Penulis: Glent Morsby Gumolung | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, MANADO – Update hingga saat ini, gempa magnitudo 7,6 yang mengguncang Bitung, Sulawesi Utara, pada hari Kamis pagi 2 April 2026, telah menyebabkan korban jiwa dan banyak kerusakan infrastruktur di wilayah Bitung dan sekitarnya.
-
Satu korban meninggal dunia, yakni seorang lansia perempuan berusia sekitar 69–70 tahun (Deyce Lahia/Adeitje Lahia) yang tertimpa reruntuhan gedung di kawasan Sario/Manado.
-
Terdapat dua orang lain yang mengalami luka‑luka, sehingga total korban tercatat tiga orang (1 meninggal, 2 luka).
-
Beberapa bangunan rusak hingga runtuh, termasuk Gedung KONI Sario/Manado (Hall B) yang mengalami kerusakan parah dan bagian kanopi runtuh.
-
Di Bitung, pemerintah melaporkan empat kecamatan terdampak, dengan sejumlah bangunan pemerintah rusak, termasuk kantor wali kota dan kantor BPBD Bitung.
Dampak
BMKG mendeteksi gelombang tsunami kecil dengan kenaikan muka air berkisar 0,2–0,75 meter di sejumlah titik, seperti Belang, Bitung, Halmahera Barat, Minahasa Utara, dan Sidangoli, sehingga status siaga tsunami sempat diberlakukan.
Hingga kini tercatat beberapa gempa susulan (sekitar 11 gempa susulan tercatat BMKG), dan warga masih diimbau untuk tetap waspada.
Jika Anda butuh liputan struktur berita (lead, nara sumber, detail lokasi) bisa saya bantu susun versi artikel singkat.
Ddugaan terjadi tsunami sempat menguat dan bahkan sudah terdeteksi gelombang tsunami kecil di beberapa wilayah, namun belakangan status peringatan dini tsunami sudah diakhiri oleh BMKG.
-
BMKG awalnya mengeluarkan peringatan dini tsunami karena gempa berkekuatan magnitudo 7,6 berpusat di laut 129 km tenggara Bitung, sehingga berpotensi memicu tsunami di pesisir Sulawesi Utara dan Maluku Utara.
-
Sistem peringatan dini menunjukkan gelombang tsunami kecil terdeteksi di lima lokasi, dengan ketinggian sekitar 0,2–0,75 meter (misalnya di Bitung, Halmahera Barat, Belang, Minahasa Utara, dan Sidangoli), tetapi belum ada laporan kerusakan atau korban baru akibat gelombang itu.
-
BMKG Manado kemudian resmi mengakhiri peringatan dini tsunami setelah menganalisis data pasang surut dan gelombang di sejumlah tide gauge, sehingga masyarakat diimbau kembali ke normal dengan tetap waspada gempa susulan.
-
Secara praktis, dugaan tsunami “menguat” pada awal kejadian karena gelombang kecil terdeteksi, tetapi kemudian ditegaskan bahwa ancaman tsunami tidak meluas ke kategori besar dan status siaga sudah dicabut. **







