Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Headline

Roy Suryo Mungkin Baca “Just My Type” Berisi Seni Koleksi Huruf, Kapan Diciptakan?

badge-check


					Roy Suryo Mungkin Baca “Just My Type” Berisi Seni Koleksi Huruf, Kapan Diciptakan? Perbesar

Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga

KREDONEWS.COM, LONDON– Simon Garfield, dalam bukunya *Just My Type: A Book About Fonts*, menyampaikan pesan mendasar: font bukan sekadar kumpulan huruf belaka. Mereka adalah entitas yang memiliki kepribadian kuat dan kekuatan luar biasa untuk membentuk persepsi serta emosi kita. Garfield menunjukkan dengan cerdas bagaimana setiap jenis huruf membawa muatan emosional dan makna tersendiri, jauh melampaui bentuk visualnya semata.

1. Menyampaikan Perasaan dan Kesan Instan

Begitu melihat sebuah font, otak kita secara instan memprosesnya dan memicu respons emosional. Perhatikan beberapa contoh:

– Times New Roman: Mengkomunikasikan formalitas, otoritas, dan tradisi. Penggunaannya yang lazim di koran dan dokumen akademik menciptakan kesan serius dan kredibel. Bayangkan undangan pernikahan menggunakan font ini nuansanya pasti sangat formal.

– Comic Sans: Sering dianggap santai, kekanak-kanakan, bahkan tidak profesional. Meski banyak dikritik, kepribadiannya yang ceria justru efektif untuk komik atau materi anak-anak. Namun, penggunaannya di CV atau presentasi bisnis jelas menimbulkan kesan keliru.

– Helvetica: Memancarkan kesederhanaan, kejelasan, dan universalitas. Aura modernitas, efisiensi, dan keandalannya menjadikannya pilihan utama perusahaan besar dan sistem transportasi publik – ia mewakili fungsionalitas dan keterbacaan tinggi.

2. Membangun dan Merusak Identitas Merek

Pemilihan font adalah fondasi identitas merek. Font yang tepat mampu memperkuat pesan, sementara yang salah dapat meruntuhkan citra secara fundamental.

– Coca-Cola: Logo klasiknya menggunakan font skrip yang mengalir, menciptakan nuansa nostalgia dan kehangatan yang selaras sempurna dengan citra mereknya.

– Rolex: Bayangkan jika jam tangan mewahnya menggunakan font graffiti. Kesan kemewahan, presisi, dan keanggunan yang dibangun puluhan tahun akan hancur seketika. Font elegan dan terstruktur yang mereka gunakan justru memperkuat citra premiumnya.

3. Memengaruhi Kredibilitas dan Tingkat Kepercayaan

Garfield mengeksplorasi bagaimana font memengaruhi sejauh mana kita mempercayai suatu informasi atau institusi.

– Font Serif (e.g., Georgia, Baskerville): Sering dianggap lebih “terpercaya” dan “akademis” karena asosiasinya dengan buku cetak dan surat kabar tradisional.

– Dokumen Resmi: Dalam ranah politik atau hukum, pemilihan font yang terlihat “murahan” atau tidak serius dapat merusak kredibilitas dan legitimasi dokumen tersebut.

4. Lebih dari Sekadar Estetika: Sebuah Keputusan Psikologis

Just My Type mengajarkan bahwa memilih font bukanlah sekadar preferensi estetika pribadi. Ini adalah keputusan strategis yang berakar pada pemahaman mendalam tentang psikologi visual dan cara manusia berinteraksi dengan teks. Setiap lekukan, ketebalan garis, dan ruang antar huruf berkontribusi pada narasi besar yang disampaikan oleh sebuah font.

Sejarah Singkat Jenis Huruf Populer

Times New Roman

Diciptakan tahun 1931 oleh Stanley Morison dan Victor Lardent untuk surat kabar *The Times* di London. Tujuannya menggantikan huruf lama yang kurang efisien dan sulit dibaca. Debutnya pada 3 Oktober 1932 di *The Times*, dan setahun kemudian tersedia secara komersial. Sebagai huruf serif, desainnya terinspirasi Plantin namun lebih padat dan berkontras tinggi untuk meningkatkan keterbacaan serta efisiensi ruang cetak.

Arial

Didesain tahun 1982 oleh Robin Nicholas dan Patricia Saunders di Monotype. Awalnya digunakan sebagai pengganti Helvetica untuk printer laser IBM, terutama karena lisensi Helvetica yang terbatas. Karakteristiknya sebagai huruf sans-serif fokus pada kompatibilitas tinggi dan efisiensi cetak, menjadikannya alternatif Helvetica yang mudah diakses.

Calibri

Diciptakan antara 2002-2004 oleh Luc(as) de Groot. Dirilis tahun 2006 bersama Windows Vista dan menjadi huruf *default* Microsoft Office 2007, menggantikan Times New Roman dan Arial. Sebagai huruf sans-serif bergaya humanist, Calibri memiliki bentuk lembut dan bulat, dirancang khusus untuk keterbacaan optimal di layar dengan memanfaatkan teknologi ClearType Microsoft.

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Dinilai Lamban Tangani Kasus Dugaan Pelecehan Seksual Terhadap Anak Dibawah Umur, Polresta Sidoarjo Diancam Didemo

9 Juni 2026 - 19:00 WIB

Kuasa Hukum Dua Rekanan Kirim Surat ke Perumda Delta Tirta Harus Bayar Tagihan Rp 1,4 Miliar Sesuai Perintah Hakim Kasasi MA

6 Juni 2026 - 18:56 WIB

Ketika Rumah Kebudayaan Menjadi Arena Perebutan Panggung

11 Mei 2026 - 18:17 WIB

Bupati Fandi Ahmad Yani Beri Sangu Obat dan Vitamin untuk Ratusan Jamaah Haji Asal Kabupaten Gresik

3 Mei 2026 - 19:26 WIB

Pakar Estetik Bedah Plastik, Dr Sophia Heng: Penyempurnaan, Bukan Perubahan Total

26 April 2026 - 10:40 WIB

KPJ Sabah Specialist Hospital, Pusat Perawatan Kesehatan yang Makin Mendunia Pilihan Pasien Indonesia

22 April 2026 - 11:39 WIB

Ke Sabah, Merawat Kesehatan Sekaligus Berwisata

19 April 2026 - 16:43 WIB

GAAN Soroti Peredaran dan penyalahgunaan Narkoba Makin Mengkhawatirkan

2 April 2026 - 18:56 WIB

Jadwal Acara Film Televisi Nasional Kamis 2 Maret 2026 ada Hellboy hingga Bioskop Trans TV

2 April 2026 - 10:44 WIB

Trending di Headline