Penulis: Eko Wienarto | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, KUPANG– Sedang viral di wilayah Kupang, Nusa Tenggara Timur, video keluhan orangtua —Januario Angelus Sera, seorang pelajar dari SPENDU Bajawa, Ngada. Remaja ini berhasil meraih juara 1 cabang karate dalam ajang Kejurda NTT yang digelar pada Pameran Pembangunan di Kupang, Agustus 2025.
Hadiah lomba karate untuk Januario Angelus Sera yang meraih juara 1 diserahkan secara resmi oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) pada Pameran Pembangunan di Kupang, pada tanggal 25 November 2025.
Sebagaimana dijelaskan, anaknya membawa uang hadiah itu pulang setelah latihan karate, yang memicu video viral dan kekecewaan karena nominalnya hanya Rp 300.000 dari janji awal Rp 2 juta. Mekanisme pembagian internal yang menekankan solidaritas antar atlet menjadi alasan perbedaan nominal yang diterima tersebut.
Hadiah simbolis senilai Rp 2 juta dijanjikan kepada Januario sebagai apresiasi atas prestasinya. Namun kekecewaan muncul ketika sang ibu hanya menerima uang sebesar Rp 300.000 setelah menunggu selama tiga bulan.
Penyerahan hadiah secara resmi dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) NTT dan organisasi induk olahraga karate provinsi. Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi NTT, Frederik Christian Purwanto Koenunu, yang juga Ketua Panitia Pameran Pembangunan 2025, memastikan bahwa pembayaran telah dilakukan sesuai prosedur dan nominal tertera.
Namun, mekanisme pembinaan olahraga di NTT menekankan nilai kebersamaan dan solidaritas antar atlet, sehingga dana hadiah yang diterima atlet secara individual bisa berbeda-beda. Karena itu, jumlah yang diterima ibu Januario hanya Rp 300.000, menimbulkan kesalahpahaman dan kekecewaan.
Hingga saat ini belum ada penjelasan lebih rinci mengenai pembagian dana internal tersebut, termasuk bukti tanda terima atau kwitansi. Nama ibu Januario belum dipublikasikan dan tidak ada informasi asal lengkap dari keluarga.
Peristiwa ini sempat viral di media sosial lokal dan memicu perbincangan terkait transparansi dan manajemen dana pembinaan olahraga di wilayah tersebut. **







