Penulis: Mayang Kresnaya Mahardhika | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, PANGANDARAN- Dua atlet penerjun payung meninggal dunia dalam insiden tragis saat Kejuaraan Daerah (Kejurda) Terjun Payung 2025 di Pangandaran, Jawa Barat, pada Selasa (30 Desember 2025).
Korban bernama Rusli dan Widiasih, keduanya warga Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung. Penyebab utama adalah perubahan arah angin signifikan di ketinggian 10.000 feet, menyebabkan mereka kehilangan kendali dan jatuh ke perairan Laut Bojongsalawe.
Pesawat Cessna 185 PK-SRC milik Fly School Ganesha lepas landas dari Bandara Nusawiru sekitar pukul 10.15 WIB membawa lima atlet: Rusli, Widiasih, Karni, Kudori, dan Mustofa. Insiden terjadi pukul 10.39-11.00 WIB ketika angin berubah tiba-tiba, membuat pendaratan gagal.
Tiga atlet lain mendarat darurat selamat di Pantai Bojongsalawe, sementara kedua korban tewas akibat tenggelam setelah jatuh ke laut.
Identitas Korban:
- Rusli, laki-laki kelahiran Medan pada 7 Oktober 1961 (umur 64 tahun), beralamat di Kecamatan Margahayu atau Banjaran, Kabupaten Bandung. Ia ditemukan pertama kali dalam keadaan meninggal akibat tenggelam setelah dievakuasi ke Puskesmas Cijulang.
- Widiasih, perempuan kelahiran Bandung pada 27 Juni 1967 (umur 58 tahun), warga Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung. Ia sempat dinyatakan hilang sebelum ditemukan dan dikonfirmasi meninggal dunia berdasarkan pemeriksaan medis akibat tenggelam.
Kapolres Pangandaran AKBP Andri Kurniawan mengonfirmasi korban ditemukan meninggal pasca-pemeriksaan medis. Kegiatan terjun payung dihentikan sementara karena panitia tidak memberitahu polisi sebelumnya. Operasi pencarian dan tim SAR terlibat, meski akhirnya kedua korban dinyatakan meninggal.
Penyebab kecelakaan terjun payung di Pangandaran pada 30 Desember 2025 adalah perubahan arah dan kecepatan angin secara mendadak di ketinggian sekitar 10.000 feet, yang menyebabkan para atlet kehilangan kendali atas parasut mereka.
Kapolres Pangandaran AKBP Andri Kurniawan menyatakan faktor alam ini sebagai pemicu utama, karena angin kencang membawa penerjun keluar dari drop zone yang ditentukan.
Penyebab
Cuaca ekstrem di ketinggian tinggi, termasuk hembusan angin signifikan, membuat arah pendaratan berubah dan gagal terkendali saat sesi free fall.
Tidak ada indikasi kegagalan teknis peralatan atau pesawat Cessna 185 PK-SRC, melainkan kondisi alam yang tidak terprediksi sepenuhnya.
Pihak berwenang masih melakukan pendalaman untuk evaluasi keselamatan, meski penyebab primer sudah diidentifikasi sebagai faktor cuaca.
Kronologi
-
10:15 WIB: Pesawat Cessna 185 PK-SRC lepas landas dari Bandara Nusawiru membawa lima atlet: Rusli, Widiasih, Karni, Kudori, dan Mustofa.
-
10:39-11:00 WIB: Atlet melompat dari ketinggian 10.000 feet di atas Batukaras, Cijulang; angin kencang tiba-tiba berubah arah, menyebabkan kehilangan kendali.
-
Sekitar 11:40 WIB: Rusli dan Widiasih jatuh ke Laut Bojongsalawe/Pantai Bojongsalawe; tiga lainnya (Karni, Kudori, Mustofa) mendarat darurat selamat di pantai.
-
Siang hari: Tim SAR dan polisi dikerahkan; Rusli ditemukan tewas, Widiasih awalnya hilang tapi akhirnya dikonfirmasi meninggal pasca-pemeriksaan medis. **






