Penulis: Arief Hendro Soesatyo | Editor: Priyo Suwanro
KREDONEWS.COM, JOMBANG– Dinas Pertanian (Disperta) Kabupaten Jombang menggelar kegiatan Pelatihan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Tembakau, Rabu, 30 Juli 2025, pelatihan dilaksanakana di kantor dinas.
Tercatat sebanyak 250 petani tembakau dari lima kecamatan sentra tembakau, yaitu Kabuh, Ploso, Plandaan, Kudu, dan Ngusikan.
Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas petani dalam hal pengendalian dan penanganan serangan OPT pada tanaman tembakau, sekaligus memberikan informasi penting mengenai mitigasi dampak perubahan iklim terhadap budidaya tembakau.
Sebagai wujud kolaborasi lintas lembaga, Dinas Pertanian Jombang menggandeng dua institusi strategis, yaitu Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Perkebunan (BBTP) Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian serta BMKG Karangploso, Malang.
Maksum Purwanto adalah seorang meteorolog dan pengamat geofisika di BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Indonesia). Ia memegang posisi sebagai PMG Muda (posisi profesional meteorologi) dan memiliki latar belakang pendidikan S.Si (Sarjana Sains).
Ia sering menjadi narasumber BMKG dalam berbagai kesempatan, termasuk penjelasan mengenai fenomena cuaca seperti “kemarau basah” di Jawa Timur, yaitu kondisi saat curah hujan tetap tinggi meskipun memasuki musim kemarau.
Maksum Purwanto menjelaskan bahwa fenomena ini bukan disebabkan oleh El Nino atau La Nina, melainkan dipengaruhi oleh gelombang atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation dan Equatorial Rossby Waves.
Selain itu, ia juga memberikan wawasan meteorologi terkait gangguan atmosfer dan pola hujan di Jawa Timur, seperti penjelasan tentang hujan yang terjadi karena gelombang Rossby di wilayah Malang.
Singkatnya, Maksum Purwanto adalah meteorolog BMKG yang kredibel dan aktif dalam komunikasi publik serta analisis fenomena cuaca dan iklim di Indonesia.
Berdasarkan prakiraan BMKG, musim kemarau tahun ini mengalami kemunduran akibat dampak El Nino, sehingga membutuhkan penyesuaian strategi budidaya.
Ia menyampaikan enam langkah strategis dalam menghadapi anomali cuaca:
- Penggunaan teknologi irigasi untuk efisiensi air,
- Pemilihan varietas tembakau yang toleran terhadap stres lingkungan,
- Pengelolaan tanah secara optimal,
- Penggunaan mulsa untuk menjaga kelembaban tanah,
- Pemantauan kondisi cuaca secara berkala, dan
- Koordinasi intensif dengan penyuluh pertanian guna mendapatkan rekomendasi teknis yang tepat.
Sementara itu, Asri Wuryati, POPT dari Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Perkebunan Provinsi Jawa Timur, menekankan pentingnya pengamatan lapangan secara rutin untuk mencegah serangan OPT.
“Petani harus aktif melakukan pengendalian sesuai arahan dari POPT dan PPL untuk menekan risiko gagal panen,” ujarnya.
Dengan memahami dan menerapkan strategi yang telah disampaikan, diharapkan para petani dapat tetap memperoleh hasil panen tembakau yang optimal meskipun menghadapi tantangan dari cuaca ekstrem dan serangan OPT.
Dinas Pertanian Jombang berharap pelatihan ini menjadi langkah awal dalam penguatan ketahanan petani tembakau menghadapi dinamika iklim dan tantangan teknis di lapangan.
Produksi
Produksi tembakau di Kabupaten Jombang pada tahun 2025 diperkirakan akan mendekati atau sedikit meningkat dari capaian tahun 2024. Data tahun 2024 menunjukkan luas lahan tanam tembakau mencapai sekitar 6.154 hektar dengan produktivitas daun basah antara 17 hingga 20 ton per hektar. Total produksi pada 2024 tercatat sekitar 91.667 ton daun basah.
Dukungan dari Pemerintah Kabupaten Jombang melalui Dinas Pertanian, termasuk alokasi anggaran APBD untuk sarana budidaya dan peningkatan kapasitas petani, serta bantuan pupuk NPK sebanyak 350 ton untuk petani tembakau di tahun 2025, diharapkan dapat menjaga atau meningkatkan produksi ini.
Belum ada angka mutakhir spesifik tahun 2025 yang sudah pasti, berdasarkan tren dan dukungan pemerintah, produksi tembakau Jombang tahun 2025 diperkirakan berada di kisaran sekitar 90.000 ton daun basah atau lebih. **