Penulis: Jacobus E. Lato | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, DUBAI — Sebuah upaya pembajakan yang berawal dari penusukan terhadap pilot yang sedang bertugas mengguncang dunia penerbangan internasional.
Penerbangan FlyDubai nomor FZ1073, yang mengangkut 174 orang dari Dubai menuju Tel Aviv, nyaris berakhir dengan bencana, Rabu malam, 30 September 2026.
Peristiwa ini bukan sekadar gangguan teknis, melainkan serangan yang direncanakan dan dilakukan langsung dari dalam kokpit — oleh orang yang seharusnya menjadi rekan terdekat sang kapten.
Pesawat Boeing 737 MAX 8 lepas landas dari Bandara Internasional Dubai sesuai jadwal.
Penerbangan berjalan normal hingga pesawat mencapai ketinggian jelajah sekitar 32.000 kaki saat melintasi ruang udara Yordania.
Anjlok 3000
Di dalam kokpit, Kapten Pilot yang berkewarganegaraan Arab Saudi sedang memegang kendali pesawat, sementara Kopilot berkewarganegaraan Oman mendampingi.
Tidak ada yang menduga bahwa rekan di sebelahnya justru membawa niat jahat.
Tiba-tiba, tanpa peringatan sebelumnya, Kopilot mengeluarkan senjata tajam dan langsung menyerang Kapten.
Ia menusuk rekan kerjanya itu berulang kali — tampaknya bermaksud melukai hingga tidak berdaya, lalu mengambil alih sepenuhnya kendali pesawat. Meski terluka parah, Kapten tidak menyerah.
Ia berjuang menahan serangan sambil tetap berpegangan pada kemudi pesawat. Perkelahian itu mengganggu keseimbangan penerbangan, sehingga pesawat turun secara drastis hampir 14.000 kaki dalam hitungan detik.
Kode 7500
Sistem otomatis pesawat mengirimkan kode darurat internasional 7500 — tanda bahwa pesawat sedang dibajak. Di kabin, penumpang merasakan jatuh bebas; kepanikan melanda seketika.
Pintu kokpit yang terbuka akibat perkelahian itulah yang menyelamatkan semuanya.
Melihat situasi genting, awak kabin bersama beberapa penumpang bergegas masuk ke kokpit, melumpuhkan Kopilot yang sedang menyerang, dan menahannya agar tidak bergerak lagi.
Karena Kapten terluka dan Kopilot telah dilumpuhkan, Pilot Cadangan yang kebetulan ikut dalam penerbangan segera mengambil alih kendali.
Ia menstabilkan pesawat yang masih bergejolak, mengembalikannya ke ketinggian aman, dan segera menghubungi menara pengawas untuk mencari bandara terdekat guna pendaratan darurat.
Bandara Pangeran Sultan bin Abdulaziz di Tabuk, Arab Saudi, menjadi tujuan pendaratan darurat.
Otoritas setempat segera memberi izin dan mengerahkan seluruh tim siaga di landasan.
Pesawat berhasil menyentuh tanah dengan selamat. Seluruh 174 penumpang dan kru dievakuasi tanpa korban jiwa.
Kapten yang terluka langsung dilarikan ke rumah sakit dan kondisinya dilaporkan stabil. Kopilot pelaku diserahkan kepada pihak berwenang Arab Saudi untuk menjalani proses hukum.
Motif
Hingga kini, nama-nama awak pesawat belum dirilis secara resmi demi penghormatan terhadap privasi dan kelancaran penyelidikan.
Motif di balik penusukan ini diduga mengarah pada paham radikal, namun otoritas masih menelusuri keterangan lebih lanjut.
Peristiwa ini memicu pemeriksaan menyeluruh terhadap prosedur keamanan kokpit dan pengecekan latar belakang awak pesawat di seluruh dunia.
Pembajakan Debelumnya
Sebelumnya, pada 24 Juni 2023, sebuah pesawat penumpang jenis A320 yang terbang dari Khartoum, Sudan menuju ke ibu kota Sudan lainnya, Port Sudan, sempat dilaporkan mengalami upaya pembajakan saat melintasi wilayah udara Sudan.
Pelaku diduga berusaha mengalihkan rute ke negara lain, namun pesawat akhirnya mendarat dengan selamat di Bandara Port Sudan tanpa korban jiwa, dan pelaku segera ditangkap pihak berwenang.
Di kawasan Asia Tenggara dan Indonesia sendiri, kasus pembajakan pesawat penumpang yang terekam dalam catatan resmi sudah jauh lebih lama.
Insiden terakhir yang berskala besar terjadi pada tahun 2004, ketika pesawat Garuda Indonesia penerbangan GA 670 jenis Boeing 737—400 yang terbang dari Jakarta menuju Makassar dibajak sekelompok orang bersenjata.
Peristiwa ini berakhir dengan penembakan salah satu pembajak di Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, dan seluruh penumpang selamat.
Sejak saat itu, selama lebih dari dua puluh tahun, tidak ada lagi kasus pembajakan pesawat komersial yang berhasil terjadi di ruang udara maupun yang berangkat dari wilayah Indonesia.
Dengan demikian, peristiwa di penerbangan FlyDubai FZ1073 pada 30 September 2026 ini kini menjadi kasus pembajakan pesawat udara paling mutakhir dan paling mengejutkan di dunia penerbangan internasional dalam beberapa tahun terakhir.
Terlebih karena pelakunya justru berasal dari dalam kokpit sendiri — sesama awak pesawat yang seharusnya menjaga keamanan penerbangan.
Hal ini menjadikan peristiwa tersebut berbeda dan jauh lebih mengkhawatirkan dibandingkan kasus pembajakan pada umumnya, sehingga memicu peninjauan kembali sistem keamanan kokpit secara global.
Kronologi
- Lepas Landas — Pesawat berangkat dari Bandara Internasional Dubai menuju Tel Aviv; semua prosedur berjalan normal.
- Di Ruang Udara Yordania — Saat berada di ketinggian jelajah 32.000 kaki, Kopilot tiba-tiba mengeluarkan senjata tajam dan menusuk Kapten Pilot.
- Perkelahian di Kokpit — Kapten terluka namun menahan serangan; pesawat turun drastis hampir 14.000 kaki; kode darurat 7500 terkirim otomatis.
- Dibantu Kru & Penumpang — Pintu kokpit terbuka; awak kabin dan penumpang masuk melumpuhkan Kopilot pelaku.
- Pilot Cadangan Mengambil Alih — Menstabilkan pesawat, mengembalikan ketinggian, meminta arahan pendaratan darurat.
- Dialihkan ke Tabuk — Bandara Pangeran Sultan bin Abdulaziz, Arab Saudi, disiapkan sebagai tempat pendaratan darurat.
- Mendarat dengan Selamat — Pesawat menyentuh landasan sekitar pukul 23.15 waktu setempat; 174 orang seluruhnya selamat.
- Penanganan di Darat — Kapten dirawat di rumah sakit; Kopilot diserahkan ke pihak berwenang; investigasi berlangsung.**

















