Menu

Mode Gelap
Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028 Lewat Agrosolution 2025, Petrokimia Gresik Bersama 61.112 Petani Siap Wujudkan Swasembada Pangan

Headline

Waste to Energi, OASA dan China Menang Tender Proyek Olah Sampah Rp 2,65 Triliun

badge-check


					Presiden Prabowo Subianto memerintahkan KLHK, PUPR dan ESDM bantu menyelesaikan proyek pemanfaatan sampah menjadi energi untuk 34 wilayah produsesn sampah besar di Indonesia. Foto: wow.info Perbesar

Presiden Prabowo Subianto memerintahkan KLHK, PUPR dan ESDM bantu menyelesaikan proyek pemanfaatan sampah menjadi energi untuk 34 wilayah produsesn sampah besar di Indonesia. Foto: wow.info

Penulis: Tanasyafira Libas Tirani   |     Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, JAKARTA– Pemerintah melalui PT Danantara Investment Management (Persero) telah memulai proses lelang untuk proyek pengelolaan sampah dengan sistem Waste to Energy (WTE). Tender batch pertama diadakan pada awal November 2025 untuk 7 kota.

Masing-masong Bali, Yogyakarta, Bogor Raya, Tangerang Raya, Bekasi Raya, dan Medan Raya, dengan total proyek WTE yang direncanakan mencapai 33 kota.

Pemenang tender proyek Waste to Energy (WTE) di beberapa daerah Indonesia adalah PT Maharaksa Biru Energi Tbk (OASA). Perusahaan ini diberi sinyal kuat sebagai pemenang tender untuk proyek pengelolaan sampah WTE di Tangerang Selatan dan Jakarta Barat.

OASA membentuk perusahaan patungan (joint venture) dengan China Tianying Inc. (CNTY) untuk membangun dan mengoperasikan proyek pengolahan sampah menjadi listrik dengan kapasitas 19,6 MW di Tangerang Selatan, dengan nilai investasi sekitar Rp 2,65 triliun.

Proyek ini juga akan menjual listrik yang dihasilkan ke PT PLN (Persero) dalam skema kerja sama selama 27 tahun. Selain itu, tender WTE secara keseluruhan masih berjalan dengan proses terbuka dan transparan untuk daerah-daerah prioritas lainnya.

Proses lelang ini dilakukan untuk memilih calon mitra dari daftar penyedia terseleksi (DPT) yang mayoritas adalah perusahaan asing, yang nantinya diwajibkan untuk bekerja sama dengan BUMN, BUMD, atau sektor swasta dalam bentuk joint venture atau konsorsium.

Setiap proyek memiliki nilai investasi antara Rp 2,3 hingga 3,2 triliun dan kapasitas pengolahan sampah sekitar 1.000 ton per hari. Program ini merupakan bagian dari transisi energi nasional untuk menghadirkan solusi ramah lingkungan dan meningkatkan kemandirian energi di Indonesia.

Teknologi pengolahan sampah menjadi listrik yang akan digunakan Presiden Prabowo Subianto dalam program pengelolaan sampah di 34 kota besar adalah teknologi Waste to Energy (WTE).

Teknologi WTE ini mengubah sampah, baik sampah organik maupun non-organik, menjadi energi listrik atau panas melalui beberapa proses utama seperti pembakaran (incineration), pirolisis, gasifikasi, dan pencernaan anaerobik (anaerobic digestion).

Proses pembakaran pada suhu tinggi menghasilkan panas yang kemudian digunakan menggerakkan turbin uap untuk menghasilkan listrik.

Selain itu, teknologi ini mampu mengurangi volume sampah secara signifikan dan relatif ramah lingkungan jika dibandingkan pembakaran konvensional.

Ada pula inovasi seperti pembakaran sampah dengan sistem tertutup untuk meminimalkan polusi, serta pemanfaatan limbah pembakaran menjadi biofuel dan produk sampingan lain.

Teknologi ini menjadi solusi efektif untuk mengurangi tumpukan sampah sekaligus menghasilkan energi listrik di kawasan perkotaan besar.​

Teknologi pengolahan sampah menjadi listrik yang akan digunakan Presiden Prabowo Subianto dalam program pengelolaan sampah di 34 kota besar adalah teknologi Waste to Energy (WTE).

Teknologi WTE ini mengubah sampah, baik sampah organik maupun non-organik, menjadi energi listrik atau panas melalui beberapa proses utama seperti pembakaran (incineration), pirolisis, gasifikasi, dan pencernaan anaerobik (anaerobic digestion).

Proses pembakaran pada suhu tinggi menghasilkan panas yang kemudian digunakan menggerakkan turbin uap untuk menghasilkan listrik. Selain itu, teknologi ini mampu mengurangi volume sampah secara signifikan dan relatif ramah lingkungan jika dibandingkan pembakaran konvensional.

Ada pula inovasi seperti pembakaran sampah dengan sistem tertutup untuk meminimalkan polusi, serta pemanfaatan limbah pembakaran menjadi biofuel dan produk sampingan lain.

Teknologi ini menjadi solusi efektif untuk mengurangi tumpukan sampah sekaligus menghasilkan energi listrik di kawasan perkotaan besar. **​

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Menhub Targetkan Proyek KRL Surabaya-Sidoarjo Rampung 2029

16 Juli 2026 - 20:03 WIB

BPOM Ungkap Mayoritas Pelanggaran Kosmetik Ilegal Terjadi di TikTok

16 Juli 2026 - 19:49 WIB

Jaksa Tuntut Hukuman 12 Tahun Penjara, Kasus Pelecehan Siswa di SMP Jombang

16 Juli 2026 - 14:01 WIB

CRV Ditumpangi 9 Orang Sekeluarga, Tabrak Truk Parkir di Tol Pandaan 5 Orang Tewas

16 Juli 2026 - 13:17 WIB

3.000 ASN Disdik Brebes Bobol Presensi Daring, Sembilan Guru Dijebloskan ke Tahanan

16 Juli 2026 - 09:52 WIB

Satu Korban Luka, Akibat Kebakaran Rumah dan Toko di Johowinong Mojoagung

16 Juli 2026 - 08:39 WIB

Kemenkop Pasang Anggaran Rp1,8 Triliun untuk Beli 1.800 Unit Kipas Angin, Ferry Yuliantoro Mengaku tak Tahu!

16 Juli 2026 - 08:06 WIB

Jaksa Teliti Asal Usul 74 Kg Emas di Rumah Febrie Adriansyah, Mahfud MD: Ini Gempa Hukum Terbesar

16 Juli 2026 - 05:32 WIB

57 ASN di Kukar Terima Transferan Rp36,7 Miliar, BPK Kaltim: Bukan Kelebihan Bayar Biasa

15 Juli 2026 - 21:26 WIB

Trending di News