Penulis: Tanasyafira L. Tirani | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, JAKARTA– Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah memberikan komentar terkait pelemahan rupiah mendekati atau tembus Rp17.000 per dolar AS 9 Maret 2026,
Purbaya menyatakan pelemahan rupiah ke Rp17.000 disebabkan sebagian ekonom mengklaim Indonesia sedang resesi seperti 1997-1998, sehingga daya beli dianggap hancur.
Ia menyampaikan ini saat ditemui wartawan di Tanah Abang, Jakarta, menanggapi depresiasi 0,31% ke Rp16.953 per US$ pada pukul 14:14 WIB.
Ia menegaskan ekonomi masih ekspansi, daya beli terjaga, dan kondisi jauh dari krisis saat ditemui di Pasar Tanah Abang, Jakarta.
Optimisme
Pada Januari 2026 saat rupiah di Rp16.955, Purbaya optimistis rupiah segera menguat karena fundamental ekonomi kuat, IHSG capai all-time high 9.133, dan aliran dana asing masuk.
Ia menolak spekulasi soal independensi BI dan yakin pertumbuhan ekonomi capai 6% tahun ini.
Kurs
Nilai tukar dolar AS yang mencapai Rp17.000 dan harga minyak dunia di kisaran US$112 per barel menandakan tekanan ekonomi signifikan bagi Indonesia saat ini.
Rupiah melemah tajam akibat penguatan dolar global, sementara kenaikan harga minyak memicu inflasi impor yang lebih parah.
Status Nilai TukarPada 9 Maret 2026, dolar AS menguat 0,50% ke level Rp17.009 menurut data Bloomberg, setelah sebelumnya ditutup di Rp16.925 pada 6 Maret.
Bank-bank besar seperti Mandiri, BNI, BRI, dan BCA juga menjual dolar di kisaran Rp17.000 pada awal Maret.
Pelemahan ini sempat menyentuh Rp17.000 di pasar awal pekan, dipicu sentimen risk-off global.
Dampak Harga MinyakHarga minyak Brent mencapai US$112 per barel memperburuk situasi karena Indonesia bergantung pada impor energi.
Ini memicu imported inflation, terutama untuk BBM, LPG, dan bahan baku industri.
Biaya logistik serta harga bahan pokok impor seperti gula dan daging berpotensi naik pasca-Lebaran 2026
Inflasi meningkat karena biaya impor melonjak, erosi daya beli kelas menengah bawah.
Harga barang elektronik, obat-obatan, dan pangan impor naik, tanpa kenaikan pendapatan seimbang.
Pertumbuhan ekonomi berisiko di bawah target 5,2%, dengan suku bunga BI potensial naik.
Pemerintah dan BI diantisipasi intervensi melalui kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) serta diversifikasi impor untuk stabilisasi. **







