Menu ✖

Mode Gelap
BPS Catat Harga Daging Sapi Nasional Sudah di Atas HAP Wamentan Sudaryono: 2,3 Juta Hewan Kurban Dipotong, Stok Aman & Bebas Penyakit Idul Adha Dorong Lonjakan Harga Pangan Nasional Sertipikat Jombang Menuju Kabupaten Bersih, Masuk 16 Terbaik Nasional IPP Mencapai 4,69, Jombang Raih Predikat Terbaik Jawa Timur dan Peringkat III Nasional Bongkar dan Bersihkan Ratoon, Areal Tebu 10.787 Ha Jombang Menuju Swasembada Gula 2028

Headline

SBY Ingatkan: Jangan Sampai TNI-Polri Mengulangi Sejarah yang Telah Terkoreksi

badge-check


					Mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan putranya Agus Harimurti Yudhoyono (Ketum Partai Demokrat,  Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan) saat mengikuti parade pembukaan acara retret kepala daerah di Magelang. Instagram@presidenyudhoyonoalbum Perbesar

Mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono dan putranya Agus Harimurti Yudhoyono (Ketum Partai Demokrat, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan) saat mengikuti parade pembukaan acara retret kepala daerah di Magelang. Instagram@presidenyudhoyonoalbum

Penulis: Yusran Hakim  |  Editor: Priyo Suwarno

KREDONEWS.COM, JAKARTA- Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) baru-baru ini mengingatkan agar Tentara Nasional Indonesia (TNI) tidak mengulangi kesalahan sejarah yang telah dikoreksi, terutama terkait dengan keterlibatan TNI aktif dalam politik praktis.

Dalam sebuah acara di Cikeas, Senin 17 Maret 20225,  SBY  menekankan pentingnya pemisahan antara militer dan politik, sesuai dengan doktrin reformasi yang diusung sejak 1998.

Ia menegaskan bahwa prajurit TNI aktif seharusnya mundur jika ingin terlibat dalam pemerintahan atau politik, mengingat hal tersebut bertentangan dengan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan, seperti dituangkan dalam liputan 6

SBY mengungkapkan bahwa kebijakan ini juga diikuti oleh putranya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), yang memilih untuk pensiun dari TNI sebelum terjun ke dunia politik.

Ia menjelaskan bahwa keputusan tersebut merupakan bagian dari komitmen untuk menjaga integritas dan netralitas TNI.

Pernyataan SBY muncul di tengah protes masyarakat mengenai banyaknya prajurit TNI aktif yang menduduki jabatan sipil. Ia mengingatkan bahwa sejak reformasi, ada kesepakatan untuk mengembalikan fungsi TNI sesuai konstitusi, yang menekankan bahwa tentara harus fokus pada pertahanan negara dan tidak terlibat dalam politik praktis.

Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Lodewijk F Paulus, juga menanggapi kritik SBY dengan menyatakan bahwa pemerintah akan mengevaluasi aturan terkait penempatan TNI aktif dalam jabatan publik sipi.

Kritik Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terhadap penempatan TNI aktif di jabatan sipil memiliki beberapa dampak signifikan, baik dalam konteks politik maupun reformasi militer di Indonesia.

SBY menekankan bahwa prajurit TNI aktif seharusnya tidak terlibat dalam politik praktis, sesuai dengan prinsip reformasi yang mengharuskan pemisahan antara militer dan politik. Ini berpotensi memperkuat kembali komitmen untuk menjaga netralitas TNI dan mencegah terulangnya dominasi militer dalam pemerintahan, yang pernah terjadi pada era Orde Baru.

Kritik ini juga mendorong pemerintah untuk mengevaluasi regulasi terkait penempatan TNI aktif di jabatan sipil. Wakil Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Lodewijk F Paulus, menyatakan bahwa pemerintah sedang membahas aturan ini, menunjukkan adanya respons terhadap kekhawatiran yang diungkapkan SBY.

Penempatan prajurit TNI aktif dalam posisi sipil dapat mengurangi profesionalisme dalam birokrasi negara. Hal ini berpotensi menciptakan ketergantungan pemerintah pada militer dan melemahkan supremasi sipil, yang merupakan prinsip utama dalam demokrasi. Kritikus juga khawatir bahwa langkah ini dapat mengubah loyalitas TNI dari negara menjadi individu atau kelompok tertentu.

Secara keseluruhan, kritik SBY berfungsi sebagai pengingat bagi pemimpin saat ini untuk tidak mengabaikan pentingnya pemisahan antara militer dan politik demi menjaga integritas dan stabilitas demokrasi di Indonesia. **

Facebook Comments Box

Baca Lainnya

Wapres Kunjungi Pabrik Sepeda di Sidoarjo, Dorong Penyelarasan Pendidikan dan Kebutuhan Industri

16 Oktober 2026 - 19:57 WIB

Penutupan Jombang Fest, Bupati Warsubi Bagikan Penghargaan Juara dan Santunan untuk Yatim Piatu

16 Oktober 2026 - 16:32 WIB

Bupati Warsubi dan Danrem 082 Tinjau Operasi 8 Gerai KDKMP di Mojoagung dan Mojowarno

16 Oktober 2026 - 15:21 WIB

Tibatiba Angin Berbalik Arah, Empat Relawan Tewas Terbakar Saat Padamkan Kebakaran Hutan Bromo

16 Oktober 2026 - 14:15 WIB

OTT ke 23 KPK Ringkus Bupati Klaten, Wajar Ismoyo: Warga Masyarakat Saya Mohon Maaf

16 Oktober 2026 - 10:57 WIB

Terlibat Kasus OTT ATR/BTN Bogor, Hercules Serahkan Rp800 Juta kepada KPK

16 Oktober 2026 - 07:10 WIB

Lantik Empat Wamen Baru, Kabinet Prabowo 112 Orang tapi Kabinet Dwikora Bung Karno Sebanyak132 Orang

15 Oktober 2026 - 20:27 WIB

Hakim Fitrizal Lahirkan Yurisprudensi Baru: Yogi Mentawai Divonis Bersalah, tetapi Dimaafkan

15 Oktober 2026 - 19:21 WIB

Menteri Sosial Ungkap Warga RI yang Kebagian HP Gratis dari Pemerintah

15 Oktober 2026 - 18:37 WIB

Trending di Nasional