Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS.COM, JAKARTA-Jajanan tradisional bernama bangkerok masih bertahan di tengah maraknya kuliner modern. Makanan berbahan dasar ketan asal Sunda ini memiliki cita rasa khas dengan isian bumbu kacang yang gurih dan manis.
Bangkerok merupakan makanan berbahan ketan yang dikukus hingga menjadi nasi. Di bagian tengahnya, makanan ini diisi bumbu kacang merah yang dicampur bawang putih, cabai rawit, dan gula.
“Bangkerok itu makanan dari beras ketan, kemudian dimasak. Lalu dikukus, dikasih bumbu tengahnya pakai bumbu kacang, kacang merah,” ujar Anjel, penjual jajanan bangkerok dalam perbincangan bersama Pro3 RRI, Minggu 17 Mei 2026.
Anjel mengkau sudah menjual bangkerok selama empat tahun. Resep tersebut merupakan warisan keluarga dari sang ibu almarhum.
Menurutnya, bangkerok paling nikmat disantap saat masih hangat. Meski tanpa bahan pengawet, jajanan tradisional ini dapat bertahan hingga tiga hari sehingga kerap dibawa pelanggan untuk perjalanan luar kota.
“Saya enggak pakai pengawetnya apa-apa ya, cuma dikukus aja. Tapi ini kuatnya makanan sampai tiga hari,” katanya.
Ia menjual bangkerok secara online dan menerima pesanan untuk berbagai acara seperti pengajian hingga arisan. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan sekitar lima kilogram ketan atau setara 50 porsi bangkerok.
“Alhamdulillah saya seminggu selalu masak, terkadang 20, ada yang sampai 50 sehari. Biasanya untuk pengajian atau tasyakuran, karena harga kita merakyat,” ujarnya.
Untuk harga, bangkerok ukuran kecil dijual Rp12 ribu, sedangkan ukuran besar dibanderol Rp25 ribu. Ia menyebut banyak pelanggan kembali memesan karena cita rasanya yang khas dan berbeda dari jajanan modern.
Selain varian original dengan isian kacang, bangkerok juga bisa dikreasikan menggunakan pisang matang dan susu cokelat. Menurut Anjel, ketan cocok dipadukan dengan berbagai bahan makanan.
Pesanan bangkerok miliknya juga sudah dikirim ke berbagai daerah seperti Bali dan Bromo. Bahkan, ia pernah menerima pesanan hingga 100 porsi untuk acara pengajian di luar kota.
Anjel tetap mempertahankan eksistensi bangkerok melalui penjualan dari mulut ke mulut dan media sosial Facebook. Ia berharap masyarakat tetap melestarikan jajanan tradisional khas daerah.***











