Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, DUBAI— PM India, Narendra Modi video call dengan kapten pilot Smit Machchhar, Jumat 2 Oktober 2026. pasca penggagalan pembajakan FlyDubai, yang mengagetkan jagad penerbangan pertama kali terjadi ini.
PM MODI: “Kapten, saya mendengar apa yang terjadi. Dalam menghadapi bahaya yang sangat besar, meski terluka serius, Anda tetap menunjukkan keberanian luar biasa dan tekad yang tak tergoyahkan untuk melindungi nyawa orang lain. Tindakan Anda telah menyelamatkan 174 jiwa. Anda sendiri saat itu sedang berjuang antara hidup dan mati. India sangat bangga kepada Anda.”
KAPTEN SMIT: “Terima kasih, Tuan Perdana Menteri. Saat itu saya ditusuk, saya jatuh ke lantai, terluka di kepala dan lengan. Saya terbaring tak berdaya, dan saya bisa merasakan pesawat menukik turun tajam — lebih dari 17.000 kaki dalam sekejap. Saya tahu apa yang terjadi. Namun pikiran saya hanya satu: saya harus membuka pintu kokpit dari dalam. Itu satu-satunya cara agar bantuan bisa masuk dan penumpang diselamatkan.”
PM MODI: “Itu keputusan yang menyelamatkan semuanya. Bagaimana perasaan Anda saat melihat pintu itu terbuka dan bantuan datang?”
KAPTEN SMIT: “Saat pintu terbuka, saya merasa lega sekaligus lemah. Saya tahu saya tidak sendirian lagi. Kru kabin dan penumpang bergegas masuk, mereka melumpuhkan pelaku, lalu dua pilot cadangan yang kebetulan ikut penerbangan itu segera mengambil alih kendali. Mereka yang menerbangkan pesawat hingga mendarat dengan selamat di Tabuk, Arab Saudi.”
PM MODI: “Anda berjuang bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk semua orang di atas pesawat. Apa yang ada di pikiran Anda di detik-detik itu?”
KAPTEN SMIT: “Jujur, saya berjuang untuk hidup saya sendiri, tentu saja. Tapi di saat yang sama, saya tahu saya tidak akan membiarkan orang lain mati. Saya sudah menerbangkan pesawat selama 17 tahun — saya mengenal pesawat ini begitu baik, bahkan bisa tahu apa yang terjadi seakan-akan dengan mata tertutup. Pengetahuan itulah yang menuntun saya meski dalam keadaan terluka.”
PM MODI:”Anda pahlawan sejati, Kapten. Bagaimana kondisi Anda sekarang? Apakah keluarga sudah menemui Anda?”
KAPTEN SMIT: “Saya sedang dalam pemulihan, Tuan. Luka di kepala dan lengan masih terasa, saya sudah dipindahkan ke rumah sakit di Abu Dhabi, kondisinya makin stabil. Putri saya sudah datang menjenguk, tapi dia tampak ketakutan melihat ayahnya terluka. Anak bungsu saya yang baru berusia 2 tahun belum bisa menemuinya.”
(Saat ini Kapten Smit terlihat menahan tangis, lalu meminta maaf)
“Mohon maaf saya menangis di hadapan Anda… Sebelumnya saya tidak merasa bangga pada diri sendiri. Tapi setelah Anda menelepon saya, saya sungguh merasa bangga.”
PM MODI: “Tidak perlu malu, Kapten. Air mata Anda adalah bukti kebesaran jiwa Anda. Seluruh bangsa India bangga pada Anda. Semoga lekas sembuh, kami menantikan kepulangan Anda.”
KAPTEN SMIT: “Terima kasih, Tuan. Saya tidak memandang luka-luka ini sebagai hal yang buruk. Saya memandangnya sebagai perjalanan — perjalanan yang butuh waktu, tapi saya yakin saya akan pulih sepenuhnya.”
Pertama di Dunia
Banyak hal yang pernah terjadi di dunia penerbangan, namun apa yang berlangsung di kokpit penerbangan Flydubai FZ1073 pada Rabu, 30 September 2026, belum pernah tercatat sebelumnya.
Pembajakan terjadi, gangguan keamanan terjadi, tetapi belum pernah ada kasus di mana rekan satu kokpit.
Kopilot yang seharusnya menjadi penyangga utama keselamatan, justru mengeluarkan senjata tajam dan menusuk kaptennya saat pesawat sedang terbang tinggi di langit.
Ini adalah peristiwa pertama jenisnya dalam sejarah penerbangan sipil dunia.
Kapten Smit Machchhar, pilot berkebangsaan India yang telah mengabdi selama 17 tahun, sedang memimpin penerbangan dari Dubai menuju Tel Aviv ketika serangan itu datang tanpa peringatan.
Di ketinggian 32.000 kaki, di ruang tertutup yang seharusnya menjadi tempat paling aman, orang yang duduk di sebelahnya tiba-tiba berbalik menjadi ancaman mematikan.
Terluka dan terjatuh, Kapten Smit melihat pesawat turun drastis hampir 14.000 kaki dalam hitungan detik. Namun di saat itulah ia memilih untuk tidak menyerah.
“Saya terbaring di lantai dalam keadaan terluka, tetapi saya berkata pada diri sendiri untuk melakukan dorongan terakhir untuk membuka pintu dari dalam.”
Usahanya membuka pintu kokpit itulah yang menjadi garis pemisah antara bencana dan keselamatan.
Kru kabin serta penumpang bergegas masuk, melumpuhkan pelaku, sementara dua pilot cadangan mengambil alih kendali dan mendaratkan pesawat dengan selamat di Tabuk, Arab Saudi. Seluruh 174 orang di dalamnya selamat.
“Tentu saja saya berjuang untuk hidup saya sendiri, tetapi pada saat yang sama saya tahu saya tidak akan membiarkan orang lain mati,” ujar Kapten Smit dalam percakapan dengan Perdana Menteri India Narendra Modi.
Peristiwa ini berbeda dari kasus-kasus masa lalu. Pada 2015, kopilot pesawat Germanwings menjatuhkan pesawat sendirian namun ia tidak melukai siapa pun secara fisik, hanya mengunci pintu.
Pada 1997, dugaan kapten menjatuhkan pesawat sendiri. Pada 1994, orang luar menyerang awak. Tidak ada yang sama persis dengan apa yang terjadi pada FZ1073: rekan kerja, di kokpit, menyerang secara langsung dengan senjata tajam.
“Saya tidak menganggap luka ini sebagai luka biasa… Saya memandang ini sebagai sebuah perjalanan yang berlangsung perlahan dan akan membutuhkan waktu, tetapi saya yakin pemulihan akan terjadi,” kata Kapten Smit dengan tenang.
Dunia kini memandangnya sebagai pahlawan. Namun yang membuat peristiwa ini begitu berkesan bukan sekadar keberaniannya, melainkan kenyataan bahwa dunia penerbangan kini menghadapi ancaman yang belum pernah dipikirkan sebelumnya: bahaya yang datang dari tempat yang paling dipercaya.
Penyelidikan masih berjalan, namun satu hal sudah pasti: kisah Kapten Smit Machchhar telah mengubah catatan sejarah keselamatan udara.**

















