Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

News

Jelajahi Jalan Desa Karuing 1.340 M, Bergemeretak Kaki Bersih Tanpa Debu

badge-check


					Inilah jalan desa Karuing yang panjagnya mencapai 1.340 meter. terbuat dari bahan kayu ulin yang sangat kuat dan mahal harganya. Foto; Gandhi Wasono Perbesar

Inilah jalan desa Karuing yang panjagnya mencapai 1.340 meter. terbuat dari bahan kayu ulin yang sangat kuat dan mahal harganya. Foto; Gandhi Wasono

KREDONEWS.COM, KARUING- Bagi orang penyuka travelling terutama penggemar jelajah daerah baru, atau siapapun yang punya hobi memfoto obyek alam liar, maka desa Karuing adalah alamat yang tepat untuk dituju. Desa ini berada di kecamatan Kamipang, kabupaten Katingan, provinsi Kalimanntan Tengah. Disanalah jurnalis Kredonews.com, Gandhi Wosono, sempat  jelajahi jalan desa ini, juga keluar masuk di sebagian kecil hutan Taman Nasional Sebangau yang luasnya mencapai 568.700 hektare.

Desa ini memang menarik. Di sepanjang tepian sungai mulai dari desa Karuing hingga Desa Pagatan yang paling ujung menghadap laut Jawa yang berjarak ratusan kilometer terdapat puluhan desa yang berjauhan. Antar satu desa dengan desa lain tidak ada jalan darat, semua melalui jalur air. Jarak antar desa juga bervariasi, ada yang cukup 30 menit  menggunakan ces. Tapi ada yang memerlukan waktu 1,5 jam lamanya untuk bisa sampai tujuan.

Sedang dari Karuing ke arah hulu atau orang menyebut daerah atas yang masuk wilayah Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, harus menempuh  jarak ratusan kilometer pula. Di sepanjang aliran Katingan (sepanjang 650 km) terdapat desa-desa yang dihuni oleh suku Dayak. Yang menarik masing-masing suku memiliki perbedaan adat istiadat, kepercayaan, agama dan bahasa. Masyarakat Dayak, ada yang menganut kepercayaan asli yakni Kaharingan, Kristen juga Islam.

Bahkan soal bahasa daerah suku Dayak memiliki ragam bahasa yang sangat banyak. Dimana antar suku yang tinggal di satu kampung berbeda sama sekali dengan kampung lainnya.

Desa Karuing sendiri dihuni 184 KK terdiri dari 560 jiwa dan masuk golongan suku Dayak Katingan yang mayoritas beragama Islam. Lokasi desa ini berhimpitan dengan kawasan hutan sehingga udaranya bersih segar tanpa ada kendaraan bermotor. Hanya sesekali terlihat orang tengah mengayuh sepeda onthel.

Satu-satunya alat transportasi antar desa, menggunakan perahu ces. Foto; Gandhi Wasono

Jalan utama desa Karuing,  dari ujung ke ujung sepanjang 1.340 meter. Semua  terbuat dari kayu ulin selebar 1.5 meter. Jadi ketika berjalan diatasnya, maka terdengar  “musik” alias suara glodakan yang mengiringi sepanjang perjalanan. Jalan desa Karuing diapit oleh deretan rumah penduduk.

Satu deret rumah warga membelakangi sungai dan satu deret lainnya membelakangi hutan desa. Karena lembab dan semua bangunan berada diatas panggung, maka desa ini nyaris tidak berdebu. Selama dua pekan, saya jalan jalan keluar rumah di Karuing, sering nyeker tanpa alas kaki.  Meski begitu kaki selalu bersih, karena tidak menyentuh tanah.

Persoalan utamanya adalah tidak ada saluran listrik PLN. Untuk penerangan,  masing-masing rumah menggunakan panel surya, tapi sumber daya hanya mampu menyalakan lampu dengan watt rendah dengan waktu terbatas. Sebagian warga memiliki diesel pembangkit listrik. Tenaga listrik diesel ini, oleh warga  selain untuk keperluan rumah, juga penerangan. Lebih dari itu,  untuk  ngecas handphone.

Di desa Karuing dilengkapi fasilitas pendidikan TK, SD dan SMP. Foto: Gandhi Wasono

Pun demikian saluran seluler juga tergantung dengan cuaca. Kalau pas terik matahari BTS seluler bisa bekerja seharian tetapi kalau hujan atau mendung jangan kaget handphone tiba-tiba mati, karena pasokan listrik dari panel surya berhenti.

Fasilitas pendidikan di desa tersebut terdapat sekolah TK, SD dan SMP. Selepas SMP ingin melanjutkan ke SMA, maka siswa harus ke Kasongan, ibukota Kabupaten Katingan atau ke Palangkaraya, ibukota provinsi.

“Kalau ingin melanjutkan SMA harus kos di luar daerah. Itulah salah satu penyebab anak Karuing sebagian besar hanya tamatan SMP karena orangtua nya tidak mampu menyekolahkan keluar desa,” kata Jeki warga setempat yang mendampingi kemanapun kami pergi.**

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Menelisik Akar Terorisme (55): Kisah Pembantaian 100 Pria dan 5 Wanita Pelancong

9 September 2026 - 19:53 WIB

5 Jurnalis dan 2 Kru Kapal Belum Ditemukan, Hilang Saat Liputan Erupsi Anak Krakatau Sejak 7 September 2026

9 September 2026 - 19:22 WIB

Dapur Utama dan Ruang Gizi RSUD Saiful Anwar Terbakar, Tidak Menyentuh Gedung Perawatan Kesehatan

9 September 2026 - 17:43 WIB

Air Laut Surut dan Gempa Mag 3,8 Terjadi di Sekitar Gunung Anak Krakatau, BMKG: Tenang Bukan Tsunami

9 September 2026 - 16:59 WIB

Tidak Masuk Akal Gelombang Keracunan Terus Terjadi: 300 Lebih Siswa SMP dan MTs Pati Diangkut ke Rumah Sakit

9 September 2026 - 16:14 WIB

Truk Tangki Air Angkut 1,5 Juta Batang Rokok Putih, Bea Cukai: Kerugian Negara Rp1,5 Miliar

9 September 2026 - 11:09 WIB

Elektabilitas Gerindra Naik 14.4 Persen, Rahmat Muhajirin: Bukti Program Presiden Prabowo Diterima Masyarakat

9 September 2026 - 09:30 WIB

Keterlaluan Tiga Kali SMAN 1 Tunjungan Blora Keracunan, Wabup Perintahkan SPPG Sukorejo 2 Tutup Permanen

9 September 2026 - 08:24 WIB

Mendahului Neuralink, RRT Izinkan Implan Cip NEO untuk Pulihkan Penderita Lumpuh

8 September 2026 - 06:57 WIB

Trending di News