Penulis: Yusran Hakim | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, JAKARTA– Project Multatuli merilis informasi belanja Kaos Kaki BGN sekitar Rp6,9 miliar lewat laporan analisis “Proyek MBG: Potensi Market Belanja BGN” pada Minggu ketiga–akhir Maret 2026, dengan unggahan resmi yang menunjukkan foto laporan bertanggal 10 Maret 2026 di akun Instagram Project Multatuli (@project_tm).
Total anggaran kaos kaki mencapai Rp6,9 miliar dari belanja pakaian Rp623,3 miliar. Khusus kaos kaki lapangan, Rp1,7 miliar untuk 17.000 pasang dengan harga Rp100.000 per pasang; jenis lain mulai Rp34.999 per pasang. Vendor PT Gajah Mitra Paragon dapat kontrak Rp3,4 miliar.
Data ini bersumber dari dokumen anggaran BGN 2025 (Rp6,2 triliun total) yang dipublikasikan di INAPROC/LKPP dan dianalisis media seperti Project Multatuli. Pengadaan via e-katalog tanpa label SNI, memicu sorotan efisiensi APBN untuk program MBG
Anggaran BGN 2025 mencapai Rp6,2 triliun, dengan belanja pakaian dinas (termasuk kaos kaki harian Rp34.999/pasang) menuai kritik karena harga satuan dianggap kemahalan dan tanpa label SNI. Vendor seperti PT Gajah Mitra Paragon dapat kontrak Rp3,4 miliar via e-katalog. Publik mempertanyakan efisiensi dana APBN di tengah program Makan Bergizi Gratis (MBG)..
Laporan ini menyusuri data pengadaan BGN 2025 dari LKPP, dan bagian yang mengungkap belanja kaos kaki Rp6,9 miliar menjadi sorotan usai dibagikan ulang media dan akun‑akun publik pada Awal–Pertengahan April 2026.
Dengan demikian, meski rilis awalnya Maret 2026, angka “kaos kaki Rp6,9 miliar” baru menghangat dan viral di media masa sekitar pekan pertama April 2026.
Secara spesifik, angka itu disebut pertama kali mengemuka setelah Project Multatuli punya laporan mengenai belanja APBN untuk BGN, termasuk pos pengadaan kaos kaki sekitar 17.000 pasang dengan total sekitar Rp6,9 miliar.
Laporan ini lalu diulas dan di‑share oleh beberapa peneliti dan akademisi, salah satunya Mawa Kresna, yang menyoroti angka‑angka belanja BGN dalam tulisan dan analisisnya.
Setelah itu, info ini menjadi viral di Instagram, Facebook, dan X (Twitter), diunggah oleh warga sipil, akun edukasi, dan media sosial yang membagikan screenshot dokumen pengadaan BGN tentang kaos kaki tersebut.
Jadi, yang “memunculkan” angka pastinya adalah kolaborasi antara lembaga riset (terutama Project Multatuli) dan analis seperti Mawa Kresna, lalu disebar‑luaskan oleh netizen dan media sosial.
Belum Merespon
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana sampai saat ini belum memberikan penjelasan detail teknis soal pembelian kaos kaki senilai sekitar Rp6,6–6,9 miliar melalui kanal resmi yang jelas.
Dalam konteks kritik publik terhadap berbagai pos anggaran BGN (termasuk motor dan belanja “kecil” seperti kaos kaki), Dadan hanya menyatakan bahwa pihaknya sedang melakukan evaluasi terhadap pos‑pos belanja yang dianggap tidak produktif atau tidak prioritas.
Dia menekankan bahwa BGN akan memperbaiki tata kelola anggaran dan fokus pada program inti seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), tanpa menguraikan per item mengapa kaos kaki sampai sebesar itu bisa dianggarkan.
Nuansa politik‑publik
Dadan juga lebih banyak muncul membantah atau mengklarifikasi isu lain, seperti anggaran jumbo Rp335 triliun atau pengadaan 70.000 motor, sementara soal kaos kaki beliau hanya digambarkan sebagai bagian dari “evaluasi anggaran” tanpa rinci harga/kuantitas.
Karena itu, hingga saat ini kata‑kata resminya tentang kaos kaki itu sendiri kurang gamblang dan terbatas pada narasi evaluasi dan efisiensi, bukan penjelasan rinci teknis pengadaan.
