Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga
KREDONEWS.COM, NANJING-Dalam dunia pemadaman kebakaran, Tiongkok sedang memimpin dengan teknologi drone terbaru yang revolusioner. Dari gedung pencakar langit hingga kebakaran hutan di medan ekstrem, drone kini menjadi pahlawan tak dikenal dalam misi penyelamatan modern. Teknologi ini mengubah cara pemadam kebakaran bekerja dan menyelamatkan banyak nyawa.
Di kota-kota besar Tiongkok yang padat dan kawasan hutan yang luas, petugas pemadam sering menghadapi tantangan besar. Mobil tangga atau tim darat tak selalu mampu menjangkau kobaran api di lantai 30 sebuah gedung (di Indonesia bisa sampai lantai berapa? belum ada keterangan) atau titik api di kedalaman hutan.
Di sinilah peran drone pemadam kebakaran sangat vital: mereka hadir dengan misi menjangkau tempat-tempat yang mustahil dijangkau manusia.
Salah satu drone unggulan adalah EHang 216F, drone berawak dengan delapan lengan yang membawa nosel pemadam berat dan mampu menyemprotkan busa dari ketinggian lebih dari 300 meter. Dirancang untuk bermanuver di lorong-lorong sempit kota, drone ini sangat efektif dalam mengatasi kebakaran di gedung tinggi.
Ada pula Aerial Scooter Drone yang mampu mencapai ketinggian 200 meter hanya dalam 30 detik, dan menyebarkan bom serbuk kering untuk memadamkan api di area seluas 200 meter persegi.
Sementara itu, perusahaan seperti XCMG Group mengembangkan drone pengintai dengan teknologi AI yang memetakan zona kebakaran secara real-time. Informasi ini dikirim langsung ke tim darat untuk pengambilan keputusan cepat—mulai dari deteksi sumber panas hingga titik-titik struktur bangunan yang lemah.
Kecanggihan tak hanya dari kecepatan, tapi juga kepintaran. Drone ini tak hanya melihat, tapi juga menganalisis situasi, merancang rute evakuasi aman bagi tim di lapangan, dan memprediksi pergerakan api. Dalam hitungan detik, mereka sudah di udara, memberi pandangan langsung terhadap perilaku api—jauh lebih cepat dibanding respons manual yang terhambat persiapan dan lalu lintas.
Drone sangat bermanfaat di area urban dengan akses terbatas. Mereka bisa terbang langsung ke pusat api, bahkan ke lokasi yang nyaris mustahil dijangkau manusia. Ini secara drastis mengurangi risiko bagi petugas pemadam karena penanggulangan api dilakukan dari udara.
Penggunaan drone ini bukan sekadar teori. Dalam sebuah insiden dramatis di provinsi Shaanxi, tiga drone bekerja serempak memadamkan api di gedung bertingkat, sambil mengirimkan data penting ke tim darat. Saat kebakaran hutan melanda Chongqing, drone juga digunakan untuk memadamkan api, mengoordinasikan tim darat, dan mengirim logistik ke titik-titik terpencil.
Namun, teknologi ini masih memiliki keterbatasan. Daya tahan baterai membatasi waktu terbang, dan cuaca buruk seperti angin kencang atau asap pekat bisa menghambat operasi. Selain itu, ada kendala regulasi yang membatasi penggunaan drone di ruang udara tertentu, serta kekhawatiran publik soal keselamatan dan privasi yang masih menjadi hambatan.
Meski begitu, langkah maju Tiongkok dalam mengadopsi drone pemadam membuktikan bahwa masa depan penanggulangan kebakaran adalah dari langit. Bayangkan saja: sebuah gedung tinggi terbakar dan drone masuk satu per satu, memadamkan api dari lantai ke lantai secara terkoordinasi. Atau saat kebakaran hutan terjadi, drone dengan kamera termal menyusuri hutan secara otomatis sambil mengirim data ke tim penyelamat.
Dengan inovasi ini, Tiongkok bukan hanya menetapkan standar global, tapi juga memperlihatkan bahwa memadamkan api tak harus selalu dari darat. Kadang, pahlawan sejati justru datang dari langit.***