Penulis: Tanasyafira Libas Tirani | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, JAKARTA- Otopsi jenazah Lula Fahlah, 26, batal dilaksanakan, karena orang tuanya mengajukan surat keberatan ke polisi, Sabtu 24 Januari 2026.
Saat dikonfirmasi, Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, AKBP Iskandarsyah, mengonfirmasi penerimaan surat tersebut dari orang tua korban.
Disebutkan bahwa ayah Lula Lahfdha, bernama Feroz Marikar, dan ibunya Tatu Yulyanah mengirimkan surat keberatan dilakukan otopsi jenazah anaknya.
Surat keberatan disampaikan ke polisi, setelah Jumat 23 Januari 2026, ditemukan jasad Lula Lahfah meninggal dunia. Korban ditemukan dalam posisi telentang, mulut menganga dengan bibir membiru.
Polres Metro Jakarta Selatan menerima surat penolakan autopsi dari orang tua Lula Lahfah pada Sabtu, 24 Januari 2026.
Kasat Reskrim AKBP Iskandarsyah mengonfirmasi penerimaan surat tersebut saat diwawancarai wartawan pada hari yang sama. Surat dikirim setelah jenazah ditemukan pada Jumat malam (23/1/2026) dan visum awal di RS Fatmawati.
Keluarga Lula Lahfah, melalui orang tuanya, telah mengirimkan surat resmi kepada polisi untuk menolak autopsi jenazah.
Permohonan ini membuat proses autopsi tidak dilakukan, sehingga penyebab pasti kematian belum bisa dikonfirmasi secara ilmiah.
Polisi masih berkoordinasi dengan rumah sakit terkait surat kematian awal yang menyebut henti jantung atau napas.
Lula ditemukan meninggal dalam kondisi kaku, sendirian di apartemennya, dengan mulut membiru dan tubuh lebam (diduga lebam mayat).
Jenazah sempat dibawa ke RS Fatmawati untuk visum awal, tapi autopsi penuh dibatalkan atas permintaan keluarga. Orang tua Lula Lahfah secara resmi menyatakan penolakan autopsi melalui surat yang dikirim ke polisi.
Mereka meminta agar jenazah tidak dibedah lebih lanjut, meski alasan spesifik tidak diungkap secara publik.
Polisi tetap berkoordinasi dengan rumah sakit terkait prosedur hukum, tapi penolakan keluarga membuat autopsi tidak dilakukan.
Jenazah sudah dimakamkan setelah surat kematian diterbitkan dengan dugaan henti jantung atau napas.
Taman Pemakaman Umum (TPU) Rawa Terate (atau disebut Rawa Trate), Cakung, Jakarta Timur. Prosesi pemakaman berlangsung pada Sabtu, 24 Januari 2026, sekitar pukul 12.00-12.10 WIB siang hari.
Ayah Lula Lahfah, Feroz Marikar, menyatakan syok mendengar kematian putrinya dan menerima itu sebagai takdir Allah.
Ia menyesal karena Lula tidak pernah curhat soal kesehatannya ke keluarga, hanya kepada teman dekat.
Lula menderita GERD kronis dan pembengkakan usus yang sering kambuh, tapi ia sembunyikan hingga akhir.
Feroz bilang, “Kalau kita tahu, kita suruh dia berobat di sini atau di luar negeri.”
Minggu lalu, Lula tiba-tiba undang keluarga makan bersama di apartemen—gelagat tak biasa tanpa alasan spesial. Terakhir bertemu dua hari sebelum Lula ditemukan meninggal pada 23 Januari 2026.**






