Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS.COM, JAKARTA-Sebuah apartemen sempit di Shenzhen menjadi saksi bisu titik terendah dalam hidup Ren Zhengfei. Di usia 43 tahun, ia kehilangan pekerjaan di South Sea Oil Corporation setelah dituduh bertanggung jawab atas kerugian proyek sebesar 2 juta yuan.
Di saat yang sama, pernikahannya kandas, uangnya menipis, sementara ia masih harus menanggung biaya hidup orang tuanya.
Lahir di Zhenning, Guizhou, dari keluarga guru, Ren tumbuh bersama enam saudara kandung. Masa kecilnya ditempa oleh Great Chinese Famine (1959–1961), era kelaparan besar di mana sebuah baozi (roti kukus) harus dipotong menjadi tujuh bagian demi menghidupi seluruh anak di keluarganya.
Pengalaman bertahan hidup ini membentuk mentalitas baja yang kelak ia bawa ke dunia bisnis.
Bermodal 21 Ribu Yuan
Pengalaman teknis Ren dimulai pada 1974 saat ia masuk ke laboratorium militer sebagai teknisi. Di sana, ia terbiasa membongkar, mencoba, dan merakit mesin.
Keahlian inilah yang ia gunakan kembali ketika berada di titik nadir pasca-pemecatan. Dengan meminjam uang sebesar 21.000 yuan (sekitar Rp46 juta kurs saat ini), Ren mendirikan Huawei pada 1987 di sebuah apartemen kecil di Shenzhen.
Awalnya, Huawei hanya menjadi agen penjual perangkat jaringan telepon buatan perusahaan luar negeri. Namun, ketika pasokan dari mitra dihentikan, Ren dan timnya terpaksa memutar otak.
Mereka membongkar mesin, memeriksa komponen, menyusun kabel, dan mulai memproduksi perangkat jaringan mereka sendiri.
Budaya kerja keras Huawei lahir di ruangan sempit ini. Setiap malam, matras tipis digelar di lantai kantor untuk tidur. Pagi harinya, matras dilipat dan pekerjaan kembali dilanjutkan. Siklus “bekerja, tidur, bangun, bekerja” ini menjadi fondasi etos kerja perusahaan.
Huawei memilih strategi unik dengan menyasar daerah pedesaan terlebih dahulu. Mereka membangun menara telekomunikasi di wilayah pelosok yang belum terjamah kota besar. Strategi ini berhasil.
Pasar Huawei meluas hingga ke luar negeri, mendominasi operator telekomunikasi global, bahkan sempat memicu rencana akuisisi oleh Motorola senilai 7,5 miliar dolar AS.
Dihantam Badai Sanksi Amerika Serikat
Keberhasilan Huawei sebagai raksasa teknologi global mulai menghadapi ujian geopolitik yang berat pada 2018.
Putri Ren Zhengfei, Meng Wanzhou, ditangkap oleh kepolisian Kanada di Bandara Vancouver atas permintaan ekstradisi dari Amerika Serikat.
Satu tahun kemudian, pada 2019, Amerika Serikat menjatuhkan sanksi berat dengan memasukkan Huawei ke dalam Entity List. Aturan ini melarang perusahaan yang menggunakan teknologi AS memasok komponen ke Huawei tanpa izin khusus.
Dampaknya sangat memukul bisnis Huawei. Chip mandiri mereka, Kirin, tidak bisa lagi diproduksi massal karena pabrik semikonduktor global sekutu AS dilarang memprosesnya.
Ponsel pintar Huawei di pasar internasional kehilangan akses resmi ke ekosistem Google seperti Play Store, YouTube, dan Gmail.
Sejarah tampaknya berulang bagi Ren Zhengfei. Di tengah blokade teknologi barat, mesin-mesin di laboratorium Huawei kembali dibongkar. Papan sirkuit dibuka, komponen diperiksa, dan tim teknisi kembali bekerja siang malam.
Seperti saat memulai perusahaan di apartemen sempit Shenzhen puluhan tahun lalu, Huawei kini dipaksa untuk menciptakan sendiri apa yang dilarang untuk mereka beli.
Huawei saat ini telah berhasil bangkit dan mencapai kemandirian teknologi yang luar biasa, meskipun tekanan sanksi dari Amerika Serikat (AS) masih terus berlangsung.
Alih-alih runtuh, Huawei justru berhasil keluar dari ketergantungan teknologi Barat melalui berbagai inovasi mandiri di sektor perangkat keras maupun lunak.***


























