Menu

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Uncategorized

Terinfeksi Prion, Manusia dan Hewan Mirip Seperti Zombie

badge-check


					(Atas) Bentuk saraf normal, dan bentuk saraf yang berubah akibat terinfeksi prion. (Bawah) Seekor rusa yang terinfeksi prion, masih terus bergerak berputar-putar sampai akhirnya mati. Instagram@wearenesia Perbesar

(Atas) Bentuk saraf normal, dan bentuk saraf yang berubah akibat terinfeksi prion. (Bawah) Seekor rusa yang terinfeksi prion, masih terus bergerak berputar-putar sampai akhirnya mati. Instagram@wearenesia

Penulis: Jacbbus E. Lato   |    Editor:  Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, SAN FRANCISCO- Selain HIV (human immuno virus) penyebab AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome), setelah muncul prion. Prion bukan virus, melainkan protein abnormal yang bertindak sebagai agen penyebab penyakit menular. Tidak seperti virus atau bakteri, prion hanya terdiri dari protein tanpa materi genetik seperti DNA atau RNA.

Prion dikenal karena kemampuannya mengubah protein normal menjadi bentuk abnormal melalui proses lipatan yang salah, yang kemudian menyebabkan akumulasi protein abnormal di jaringan otak atau sistem saraf.

Prion bisa menginfeksi manusia dan hewan. Jika manusia dan hewan terinfeksi prio, maka penderita akan mengalami gejala mirip zombie. Masih terus mampu begerak meskipun sesungguhnya dalam kondisi mati.

Prion ditemukan pertama kali oleh Stanley B. Prusiner pada tahun 1982 di Universitas California, San Francisco. Prusiner dan timnya berhasil memurnikan protein yang diduga menular dan menunjukkan bahwa agen penyebab penyakit prion tidak mengandung materi genetik, melainkan terdiri dari protein yang salah lipat.

Penemuan ini menandai awal pemahaman baru tentang penyakit neurodegeneratif dan mengubah cara pandang terhadap agen infeksius, yang sebelumnya hanya dikenal berupa bakteri, virus, atau parasit. Prusiner menerima Hadiah Nobel dalam Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 1997 atas kontribusinya dalam penelitian ini.

Prion tetap menjadi subjek penelitian intensif,  karena sifatnya yang unik dan dampaknya terhadap kesehatan manusia serta hewan.

Infeksi prion mempengaruhi baik hewan maupun manusia, dengan angka prevalensi yang bervariasi tergantung pada jenis penyakitnya.

Infeksi pada Hewan
Chronic Wasting Disease (CWD): Penyakit ini menginfeksi rusa dan spesies cervid lainnya. CWD telah terdeteksi di banyak negara bagian di AS dan beberapa negara lain, dengan prevalensi yang bervariasi tergantung pada area dan populasi hewan. Misalnya, di beberapa daerah, prevalensi CWD dapat mencapai 10% atau lebih dalam populasi rusa tertentu.

Penyakit Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE): Juga dikenal sebagai penyakit sapi gila, BSE telah menyebabkan ribuan kasus di Inggris dan negara lain selama wabah besar pada akhir 1980-an dan awal 1990-an.

Secara keseluruhan, meskipun infeksi prion jarang terjadi pada manusia, dampaknya terhadap kesehatan hewan dan potensi risiko bagi manusia tetap menjadi perhatian penting dalam penelitian kesehatan masyarakat.

Beberapa informasi terkait:

  • Penyakit Kuru: Kasus penyakit prion yang lebih dikenal di Papua Nugini, terutama di kalangan suku Fore, disebabkan oleh praktik kanibalisme dengan memakan otak manusia yang terinfeksi. Ini menunjukkan bahwa infeksi prion dapat terjadi melalui cara tertentu, tetapi tidak ada bukti bahwa praktik serupa terjadi di Indonesia.

  • BSE (Penyakit Sapi Gila): Di Indonesia, tidak pernah ditemukan kasus Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE), yang merupakan penyakit prion pada sapi. Hal ini dinyatakan oleh Dirjen PKH yang menegaskan bahwa Indonesia bebas dari penyakit tersebut dan mengklasifikasikannya sebagai penyakit eksotis.

  • Kasus Lain: Terdapat laporan tentang seorang remaja di Indonesia yang mengalami gangguan otak langka, tetapi tidak secara spesifik disebutkan bahwa itu disebabkan oleh infeksi prion.

Secara keseluruhan, meskipun ada potensi risiko dari penyakit prion, hingga saat ini tidak ada catatan kasus infeksi prion pada manusia di Indonesia. **

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Membuka dan Menutup Muktamar ke 35, Presiden Prabowo Terima KTA NU dari KH Miftachul Akhyar

31 Agustus 2026 - 21:24 WIB

Tidak Ada Saksi, Posko DPP GRIB Milik Hercules Tibatiba Terbakar!

31 Agustus 2026 - 12:54 WIB

Diduga Tak Kuat Tahan Beban Jembatan Gantung Anjlok, Saat Dilewati Bupati Pangandaran Bersama 50 Orang

31 Agustus 2026 - 11:56 WIB

Terpilih Jadi Ketum PB NU, KH Abdul Halim Mahfudz Tanda Tangan Fakta Integritas

31 Agustus 2026 - 10:49 WIB

KH Nurul Huda Djazuli Pimpin AHWA: Putuskan KH Miftachul Akhyar Kembali Duduki Rais Aam PB NU 2026-2031

31 Agustus 2026 - 00:23 WIB

Bahar Smith Tantang Duel Hercules: Memperkusut Kasus Hukum Tewasnya Bambang Setiawan

30 Agustus 2026 - 20:58 WIB

Elon Musk: Blindsight Implant bagi Penyandang Kebutaan Bisa Melihat

30 Agustus 2026 - 18:44 WIB

Travel ITS Group Telantarkan 196 Jamaah Umrah di Juanda dan Jombang

30 Agustus 2026 - 17:51 WIB

Ricuh 30 Menit di Muktamar NU, Massa Pakai Kaos Gambar Bakal Calon Terbalik

30 Agustus 2026 - 15:11 WIB

Trending di News