Penulis: Sri Muryanto | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, BANGKALAN – Sebuah pemandangan langka, unik, dan menyita perhatian seluruh masyarakat Bangkalan bahkan se-Jawa Timur terjadi Senin, 18 Mei 2026.
Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi BEM Bangkalan Bersatu (AB3) menggelar aksi demonstrasi besar-besaran di depan Kantor DPRD dan Pemerintah Kabupaten Bangkalan.
Hal yang paling istimewa dan menjadi pembicaraan hangat: Koordinator utama dan pemimpin orasi aksi ini adalah Moh. Fauzi, putra kandung dari Bupati Bangkalan, Lukman Hakim.
Sang anak berdiri di barisan terdepan menyoroti, mengkritisi, dan menyampaikan aspirasi keras atas kinerja pemerintah daerah yang dipimpin langsung oleh ayahnya sendiri.
Momen ini terekam jelas dalam foto dan video yang viral dengan tulisan “Anak vs Bapak”, serta kalimat ikonik yang terus dikumandangkan: “KARENA APABILA CINTA…”.
Bukan pertentangan keluarga, melainkan bukti nyata demokrasi dan pendidikan karakter yang luar biasa.
Di sini, sang anak menegaskan bahwa cinta kepada orang tua dan cinta kepada daerah itu harus disertai kejujuran dan keberanian menyampaikan kebenaran.
Latar Belakang
Dalam aksinya, Moh. Fauzi selaku Ketua Umum Aliansi BEM Bangkalan Bersatu (AB3) membacakan poin-poin tuntutan tegas yang disampaikan langsung kepada DPRD maupun Pemkab Bangkalan. Isunya menyentuh masalah krusial yang dirasakan langsung masyarakat:
1. Pengelolaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Dugaan ketidaktembusan dana, pemotongan gaji tenaga kerja, dan dapur yang tidak layak.
2. Infrastruktur: Jalan rusak parah di banyak wilayah, sekolah dan fasilitas umum belum memadai.
3. Pelayanan Publik & Transparansi: Pengelolaan anggaran yang dinilai belum terbuka dan belum menyentuh rakyat kecil.
4. Pengawasan DPRD: Meminta dewan lebih tegas mengawasi kinerja eksekutif.
Yang membuat haru sekaligus kagum: Bupati Lukman Hakim justru hadir langsung, berdiri di dekat anaknya, mendengarkan dengan tenang, tersenyum, dan menerima semua kritikan itu dengan dada lapang, didampingi unsur Forkopimda dan kepolisian.
Tidak ada marah, tidak ada larangan, yang ada adalah dialog terbuka dan saling menghargai.
Moh. Fauzi (Koordinator Aksi / Putra Bupati), dalam aksi ini dia mengatakan dengan lantang.
“Hadirin sekalian, bapak-bapak, ibu-ibu, dan seluruh kawan-kawan mahasiswa. Banyak yang bertanya kepada saya: ‘Kenapa kamu ikut demo? Kenapa kamu mengkritik pemerintah? Padahal bapakmu adalah Bupati di sini’. Saya jawab dengan lantang: Karena apabila cinta dibuang, maka jangan harap kemajuan akan datang!
“Saya mencintai Bapak saya sebagai orang tua, saya hormati beliau setinggi langit. Tapi saya juga mencintai Bangkalan, saya mencintai masyarakat ini. Cinta sejati itu bukan diam melihat kesalahan. Cinta itu berani mengingatkan, berani mengkritik, supaya yang salah jadi benar, yang kurang jadi lebih. Saya berdiri di sini bukan sebagai anak Bupati, tapi sebagai perwakilan pemuda, sebagai bagian dari rakyat Bangkalan yang berhak mengawasi jalannya pemerintahan.”
“Kami minta transparansi penuh! Dana rakyat harus kembali ke rakyat. Jangan ada jalan berlubang, jangan ada layanan yang dipersulit. Kalau Bapak saya salah, kami tegur. Kalau Bapak saya benar, kami dukung. Itulah demokrasi yang sesungguhnya. Anak yang baik adalah anak yang berani mengingatkan orang tuanya ke jalan yang benar. Begitu juga kami kepada pemerintah daerah!”
“Saya tidak malu, malah bangga. Kalau Bapak saya marah karena dikritik anak sendiri, berarti beliau belum jadi pemimpin yang baik. Tapi saya tahu beliau orang besar, beliau akan terima ini sebagai koreksi demi Bangkalan lebih baik.”
Respon Lukman Hakim
Inilah respon langsung Bupati Bangkalan. Di tengah suasana haru dan tepuk tangan warga, Bupati Lukman Hakim angkat bicara di hadapan anaknya dan massa:
“Anakku, kawan-kawan mahasiswa, seluruh masyarakat. Saya dengar baik-baik semua apa yang disampaikan. Apa yang dilakukan Fauzi hari ini, apa yang dilakukan teman-teman sekalian, ini bukan aksi menentang, ini adalah bukti keberhasilan pendidikan saya.”
“Saya didik anak-anak saya untuk jujur, untuk berani bicara, untuk memegang teguh kebenaran dan keadilan, di mana pun berada, kepada siapa pun berhadapan, termasuk kepada saya sendiri sebagai bapak dan sebagai kepala daerah. Kalau beliau diam melihat kekurangan saya, berarti beliau anak yang gagal. Tapi hari ini beliau berani berbicara, itu membuat saya bangga luar biasa, saya menangis bahagia di dalam hati.”
“Kritikan ini adalah pemicu, adalah semangat bagi saya dan seluruh jajaran Pemkab Bangkalan. Semua poin yang disampaikan akan kami catat, kami teliti, dan kami perbaiki secepatnya. Biarlah pemimpin dikritik, asal rakyat sejahtera. Biarlah bapak ditegur, asal daerah ini maju. Terima kasih anakku, terima kasih pemuda Bangkalan, kalian adalah penjaga masa depan daerah ini.”
“Kalau ada yang rusak, kami perbaiki. Kalau ada yang kurang, kami lengkapi. Kalau ada yang salah, kami betulkan. Demi Bangkalan yang beradab, makmur, dan sejahtera bersama.”
Bupati Lukman Hakim membuktikan pemimpin itu manusia biasa yang butuh koreksi, dan anaknya mengajarkan bahwa kebenaran itu di atas segalanya.
Warga yang menyaksikan tak kuasa menahan haru. Banyak yang berkomentar: “Di sini baru kita lihat demokrasi yang indah, santun, dan beradab. Anak mengingatkan bapak, bapak menerimanya dengan lapang dada. Inilah wajah asli Bangkalan.”
Aksi berakhir damai, tertib, dan penuh persahabatan. Semua tuntutan diserahkan secara resmi dan dijanjikan akan ditindaklanjuti.
Momen ini tercatat sebagai sejarah: Satu-satunya demo di mana koordinatornya adalah anak pejabat yang didemo, dan justru menjadi kebanggaan bersama.**







