Penulis: Yusran Hakim | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, JAKARTA- Presiden Prabowo Subianto, 24 Januari 2026, pulang dari lawatan kerja selama lima hari ke Inggris, Swiss, dan Prancis, yang menghasilkan sejumlah kesepakatan strategis bernilai ekonomi tinggi.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyoroti komitmen investasi sektor maritim dari Inggris senilai 4 miliar poundsterling atau sekitar Rp90 triliun sebagai pencapaian utama.
Kunjungan dimulai di Inggris pada 20 Januari 2026 dengan pertemuan Presiden Prabowo dan PM Keir Starmer di 10 Downing Street, menghasilkan kesepakatan maritim termasuk pembangunan 1.582 kapal nelayan yang dirakit di Indonesia.
Perjalanan berlanjut ke Swiss, lalu Prancis pada 23 Januari untuk bertemu Presiden Emmanuel Macron di Istana Élysée, memperkuat kemitraan strategis di berbagai sektor.
Investasi Rp90 triliun ini bagian dari Maritime Partnership Programme (MPP) yang melibatkan perusahaan Babcock, menciptakan lapangan kerja di kedua negara serta mendukung galangan kapal dan revitalisasi nelayan Indonesia.
Kesepakatan ini melanjutkan komitmen G20 Afrika Selatan November 2025, dengan fokus pada pertahanan maritim dan ekonomi biru.
Selain maritim, lawatan membawa capaian di investasi, pendidikan, dan perdamaian global; Presiden kembali ke Indonesia pada 24 Januari 2026 via Garuda Indonesia.
Investasi Rp 90 Triliun
Investasi maritim senilai 4 miliar poundsterling (Rp90 triliun) dari Inggris difokuskan pada penguatan sektor kelautan Indonesia melalui Maritime Partnership Programme (MPP). Komitmen ini dipimpin perusahaan Babcock dan melanjutkan kesepakatan G20 2025.
Investasi utamanya dialokasikan untuk pembangunan 1.582 unit kapal nelayan (atau sekitar 1.500 unit menurut sumber lain), yang akan dirakit di galangan kapal Indonesia. Proyek ini mencakup produksi kapal tangkap ikan untuk mendukung nelayan lokal dan ekonomi biru.
Proyek diproyeksikan menyerap 600 ribu tenaga kerja: 30 ribu awak kapal, 400 ribu di produksi/perakitan, dan 170 ribu efek multiplier di sektor pendukung.
Di sisi Inggris, ini menciptakan 1.000 lapangan kerja baru, sambil memperkuat pertahanan maritim bilateral.
Proyek Inti
-
Pembangunan 1.582 kapal nelayan (atau sekitar 1.500 unit), dirakit di galangan kapal Indonesia untuk mendukung nelayan dan ekonomi biru.
-
Penguatan kemampuan maritim secara umum, termasuk peningkatan kapasitas angkatan laut dan revitalisasi industri galangan kapal.
Proyek ini diprediksi menyerap 600 ribu tenaga kerja Indonesia (30 ribu awak kapal, 400 ribu produksi, 170 ribu efek multiplier) serta 1.000 lapangan kerja di Inggris, melanjutkan kesepakatan G20 sebelumnya.
Peran Babcock
Perusahaan pertahanan ini memimpin Maritime Partnership Programme (MPP), menyediakan keahlian desain, teknik kapal, dan dukungan galangan kapal di lokasi seperti Rosyth, Bristol, dan Devonport. Mereka bertanggung jawab atas pembangunan 1.582 kapal nelayan yang dirakit di Indonesia, menciptakan sekitar 1.000 lapangan kerja di Inggris.
CEO Babcock, David Lockwood, menyebut program ini sebagai investasi strategis yang memperluas rantai pasok Inggris dan mendukung SME lokal. Kesepakatan ini melanjutkan komitmen G20 2025 dan memperkuat interoperabilitas maritim bilateral.
Investasi ini mengalir dari Inggris ke Indonesia, dengan produksi dan perakitan 1.582 kapal nelayan dilakukan di galangan kapal Indonesia, menciptakan 600 ribu lapangan kerja lokal.
Sementara itu, Inggris mendapatkan sekitar 1.000 lapangan kerja baru dari rantai pasok dan dukungan teknis, memperkuat kemitraan maritim tanpa investasi sebaliknya dari Indonesia.






