Penulis: Jacobus E Lato | Editor: Yobie Hadiwijaya
KREDONEWS.COM, JAKARTA-Perubahan pola makan dan gaya hidup saat berpuasa memicu adaptasi tubuh yang tidak sederhana. Kondisi tersebut kerap menimbulkan keluhan perut perih, terutama pada awal masa puasa.
Perut perih saat puasa tergolong keluhan yang wajar dialami banyak orang. Lambung yang biasanya terisi saat siang hari harus kosong hingga petang selama berpuasa.
Dilansir dari laman Halodoc, tubuh memulai penyesuaian karena pola makan berubah drastis dibanding sebelas bulan sebelumnya. Proses adaptasi ini membuat saluran pencernaan, terutama lambung, bekerja menyesuaikan kondisi baru.
Rasa perih muncul karena lambung berada dalam keadaan kosong lebih lama. Saat tidak menerima asupan, organ pencernaan lain turut mengurangi aktivitas kerjanya.
Secara alami, produksi asam lambung seharusnya menurun ketika tidak ada makanan masuk. Namun enam hingga delapan jam setelah kosong, kadar asam lambung justru meningkat.
Peningkatan tersebut dipicu penurunan gula darah yang menimbulkan rasa lapar di siang hari. Pada waktu itu, produksi asam lambung berada pada titik tertinggi dan berisiko bagi pengidap maag.
Indera penciuman dan pikiran tentang makanan saat menjelang berbuka turut merangsang produksi asam lambung. Akibatnya, perut terasa nyeri meski seseorang tidak memiliki riwayat gangguan maag.
Pengidap maag tetap dapat berpuasa dengan memperhatikan pola makan, pilihan menu, dan jadwal obat. Kepatuhan terhadap panduan medis membantu mencegah kambuhnya gejala selama menjalankan ibadah puasa.***











