Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Kolom

Ketika Tokoh Spiritual Diagungkan: Dari Budaya Feodal Hingga Menyalip Tuhan Itu Sendiri

badge-check


					Ketika Tokoh Spiritual Diagungkan: Dari Budaya Feodal Hingga Menyalip Tuhan Itu Sendiri Perbesar

Penulis: Jay Adi | Editor: Aditya Prayoga

KREDONEWS.COM, SURABAYA- Fenomena pengkultusan terhadap tokoh spiritual kembali mencuat setelah muncul perbincangan viral di media sosial mengenai budaya feodal di lingkungan pesantren.

Perdebatan ini menyoroti bagaimana sebagian santri menempatkan sosok kiai bukan hanya sebagai guru rohani, tetapi juga figur yang diagungkan dan nyaris tak bisa dikritik.

Hal ini tidak hanya terjadi di pesantren. Dalam tradisi agama lain pengkultusan terhadap figur rohani juga sering muncul dan bahkan bisa menyalip penghormatan kepada Tuhan itu sendiri.

Fenomena ini terjadi karena beberapa faktor berikut:

1. Kebutuhan figur konkret: Banyak orang sulit memahami konsep ketuhanan yang abstrak. Tokoh spiritual dianggap sebagai perwujudan nyata dari nilai-nilai ilahi, sehingga lebih mudah dikagumi.

2. Karisma dan pengalaman pribadi: Tokoh spiritual sering menunjukkan kharisma, ketenangan, atau kemampuan yang dianggap “ajaib”, sehingga pengikut melihatnya sebagai manusia utusan langsung Tuhan.

3. Kebutuhan akan kepastian dan bimbingan: Dalam situasi hidup yang penuh ketidakpastian, orang mencari sosok yang memberi arah dan rasa aman. Tokoh spiritual memenuhi kebutuhan itu dengan jawaban yang dianggap pasti.

4. Budaya patron dan hierarki: Dalam masyarakat yang menghormati figur otoritas, penghormatan bisa berubah menjadi pengkultusan, terutama bila tokoh tersebut dianggap tak boleh dikritik.

5. Manipulasi simbol dan doktrin: Beberapa pemimpin spiritual atau pengikut fanatik memperkuat kultus melalui narasi bahwa kesetiaan pada tokoh sama dengan kesetiaan pada Tuhan.

Akibatnya, fokus keagamaan sering bergeser dari ajaran menuju pribadi tokoh, menjadikan manusia sebagai pusat keimanan baru.****

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Ketika Rumah Kebudayaan Menjadi Arena Perebutan Panggung

11 Mei 2026 - 18:17 WIB

Cerdas Tanpa Etika atau Santun Tanpa Ilmu: Mana Lebih Berbahaya?

24 Februari 2026 - 19:20 WIB

KUHP Baru: Pemukulan karena Provokasi Bisa Hapus Pidana

11 Januari 2026 - 21:08 WIB

Malam Jumat Legi Diyakini Bukan Sekadar Malam Biasa

8 Januari 2026 - 15:08 WIB

Jeritan di Hari Guru: Tiga Masalah Mendesak Guru Honorer Indonesia

25 November 2025 - 18:30 WIB

Mengingat Sejarah Perjuangan Mas TRIP: Malam Mencekam di Markas Belanda

21 November 2025 - 17:31 WIB

Pemerintah AS Berikan Jutaan Dolar Kepada Kaum Ikhwanul Muslimin Malaysia

17 November 2025 - 07:25 WIB

Hubungan Faksi Houthi – Sudan Berkembang, AS Perlu Waspada!

12 November 2025 - 20:33 WIB

Pelajaran dari Ayah Mas TRIP, Kekonyolan di Balik “Tenang Belanda Masih Jauh”

12 November 2025 - 18:12 WIB

Trending di Kolom