Menu

Mode Gelap

Uncategorized

Cerita Hari Ini: Sunan Bungkul, Petinggi Majapahit Penyebar Agama Islam Berumur 300 Tahun

badge-check


					Makam Mbah Bungkul di Surabaya Perbesar

Makam Mbah Bungkul di Surabaya

Penulis: Satwiko Rumekso | Editor: Yobie Hadiwijaya

KREDONEWS.COM, SURABAYA-Nama asli Sunan Bungkul adalah Ki Ageng Supo atau Mpu Supo, dan ia merupakan bangsawan di zaman Kerajaan Majapahit. Setelah mendapat hidayah dan memeluk Islam, Sunan Bungkul mengganti namanya menjadi Ki Ageng Mahmuddin/Syaikh Mahmuddin (1400-1481 M).

Dulunya Sunan Bungkul adalah seorang petinggi Kerajaan Majapahit, setingkat Tumenggung. Beliau diminta oleh Raja Majapahit, yang saat itu dipimpin Brawijaya, untuk menemani putra mahkota, yang lebih tertarik belajar agama dibanding mewarisi kerajaan, ke Sunan Bejagung di Tuban.

Putra Mahkota dan Tumenggung akhirnya belajar agama ke Sunan Bejagung yang memiliki nama asli Syaikh Abdullah Asy’ari. Syaikh Abdullah Asy’ari adalah adik dari Syaikh Maulana Ibrahim Asmoroqondhi, ayah Sunan Ampel dan kakek dari Sunan Bonang dan Sunan Drajat.

Di kemudian hari, putra mahkota Majapahit tersebut dijadikan menantu oleh Sunan Bejagung.

Hingga akhir hayatnya, sang putra mahkota tidak tertarik kembali ke Majapahit. Makam putra mahkota tersebut kini ada di Desa Bejagung, Tuban, dan lebih dikenal dengan makam Sunan Bejagung Kidul. Sedangkan makam Syaikh Abdullah Asyari atau Sunan Bejagung disebut makam Sunan Bejagung Lor.

Selepas kepergian Sunan Bejagung Kidul, Sunan Bungkul kembali ke Majapahit. Dalam perjalanannya, dia terus menyebarkan ajaran Islam hingga ke daerah Pati, Jawa Tengah.

Menurut kisah, Sunan Bungkul usianya mencapai sekitar 300 tahun. Bahkan Sunan Bungkul mempunyai banyak murid hingga di daerah Pati, Jawa Tengah. Sesampainya di Majapahit, Sunan Bungkul hidup di daerah Bungkul. Karena itu dia lebih dikenal sebagai Susuhunan Bungkul atau Sunan Bungkul.

Tidak diketahui pasti bagaimana makam Sunan Bungkul ada di Surabaya, sedangkan dulu dia hidup di Majapahit (daerah Trowulan, Mojokerto). Buku Oud Soerabaia yang ditulis GH Von Faber, ahli sejarah asal Belanda, menyebut bahwa saat zaman kolonial, Sunan Bungkul sengaja tidak mengungkap jati diri yang sebenarnya.

Dalam buku yang diterbitkan pada 1931 itu, tertulis, orang akan celaka (kualat, bahasa Jawa), jika mencoba mengetahui siapa sebenarnya Sunan Bungkul.

Mencari Menantu

Cerita lain, ia adalah mertua Sunan Ampel namun ada versi lain yang mengatakan bahwa beliau adalah mertua Raden Paku atau yang lebih dikenal dengan Sunan Giri. Ia diperkirakan hidup di masa Sunan Ampel pada 1400-1481 M. Ki Ageng Supa mempunyai puteri bernama Dewi Wardah. Makam beliau berada tepat di belakang Taman Bungkul Surabaya.

Ada suatu cerita masyarakat yang beredar tentang Ki Ageng Supa. Beliau ingin menikahkan puterii semata wayangnya. Namun ia belum mendapatkan sosok lelaki yang sesuai. Lalu beliau membuat sayembara, barangsiapa laki-laki yang dapat memetik delima yang tumbuh di kebunnya akan dijodohkan dengan putri Ki Ageng Supa yang bernama Dewi Wardah.

Sudah banyak orang laki-laki yang mencoba mengikuti sayembara itu, tetapi belum ada yang berhasil memetik buah delima yang dimaksud. Bahkan sebagian dari mereka ketika memanjat berusaha untuk mengambil buah delima mereka jatuh dan berakhir dengan kematian.

