Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Headline

Ini Implikasinya, BMKG: Sesar Opak Aktif, Jogja Diguncang 22 Gempa dalam Sepekan

badge-check


					Warna biru pada peta ini menunjukkan wilayah Sesar Opak yang sedang aktif. Menyebabkan wialayah Jogjakarta diguncang gempa sebanyak 22 kali dalam sepekan, data hingga Jumat, 6 Februari 2026. Foto: BMKG Perbesar

Warna biru pada peta ini menunjukkan wilayah Sesar Opak yang sedang aktif. Menyebabkan wialayah Jogjakarta diguncang gempa sebanyak 22 kali dalam sepekan, data hingga Jumat, 6 Februari 2026. Foto: BMKG

Penulis: Sri Muryanto  |  Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, JOGJAKARTA–  Warga Jogjakarta dan sekitarnya kembali digegerkan deretan gempa bumi dalam seminggu terakhir. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) BMKG,  mencatat 22 kejadian gempa sejak 30 Januari 2026, dengan magnitudo terbesar mencapai 3.8 Skala Richter (SR).

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan fenomena ini dipicu aktivitas sesar Opak yang berada di wilayah tersebut.

Kepala Balai PVMBG Yogyakarta, Dr. Imam A. Riyadi, menjelaskan dalam konferensi pers virtual Jumat (6/2) bahwa gempa-gempa tersebut bersifat tektonik yang berasal dari segmen aktif Sesar Opak.

“Sesar Opak memiliki panjang sekitar 70 km, membentang dari selatan Gunung Merapi hingga Samudra Hindia. Aktivitasnya meningkat sejak 2006 pasca-gempa besar magnitudo 6,3 yang mencapai lebih dari 5.700 jiwa,” jujar Imam.

Data BMKG menunjukkan kronologi gempa sebagai berikut:

  • 30 Januari 2026 : Total panjang 2,5 s/d 14.32 WIB, kurang lebih 7 km menuju Cangkringan, Sleman.

  • 1 Februari : Tiga gempa beruntun (M 2.8–3.2 SR) di malam hari, dirasakan hingga Klaten.

  • 3–5 Februari : Kegiatan puncak dengan 12 gempa, termasuk M 3,8 SR pada 4 Februari pukul 05.17 WIB, getarannya terasa III–IV MMI di Bantul dan Kulon Progo.

  • 6 Februari (siang) : Dua gempa kecil M 2.1–2.4 SR.

Sumber: Data BMKG/PVMBG per 6 Februari 2026, dikonfirmasi per resmi, dan arsip UGM

Tidak ada laporan korban jiwa atau kerusakan signifikan, namun warga diimbau untuk tetap waspada.

“Intensitas gempa ini belum menandakan potensi gempa besar, tapi pemantauan 24 jam terus dilakukan. Kami sarankan hindari tambah bangunan rapuh dan ikuti protokol 3M: Menjauh, Membungkuk, Menggenggam,” Imam.

Sesar Opak pernah aktif pada tahun 2006, memicu gempa dahsyat yang menghancurkan ribuan rumah di Bantul. Sejak itu, aktivitas minor sering terjadi, terakhir pada tahun 2023 dengan 15 gempa dalam sebulan.

Ahli geologi dari UGM, Prof. Bambang Suwignyo, menambahkan, “Peningkatan ini wajar karena tekanan tektonik di Lempeng Indo-Australia terus mendorong lempeng Eurasia. Pemetaan ulang sesar diperlukan untuk mitigasi.”

Pemerintah Daerah DIY melalui BPBD telah mengaktifkan posko siaga dan sosialisasi evakuasi. Anda juga dapat mendownload aplikasi Info BMKG dan mendapatkannya melalui maghla.bmkg.go.id.

Risiko Utama

Fenomena ini sering memicu gempa kecil hingga sedang, seperti yang terjadi pada tahun 2006 (M 6.3, >5.700 korban jiwa dan ratusan ribu bangunan rusak). Guncangan kuat berpotensi di jalur sesar (Bantul, Sleman, Klaten) karena kedalaman hiposenter dangkal, ditambah bahaya ikutan seperti likuifaksi tanah di Sungai Opak, longsor perbukitan, dan runtuhnya bangunan.

Dampak Sosial-Ekonomi

Warga merasakan “lindu” atau getaran ringan secara intensif, menyebabkan trauma psikologis, keluhan sementara, dan gangguan aktivitas sehari-hari. Secara ekonomi, berisiko merusak infrastruktur pariwisata, pertanian, dan bangunan gempa non-standar, meskipun mitigasi seperti standar IMB aman gempa telah ditingkatkan pasca-2006.

Mitigasi 

BMKG menecankan pemantauan 24 jam, literasi bencana, dan peta detail sesar untuk antisipasi. Namun hal ini mungkin disebabkan karena mungkin digunakan oleh 3M (Menjauh, Membungkuk, Menggenggam). **

()

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Menteri Yusril Minta Ombudsman Buka Semuanya, Izinkan Wartawan Masuk ke LP Cibinong

25 September 2026 - 13:11 WIB

Komisi C Soroti Proyek Revitalisasi 128 Gedung SD/ SMP Jombang dengan Anggaran Rp77,5 Miliar

25 September 2026 - 12:44 WIB

Menelisik Akar Terorisme (61): Nechayev Sang Teroris Muda Kharismatik

25 September 2026 - 11:52 WIB

Marathon KPK Geledah Kanwil ATR/ BPN Jatim, Malang dan Rumah Milik Lampri di Pace Nganjuk

25 September 2026 - 10:46 WIB

Kantor Digeledah, Istri Dirjen ATR/ BTN Krystianti Lampri Cuti Menghilang Secara Misterius

24 September 2026 - 23:50 WIB

PIHPS: Cabai Rawit Tembus Lebih dari Rp100 ribu Per Kilogram

24 September 2026 - 19:59 WIB

Pengusaha Kapal Akui Tak Semua Operator Berani Angkut Kendaraan Listrik

24 September 2026 - 19:48 WIB

Oknum Diknas Minta Jatah 10% dari Dana Revitalisasi 180 Gedung SD/ SMP di Bangkalan Rp38 Miliar

24 September 2026 - 16:56 WIB

Tim Ombudsman Sidak ke LP CIbinong: Temukan Bangunan Mirip Hotel dan Deretan Mobil Mewah!

24 September 2026 - 15:32 WIB

Trending di News