ini bukan kompensasi kesalahan, tapi penghargaan pada jiwa nasionalismemu. Kamu buktikan: kebenaran tak boleh tunduk pada kekuasaan,” tegas Rifqinizamy, yang juga alumnus SMA 1 Pontianak.

Suara dari Hati Yosepha & Sekolah

Ditemui di ruang guru siang ini, gadis 17 tahun itu masih terharu, matanya berkaca:

“Saya cuma berpegang: apa yang benar, harus dipertahankan. Tak menyangka akan seheboh ini, apalagi dapat maaf dan beasiswa sebesar ini. Terima kasih Allah, guru, orang tua, dan rakyat Indonesia yang mendukung. Ini tanggung jawab besar, saya harus makin rajin belajar.”

Kepala Sekolah Dra. Indang Maryati pun merasa bangga atas buahnpiiir dab sikap anak didiknya yan tegas dan berani benar itu.

“Kami tak mengajarkan menang apa pun caranya, tapi menang karena benar. Hari ini Josepha buktikan, murid kami bukan cuma pintar hapalan, tapi punya nyali dan hati nurani. Ini kebanggaan tak ternilai bagi sekolah.”

Inilah Pelajaran Sesungguhnya

Kasus ini jadi pelajaran nasional paling berharga. Kebenaran tetap menang, meski sempat tertekan; Integritas lebih berharga dari piala atau juara semu; Lembaga negara berani mengakui salah, memperbaiki diri, memberi teladan

Generasi muda Indonesia kritis, percaya diri, dan paham haknya

Inilah kisa nyata dari panggung lomba yang tak adil, lahir sebuah kemenangan akal budi, mengubah nasib, dan mengingatkan seluruh bangsa—bahwa nilai paling mulia tak ada pada angka di papan skor, melainkan pada keberanian berdiri untuk kebenaran. **

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

AMPB Kerahkan 3.000 Demo ke Polres Pati, Kapolres: Pintu Dialog Terbuka Lebar

12 Mei 2026 - 22:15 WIB

Ruang Kelas MIM Karanganyar Ambruk Guru dan 7 Siswa Lukaluka, Usia Bangunan 47 Tahun

12 Mei 2026 - 17:22 WIB

50 Siswa Kelas IV SD/MI Jombang Berlaga dalam Ajang Lomba Bertutur 2026

12 Mei 2026 - 15:26 WIB

Rekor Pecah Sejak RI Merdeka 1US Dolar Sentuh Rp17.520, Pemerintah Tampak Tenang Tidak Tumbang!

12 Mei 2026 - 13:18 WIB

Gus Thuba Deklarasikan Yakusa Meneges di Kediri, Ternyata Ini Maknanya

12 Mei 2026 - 12:18 WIB

Bawa Bondet dan Celurit, Babinsa Grati Ringkus Satu dari Tiga Pelaku Curanmor di Depan SDN 1 Kalipang

11 Mei 2026 - 22:30 WIB

Brigpol Arya Supena Gugur, Polda Lampung Kerahkan 800 Personel Memburu Tesangka Pelaku

11 Mei 2026 - 21:17 WIB

Target B50 Juli 2026, Pemerintah Antisipasi Kendala Teknis

11 Mei 2026 - 19:47 WIB

Baru Dapat Menu Daging: 197 Siswa SD-SMP Tembok Dukuh Surabaya Keracunan

11 Mei 2026 - 19:03 WIB

Trending di News