Hingga kini tidak ada catatan resmi yang jelas bahwa Kepala BGN Dadan Hindayana telah memberikan penjelasan khusus dan rinci tentang pembelian kaos kaki Rp6,6–6,9 miliar secara terpisah seperti halnya soal motor listrik BGN.
Dengan kata lain, sampai saat ini (9 April 2026) belum ada “tanggal pasti” saat Dadan memberikan penjelasan khusus tentang kaos kaki seperti halnya motor; penjelasan yang ada hanya berupa narasi umum tentang evaluasi belanja BGN, bukan perincian teknis kaos kaki itu sendiri.
Profile Multatuli
Project Multatuli adalah organisasi jurnalisme nirlaba asal Indonesia yang berdiri pada Mei 2021 sebagai inisiatif “jurnalisme layanan publik” untuk mengawasi kekuasaan dan mengangkat suara masyarakat yang terpinggirkan.
Nama “Multatuli” diambil dari nama pena Eduard Douwes Dekker, penulis Max Havelaar, sebagai simbol kritik terhadap ketidakadilan dan kolonialisme.
Organisasi ini memproduksi laporan investigatif berbasis riset dan data, sering menyentuh isu agraria, lingkungan, korupsi, dan pengelolaan anggaran, seperti yang terlihat dalam laporan mereka tentang belanja BGN (kaos kaki, motor, hingga tabung oksigen). Laporan Project Multatuli dipublikasikan dalam bahasa Indonesia dan Inggris, serta dibuat untuk umum dan kalangan pembuat kebijakan, media mitra, dan kelompok masyarakat sipil.
Project Multatuli berbadan hukum sebagai yayasan dan perusahaan, dengan kantor di Jakarta, dan memiliki program keanggotaan bernama “Kawan M” untuk memperkuat independensi dan pendanaan publik. Misi utamanya adalah mengupayakan demokrasi, keadilan sosial, keberlanjutan lingkungan, dan kesetaraan hak melalui pemberitaan yang mendalam dan transparan.**
siapa yang memunculkan info soal belanja beli kaos kaki hingga Rp 6,6 miliar ini
Informasi soal belanja kaos kaki BGN hingga sekitar Rp6,6–6,9 miliar awalnya muncul dari lembaga riset dan kajian publik, kemudian meluas lewat aktivis dan akun‑akun media sosial.
Asal mula utama
Secara spesifik, angka itu disebut pertama kali mengemuka setelah Project Multatuli punya laporan mengenai belanja APBN untuk BGN, termasuk pos pengadaan kaos kaki sekitar 17.000 pasang dengan total sekitar Rp6,9 miliar. Laporan ini lalu diulas dan di‑share oleh beberapa peneliti dan akademisi, salah satunya Mawa Kresna, yang menyoroti angka‑angka belanja BGN dalam tulisan dan analisisnya.
Setelah itu, info ini menjadi viral di Instagram, Facebook, dan X (Twitter), diunggah oleh warga sipil, akun edukasi, dan media sosial yang membagikan screenshot dokumen pengadaan BGN tentang kaos kaki tersebut.
Jadi, yang “memunculkan” angka pastinya adalah kolaborasi antara lembaga riset (terutama Project Multatuli) dan analis seperti Mawa Kresna, lalu disebar‑luaskan oleh netizen dan media sosial.
Project Multatuli merilis informasi soal belanja Kaos Kaki BGN sekitar Rp6,9 miliar lewat laporan analisis “Proyek MBG: Potensi Market Belanja BGN” pada Minggu ketiga–akhir Maret 2026, dengan unggahan resmi yang menunjukkan foto laporan bertanggal 10 Maret 2026 di akun Instagram Project Multatuli.
Laporan ini menyusuri data pengadaan BGN 2025 dari LKPP, dan bagian yang mengungkap belanja kaos kaki Rp6,9 miliar menjadi sorotan usai dibagikan ulang media dan akun‑akun publik pada Awal–Pertengahan April 2026.
Dengan demikian, meski rilis awalnya Maret 2026, angka “kaos kaki Rp6,9 miliar” baru menghangat dan viral di media masa sekitar pekan pertama April 2026. **







