Penulis: Sri Muryanto | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, TULUNGAGUNG– Rabu siang Rabu, 1 April 2026,angin membawa bau menyengat dari rumah sederhana di Kelurahan Kutoanyar, Tulungagung. Seorang tetangga, Ibu Siti (52), hendak membawakan nasi bungkus untuk pasangan lansia SR (76) dan suaminya.
“Pintu digedor, tapi tak ada jawaban. Bau busuk menusuk hidung, seperti kematian menyapa,” ceritanya dengan suara parau, tangan gemetar mengenang.
Pintu terbuka paksa. Di lantai tanah usang, tubuh SR terbaring dingin di samping suaminya yang renta, tak berdaya seperti patung hidup.
“Sudah tiga hari dia pergi sendirian,” isak Kasminto, Ketua RW setempat. “Suaminya cuma bisa meringkuk, tak sanggup berteriak minta tolong. Pilu sekali!”
Kasminto, Ketua RW setempat, dengan suara bergetar menceritakan: “Pada Rabu, 1 April 2026 siang, warga menemukannya. Tubuh SR sudah dingin di sebelah suaminya yang tak bisa bergerak lagi.”
Pasangan malang ini memang sudah lama dirundung penyakit, renta di usia senja, tak mampu lagi mengurus diri sendiri. Hidup mereka bergantung pada cucu yang bekerja serabutan, satu-satunya penopang di tengah kesunyian.
Pasangan malang ini sudah lama dirundung penyakit kronis—stroke dan diabetes menyiksa usia senja mereka. Hidup sehari-hari bergantung sepenuhnya pada cucu, seorang buruh serabutan yang jarang pulang.
Rumah reyot itu menyimpan kesunyian panjang: tak ada listrik, tak ada tetangga yang curiga hingga bau kematian pecah rahasia.
Warga panik lapor Polsek Tulungagung Kota. Tim Instalasi Kedokteran Forensik RSUD dr. Iskak tiba cepat, memeriksa mayat yang mulai membusuk.
“Kematian alami, sekitar tiga hari lalu. Tak ada tanda kekerasan,” tegas dr. Andi, Dokter Forensik. Suami SR dirawat darurat, kini pulih pelan di rumah sakit.
Tragedi ini guncang warga, jadi pengingat getir: ribuan lansia di Indonesia terlantar, sendirian menanti akhir. “Kita harus lebih peduli,” pesan Kasminto. Duka senja ini, tak boleh terjadi. **