Pada suatu hari Raden Paku atau yang dikenal dengan Sunan Giri berjalan melewati pekarangan Ki Ageng Supo di mana terdapat pohon delima yang dimaksud itu, sesampai di bawah pohon delima tiba-tiba sebuah buah pohon delima itu jatuh di depan Raden Paku. Kemudian Raden Paku menyerahkan buah Delima tersebut kepada Sunan Ampel, gurunya di pesantren

Sunan Ampel berkata kepada Raden Paku “Berbahagialah engkau, karena sebentar lagi engkau akan diambil menantu oleh Ki Ageng Supo. Engkau akan dijodohkan dengan putri beliau yang bernama Dewi Wardah”“Kanjeng Sunan, saya tidak mengerti apa maksud Kanjeng Sunan, bukankah sebentar lagi saya akan menikah dengan putri kanjeng Sunan”

Agaknya ini sudah menjadi suratan takdir bahwa engkau akan mempunyai dua orang istri, putriku Dewi Murtosiah dan putri Ki Ageng Supo, Dewi Wardah”. Kemudian Sunan Ampel menceritakan perihal sayembara yang telah dibuat Ki Ageng Supo. Raden Paku mengangguk-angguk mendengar cerita Sunan Ampel.

Ada cerita dengan versi lain. Bahwa Ki Ageng Supo sengaja memetik buah Delima dan menghanyutkan ke sungai. Buah delima itu dihanyutkan ke Sungai Kalimas yang mengalir ke utara. Alur air sungai ini bercabang di Ngemplak menjadi dua. Percabangan sebelah kiri menuju Ujung dan sebelah kanan menuju kali Pegirikan. Buah delima itu terapung dan hanyut ke kanan.

Suatu pagi seorang santri Sunan Ampel yang mandi di Pegirikan Desa Ngampeldenta, menemukan delima itu.Sang santri (Raden Paku) pun menyerahkannya ke Sunan Ampel. Oleh Sunan Ampel delima itu disimpan. Besoknya, Supa menelusuri bantaran Kalimas. Sesampainya di pinggiran, ia melihat banyak santri mandi di sungai.

Ki Ageng Supa, yakin di sinilah buah delima itu ditemukan oleh salah satu di antara para santri tersebut. Apakah ada yang menemukan delima, tanya Supa setelah bertemu Sunan Ampel. Raden Paku, murid Sunan Ampel dipanggil dan mengaku. Singkat cerita Raden Paku dinikahkan dengan anak Ki Ageng Supa, Dewi Wardah.

Ki Ageng Supo akhirnya memperoleh mantu seorang santri dari Ampeldenta yakni Raden Paku. Sedangkan Raden Paku pada akhirnya menikahi dua orang putri Dewi Murtosiah, putri Sunan Ampel dan Dewi Wardah putri Ki Ageng Supo.

Seperti apapun kisah yang diterima masyarakat tentang Sunan Bungkul, yang jelas kini Makam Sunan Bungkul menjadi salah satu bangunan cagar budaya yang dilindungi Pemerintah Kota Surabaya.

Perihal sebutanBungkul  ini bermula dari kegemaran Sunan Bungkul memakai klompen atau bakiak (alas kaki) yang terbuat dari kayu. Itu mengapa akhirnya sebutan Sunan Bungkul lebih dikenal daripada nama aslinya. Sunan Bungkul juga merupakan orang pertama yang menduduki wilayah di sekitar Taman Bungkul, dalam istilah Jawa disebut orang yang babat alas.***

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Cerita Hari Ini: Kisah Raden Panji Dikelabui Kuntilanak Ganas Kalakunti di Hutan Keramat

26 Agustus 2025 - 11:37 WIB

Cerita Hari Ini: Kisah Sawunggaling Pukul Mundur 5.000 Pasukan Kompeni dan Tiga Kapal Perang

22 Agustus 2025 - 13:53 WIB

Cerita Hari Ini: Wassingrana, Pengikut Trunajaya Penguasa Selat Madura Bikin Pening Kompeni

21 Agustus 2025 - 10:16 WIB

Cerita Hari Ini: Gara-gara Belanda Madura Dijuluki Pulau Garam

20 Agustus 2025 - 07:14 WIB

Cerita Hari Ini: Bendera Merah Putih Pertama Dikibarkan Jayakatwang dari Kerajaan Kediri

16 Agustus 2025 - 11:54 WIB

Kisah Cewek Bule Jane Bertemu “Dukun Cinta” dan Mengakui Kesaktiannya

15 Agustus 2025 - 14:15 WIB

Cerita Hari Ini: Kisah Pangeran Gatotkaca, Perebutan Keris Se Jimat dan Bersatunya Pamekasan-Sumenep

14 Agustus 2025 - 12:30 WIB

Cerita Hari Ini: Sultan Abdurrahman Raja Sumenep Dapat Gelar Doktor dari Raffles

13 Agustus 2025 - 09:30 WIB

Cerita Hari Ini: Bindere Saod Raja Sumenep Nyaris Tewas Ditebas Kepalanya oleh Patih Purwonegoro

11 Agustus 2025 - 11:17 WIB

Trending di Uncategorized