Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Headline

Gempa di Myanmar Namun Bangkok Terdampak Parah, Ini Penyebabnya

badge-check


					Ilustrasi jarak pusat gempa dari Bangkok, Foto:Chsnel4news Perbesar

Ilustrasi jarak pusat gempa dari Bangkok, Foto:Chsnel4news

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

KREDONEWS.COM-JAKARTA: Myanmar baru saja dilanda dua gempa besar beruntun (doublet) dengan magnitudo M7,6 dan M7,2 yang terjadi hanya berselang 11 menit, 29 Maret 2025

Keduanya memiliki hiposenter dangkal,
di Jalur Patahan Sagaing dekat Mandalay, Myanmar memperparah dampak guncangan dan memicu kerusakan parah di sejumlah wilayah.

Getarannya begitu kuat hingga dirasakan hingga ke negara-negara tetangga. Beberapa kota besar yang dilintasi Sesar Sagaing —pemicu gempa ini— antara lain Mandalay, Sagaing, Naypyidaw, Bago, dan Yangon

Keberadaan sesar aktif ini meningkatkan risiko bencana bagi kawasan urban di sekitarnya, bahkan kerusakan terjadi di Bangkok yang mana berjarak hingga 1000 Km.

Baca juga

Viral, Gak Kaleng-kaleng, Kepala Desa Ini Minta Anggaran THR Rp165 Juta

Alasan Kedelai, Tempe Tahu Beserta Turunannya Berbahaya untuk

Mengapa Bangkok Ikut Terdampak?

Daryono, pakar gempa dari BMKG, menjelaskan bahwa kerusakan di Bangkok terjadi akibat “efek Vibrasi Periode Panjang (Long Vibration Period)” di mana gelombang gempa dari sumber jauh direspons oleh tanah lunak. Akun media sosialnya menyebutkan:

“Fenomena ini disebut efek Vibrasi Periode Panjang (Long Vibration Period) di mana gelombang gempa yang sumbernya jauh direspons tanah lunak.”

Bangkok memiliki lapisan tanah lunak tebal yang beresonansi dengan getaran gempa jauh, mengancam stabilitas gedung-gedung tinggi.

Kasus serupa pernah terjadi pada 1985, ketika gempa M8,1 di subduksi Cocos, Meksiko, merusak Mexico City meski berjarak 350 km dari episentrum.

Sebanyak 9.500 korban jiwa tercatat, sebagian besar akibat ambruknya bangunan di atas tanah bekas rawa yang direklamasi

Bahaya Tanah Reklamasi & Efek Direktivitas

Pertama: Penelitian menunjukkan bahwa reclaimed land (tanah reklamasi) terdiri dari unconsolidated material (material lepas tidak terikat) yang sangat rentan jika terjadi gempa kuat.

Kedua: Jerusakan di Bangkok juga mungkin dipicu oleh efek direktivitas, yaitu pemusatan energi gempa dalam satu arah. Semakin tinggi direktivitas, semakin besar potensi kerusakan pada area tertentu.

Ringkasan

– Gempa doublet Myanmar berdampak luas karena kedalaman dangkal dan lokasi di sesar aktif.
– Bangkok terdampak akibat resonansi tanah lunak dan efek direktivitas.
– Tanah reklamasi berisiko tinggi saat gempa karena sifat materialnya yang tidak stabil.***

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Gempa Mag 7,7 Guncang Flores, Pemerintah: Waspadai Tsunami

15 Agustus 2026 - 09:15 WIB

Iran Mampu Bikin Dunia Krisis Teknologi bagi Dunia: Helium dan Hormuz

14 Agustus 2026 - 23:10 WIB

Presiden Resmikan Jembatan Garuda Carangwulung Bersama 3.395 Jembatan di Indonesia

14 Agustus 2026 - 09:59 WIB

Pemkab Jombang Luncurkan Aplikasi PRIME 169: Pangkas Birokrasi dan Pengawasan

13 Agustus 2026 - 20:29 WIB

Festival Gambus Misri Muncul di Sumobito setelah 40 Tahun Menghilang

11 Agustus 2026 - 16:17 WIB

Bupati Warsubi Lantik Pusoko Jadi Kades Antar Waktu Sumberteguh Kudu

11 Agustus 2026 - 16:07 WIB

Mirip Film Perang Fiksi, RRT Lawan Nyamuk Gunakan Senjata Laser

10 Agustus 2026 - 20:34 WIB

Ritual Malam Bakar Obat Nyamuk Nasional, Nilai Pasar Rp7,8 Triliun/ Tahun

10 Agustus 2026 - 19:44 WIB

Prakiraan APBD Jombang 2027: Cuma Naik Rp167 Miliar

10 Agustus 2026 - 16:23 WIB

Trending di News