Penulis: Jayadi | Editor: Aditya Prayoga
KREDONEWS.COM, JAKARTA– Serka Edi Sutono, prajurit Korps Baret Merah Kopassus, menunjukkan aksi heroik dengan menyelamatkan nyawa pasukan khusus Filipina saat latihan militer bersama. Peristiwa itu terjadi dalam Latihan Bersama (Latma) Dolphine-XVII/2025 antara Kopassus TNI AD dan Special Forces Regiment (Airborne) Angkatan Darat Filipina.
Dalam latihan tersebut, parasut utama milik SSg Jonathan Sabado gagal terbuka saat terjun bebas dari ketinggian rendah. Serka Edi dengan sigap membantu membuka parasut tersebut, menyelamatkan nyawa rekannya yang nyaris celaka di udara.
“Penghargaan ini merupakan bentuk penghormatan atas keberanian dan dedikasi, sekaligus simbol kuatnya solidaritas dan kerja sama antara Kopassus dan Special Forces Regiment (Airborne) Angkatan Darat Filipina,” tulis Penkopassus dalam keterangannya, Rabu (30/7/2025).
Penghargaan diberikan pada penutupan Latma Dolphine-XVII/2025. Upacara dipimpin langsung oleh Mayor Jenderal Ferdinand B. Napuli, Commander of the Special Operations Command, Philippine Army (SOCOM PA), dan dihadiri perwakilan Komandan Jenderal Kopassus, Letkol Cke Hisar Panusunan Silaen.
Penjelasan Latihan Dolphine
Latihan Dolphine-XVII/2025 merupakan kegiatan pelatihan pasukan khusus bilateral gabungan yang melibatkan 25 personel Angkatan Darat Filipina dan 25 personel Angkatan Darat Indonesia. Latihan ini berlangsung dari 16 hingga 27 Juli 2025. Pelatihan ini berfokus pada empat kemampuan operasi khusus yang krusial:
– Perang Kota
– Pengintaian Khusus dan Aksi Langsung
– Operasi Sungai untuk Infiltrasi Antar Pulau
– Operasi Lintas Udara, termasuk teknik terjun bebas militer
Selain itu, enam perwira senior Angkatan Darat Indonesia berpartisipasi dalam Program Kunjungan Perwira Senior dari 22 hingga 25 Juli 2025. Latihan ini menyoroti pentingnya kerja sama yang erat antara pasukan khusus Filipina dan Indonesia untuk meningkatkan kemampuan keamanan dan pertahanan regional.
Latihan ini diselenggarakan di Filipina, menekankan kemitraan strategis untuk memperkuat interoperabilitas pasukan khusus dan meningkatkan kesiapan untuk berbagai skenario operasi khusus.***