Penulis: Yusran Hakim | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, JAKARTA- Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menunjukkan emosi mendalam saat mempresentasikan upaya timnya memulihkan listrik di wilayah bencana Sumatera pasca-banjir bandang dan longsor. Perjuangan ini berlangsung berminggu-minggu hingga Januari 2026, melibatkan tantangan akses jalan rusak dan infrastruktur hancur.
Pernyataan ini disampaikan saat ia menahan tangis dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR RI pada 21 Januari 2026.
Darmawan menangis saat menjelaskan perjuangan timnya yang melebihi pemulihan pasca-Tsunami 2004, termasuk permintaan maaf atas data keliru sebelumnya ke Menteri ESDM. PLN juga gratiskan listrik huntara selama enam bulan.
Bencana alam melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat sejak akhir 2025, merusak tower listrik dan jaringan distribusi.
Pemulihan di Aceh mencapai 98,9% hingga 18 Januari 2026, dengan fokus pada desa-desa terpencil menggunakan genset darurat dari Kementerian ESDM.
PLN mengerahkan personel ekstra, peralatan khusus, dan koordinasi dengan TNI-Polri untuk membuka akses. Sistem utama Sumatera Barat pulih 100% sejak 23 Desember 2025, sementara Aceh menghadapi 171 titik longsor dan 14 jembatan rusak.
Direktur Utama PT PLN Darmawan Prasodjo menyatakan kesiapan tim khusus untuk menghadapi badai atau cuaca ekstrem, termasuk kemampuan mendirikan hingga 16 tiang Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET) secara cepat di lokasi bencana.
Pernyataan ini disampaikan dalam konteks siaga nasional pascabencana Sumatera akhir 2025-awal 2026, saat mempresentasikan strategi preventif PLN.
Tim khusus PLN dilatih untuk respons cepat terhadap potensi badai baru, dengan fokus pada wilayah rentan seperti Aceh dan Sumatera Utara yang masih dalam pemulihan.
Upaya ini melibatkan 69.000 personel nasional, truk crane, dan genset untuk mendukung pemasangan tiang SUTET darurat.
Direktur Utama PT PLN Darmawan Prasodjo menegaskan bahwa timnya telah berjibaku melampaui batas kemampuan normal dalam menangani bencana banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat.
Darmawan membandingkan skala kerusakan saat ini dengan Tsunami Aceh 2004, di mana hanya ada 8 titik rusak versus 442 titik di Aceh saja kali ini, plus ratusan titik di Sumut dan Sumbar.
Upaya pemulihan melibatkan inovasi seperti modifikasi crane menjadi menara darurat 54 meter dan bantuan TNI AU dengan helikopter Hercules. **






