Penulis: Sri Muryanto | Editor: Priyo Suwarno
KREDONEWS.COM, TULUNGAGUNG— Bukan dari laporan panggilan darurat, bukan dari pencarian besar-besaran. Kepergian Deni Chandra Irawan (23) justru diketahui pertama kali oleh nelayan yang melihat sesosok tubuh mengapung di perairan Teluk Popoh, Sabtu sore pekan lalu, 3 Oktober 2026.
Di saat yang sama, barang-barang miliknya — tas berisi ijazah, KTP, hingga ponsel — ditemukan tersebar di titik-titik berbeda, memisahkan jejak langkahnya sebelum hilang.
Deni bukan orang Tulungagung. Ia pemuda asal Desa Mojowangi, Kecamatan Mojowarno, Jombang. Jarak yang ia tempuh ke Pantai Popoh bukan jarak yang dekat, 100 km.
Pamit Perpisahan
Dan yang membuat peristiwa ini menyentuh hati: sebelum menghilang, ia sempat berkomunikasi, menyampaikan kata perpisahan — namun tak seorang pun menyadari itu adalah tanda terakhir.
Kasi Humas Polres Tulungagung, Iptu Nanang Murdianto, mengonfirmasi peristiwa tersebut:
“Benar, kami menerima laporan penemuan jenazah di perairan Teluk Popoh pada Sabtu, 4 Oktober 2026 sekitar pukul 17.00 WIB. Setelah dilakukan identifikasi, diketahui yang bersangkutan adalah Deni Chandra Irawan, warga Mojowarno, Jombang.”
— Iptu Nanang Murdianto, Kasi Humas Polres Tulungagung.
Pemeriksaan lebih lanjut diuraikan oleh Aipda Sugapri, selaku Pelaksana Tugas Kepala Unit Identifikasi Tempat Kejadian Perkara (Ps Kanit Inafis) Sat Reskrim Polres Tulungagung.
“Berdasarkan pemeriksaan di tempat kejadian dan pemeriksaan fisik jenazah, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan maupun perkelahian. Tidak ada luka yang mencurigakan. Barang-barang milik korban ditemukan tersebar di beberapa lokasi, namun tidak ada indikasi tindak pidana.”
— Aipda Sugapri, Ps Kanit Inafis Sat Reskrim Polres Tulungagung
Pihak kepolisian secara resmi telah mengonfirmasi identitas korban melalui pemeriksaan ciri fisik, susunan gigi, serta pengenalan langsung oleh keluarga.
Tidak ditemukan tanda kekerasan pada tubuhnya. Tidak ada tanda perkelahian, tidak ada tanda penganiayaan. Sesuatu yang justru membuat kisah ini terasa lebih sepi: kepergiannya murni beban hati yang tak tertanggungkan lagi.
Berdasarkan keterangan yang terhimpun, Deni diketahui mengalami tekanan batin yang mendalam terkait hubungan asmara.
Kata perpisahan yang ia sampaikan kepada kerabatnya pada Minggu, 27 September — enam hari sebelum jasadnya ditemukan — kini menjadi jejak terakhir yang tersisa.
Barang-barang pribadinya ditemukan di lokasi yang berbeda: tas berisi ijazah di Pantai Banyu Muluk, KTP dan ponsel di wilayah Campurdarat.
Seolah-olah ia meletakkan satu per satu hal-hal yang melekat pada dirinya, sebelum pergi sepenuhnya.
Jenazah telah diserahkan kepada keluarga dan dibawa pulang ke Jombang untuk dimakamkan. Tidak ada keributan, tidak ada tuduhan — hanya duka yang tenang, namun dalam.
Kronologi
- Minggu, 27 September 2026 Deni terakhir kali berkomunikasi dengan teman, menyampaikan pamit — diduga mengalami kekecewaan mendalam dalam hubungan.
- Senin–Jumat, 28 Sep–2 Okt 2026 Hilang kontak. Barang-barang miliknya ditemukan tersebar: tas & ijazah di Pantai Banyu Muluk; KTP & ponsel di Campurdarat
- Sabtu, 3 Oktober 2026 ± 17.00 WIB Jasad ditemukan nelayan mengapung ±3 mil dari Pelabuhan Popoh. Tidak ada identitas di tubuh
- Sabtu–Minggu, 3–4 Oktober 2026 Evakuasi oleh Polairud, TNI AL, Polsek Besuki → dibawa ke RSUD dr. Iskak untuk identifikasi
- Senin, 5 Oktober 2026 Identitas dipastikan: Deni Chandra Irawan (23), warga Mojowangi, Mojowarno, Jombang. Keluarga mengenali ciri khusus & susunan gigi. Polres Tulungagung: tidak ada tanda kekerasan
- Selasa, 6 Oktober 2026 Jenazah diserahkan ke keluarga, dibawa pulang ke Jombang untuk dimakamkan.**

















