Penulis: Mulawarman | Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS.COM, JAKARTA-Cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Aceh dan Sumatera sejak akhir pekan lalu memicu banjir bandang dan longsor berskala besar. Dampaknya meluas ke berbagai wilayah hingga ratusan orang meninggal dan puluhan ribu warga mengungsi. Berikut rangkuman yang menggambarkan kompleksitas bencana ini.
1. Dipicu Dua Siklon Tropis yang Menguat di Sekitar Indonesia
BMKG mencatat dua siklon tropis yang berpengaruh langsung pada cuaca ekstrem di Indonesia: Siklon Tropis Koto di Laut Filipina Barat dan Siklon Tropis Senyar yang berasal dari bibit siklon 95B.
Keduanya memicu peningkatan curah hujan, angin kencang, dan gelombang tinggi di wilayah barat Indonesia—termasuk Selat Malaka yang menjadi jalur masuk badai ke pesisir Aceh dan Sumatera Utara. Fenomena ini sejalan dengan prediksi para klimatolog soal meningkatnya anomali cuaca di kawasan maritim Indonesia.
2. Walhi Menuding Ada Peran Perusahaan dalam Memperparah Dampak Banjir
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Utara menyebut tujuh perusahaan berkontribusi dalam memperparah bencana, terutama di kawasan Tapanuli. Menurut Walhi dan data BPBD, sejak badai dari Selat Malaka memasuki wilayah daratan dan sempat menyeberang Aceh–Sumut, kerusakan lahan dan perubahan bentang alam membuat banjir bandang semakin besar.
Bencana ini meluas hingga 51 desa di 42 kecamatan pada delapan kabupaten/kota. Tapsel dan Tapteng menjadi wilayah paling parah—keduanya berada dalam Ekosistem Batangtoru, salah satu hutan tropis tersisa di Sumatra Utara yang selama ini menghadapi tekanan industri.
3. Korban Jiwa Mencapai 174 Orang, Ribuan Keluarga Mengungsi
BNPB mencatat 174 orang meninggal dan 12.546 kepala keluarga mengungsi akibat banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Kerusakan infrastruktur, pemutusan jaringan komunikasi, serta terisolasinya beberapa desa membuat upaya evakuasi pada hari-hari pertama berlangsung lambat dan menegangkan.
4. Pemerintah Belum Menetapkan Status Bencana Nasional
Meski skala bencana meluas, pemerintah pusat belum menaikkan status menjadi bencana nasional. Presiden Prabowo Subianto mengatakan pihaknya “masih memonitor” kondisi di lapangan dan terus mengirim bantuan, tanpa merinci bentuk bantuannya.
Kepala BNPB Letjen Suharyanto menjelaskan bencana ini masih tergolong bencana daerah tingkat provinsi dan belum memenuhi ambang penetapan status nasional. Ia menyebut hanya dua bencana yang pernah ditetapkan sebagai bencana nasional yaitu Covid-19 dan Tsunami Aceh 2004.
Sementara gempa besar lain seperti Palu dan Cianjur pun tidak mendapat status tersebut.
BNPB mengatakan bahwa derasnya laporan warga di media sosial—dari desa terisolasi, warga terseret arus, hingga komunikasi terputus—menciptakan kesan situasi yang jauh lebih kritis.
Meski demikian, BNPB mengklaim bahwa kondisi di sebagian besar wilayah sudah mulai terkendali setelah hujan mereda. Tapanuli Tengah disebut sebagai daerah yang kondisinya masih paling serius hingga Jumat sore, 28 November 2025.****







